Naik Turunnya Iman dalam Ibadah Menurut Ustadz Adi Hidayat
Naik turunnya iman dalam ibadah bukan pertanda gagal, melainkan proses belajar menjadi stabil menurut Ustadz Adi Hidayat.

“Ada hari dimana kamu semangat ibadah, namun besoknya kamu kembali lalai. Itu bukan berarti kamu orang yang buruk, kamu hanya sedang belajar untuk stabil. Naik turunnya iman bukan pertanda kamu gagal, tapi tanda kamu masih terus berjuang.
— Ust. Adi Hidayat Dawuh dari Ustadz Adi Hidayat ini mengingatkan kita bahwa perjalanan dalam beribada
Ada hari dimana kamu semangat ibadah, namun besoknya kamu kembali lalai. Itu bukan berarti kamu orang yang buruk, kamu hanya sedang belajar untuk stabil. Naik turunnya iman bukan pertanda kamu gagal, tapi tanda kamu masih terus berjuang.
Pesan tersebut disampaikan sebagai pengingat bahwa perjalanan spiritual manusia memang tidak pernah berjalan datar. Dinamika dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta adalah hal yang sangat manusiawi untuk dialami siapa saja. Ketika seseorang merasakan gelora semangat beribadah yang tinggi, itu adalah karunia yang patut disyukuri. Namun, rasa semangat tersebut terkadang diikuti oleh masa-masa kejenuhan atau kelalaian di hari berikutnya.
Kondisi naik dan turunnya semangat ibadah sering kali membuat seseorang merasa cemas yang berlebihan. Tidak sedikit yang lantas menghakimi diri sendiri sebagai pribadi yang buruk akibat penurunan motivasi tersebut. Padahal, fluktuasi keyakinan di dalam hati merupakan bagian dari proses belajar untuk menemukan titik kestabilan. Mengalami masa lalai bukan berarti seseorang telah kehilangan seluruh nilai kebaikan yang pernah dikerjakannya.
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa fase fluktuasi ini sama sekali bukanlah sebuah kegagalan total. Sebaliknya, kondisi tersebut justru menunjukkan bahwa seseorang masih berada dalam proses perjuangan yang panjang. Orang yang sedang berjuang pasti akan menghadapi berbagai rintangan, termasuk rasa malas dan lalai. Selama seseorang masih memiliki niat untuk terus memperbaiki diri, proses itu tetap bernilai positif.
Istiqamah dalam pandangan hidup seorang Muslim sering kali disalahartikan sebagai kondisi tanpa cela yang berjalan konstan. Padahal, hakikat istiqamah yang sebenarnya adalah konsistensi untuk selalu kembali kepada jalan kebaikan setelah seseorang terjatuh. Jatuh dalam kelalaian adalah sebuah keniscayaan bagi manusia yang memiliki keterbatasan. Yang membedakan adalah bagaimana respons seseorang setelah menyadari kelalaian tersebut.
Sikap terbaik saat menghadapi masa-masa futur atau penurunan semangat adalah dengan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Perasaan bersalah yang wajar seharusnya diarahkan menjadi motivasi untuk segera bangkit dan memperbaiki ibadah. Manusia diciptakan dengan sifat yang dinamis, sehingga wajar jika kondisi hati mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Kesadaran ini akan membantu seseorang untuk lebih berlapang dada dalam menjalani proses hijrah.
Perjalanan memperbaiki diri memerlukan kesabaran yang ekstra karena tidak ada hasil instan dalam urusan hati. Setiap hari adalah lembaran baru untuk mencoba kembali taat setelah sebelumnya sempat tergelincir dalam kelalaian. Kesalahan masa lalu, sekecil apa pun itu, tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk berbuat baik di masa depan. Allah melihat usaha hamba-Nya yang tidak pernah lelah untuk kembali memohon ampun dan petunjuk.
Umat Islam diajak untuk terus merawat harapan dan tidak mudah menyerah dalam menggapai ridha Allah SWT. Evaluasi diri tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang proporsional agar tidak menimbulkan keputusasaan. Menerima kenyataan bahwa diri ini penuh kekurangan adalah langkah awal untuk menjadi pribadi yang lebih bijak. Dari situ, seseorang akan belajar untuk tidak sombong ketika taat dan tidak berputus asa ketika lalai.
Refleksi mendalam ini memberikan angin segar bagi siapa saja yang sedang merasa lelah dalam beribadah. Dinamika batin yang sedang dialami ternyata adalah bagian dari sunnatullah dalam menempa ketguhann jiwa manusia. Dengan memahami hakikat perjuangan ini, setiap individu diharapkan mampu melangkah dengan lebih tenang. Perjalanan panjang menuju kebaikan harus terus ditempuh dengan kesadaran penuh tanpa henti.
Pada akhirnya, proses belajar untuk stabil adalah sebuah perjalanan seumur hidup yang membutuhkan ketekunan. Setiap detik usaha untuk kembali taat adalah bukti nyata dari ketulusan hati seorang hamba. Perjuangan melawan hawa nafsu dan kelalaian akan terus berlangsung hingga akhir hayat seseorang. Mari terus saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran demi meraih kedamaian hidup di dunia dan akhirat.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram



