⚡ TERBARU
Quote

Kewajiban Orang Tua Mendidik Agama Anak Kata KH Abdul Ghofur

Kewajiban orang tua mendidik agama anak menurut pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur.

2 dibaca 0 dibagikan 4 menit baca
Suasana kegiatan di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan
“

Wani gawe anak kudu wani minterne anak (dalam hal agama), nek gak wani mending ora usah manak.

— Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur Dalam membangun rumah tangga, memiliki keturunan adalah anugerah terindah

Wani gawe anak kudu wani minterne anak (dalam hal agama), nek gak wani mending ora usah manak.

Dalam membangun sebuah rumah tangga yang harmonis, kehadiran buah hati selalu menjadi salah satu momen yang paling dinantikan oleh setiap pasangan suami istri. Berbagai persiapan dilakukan jauh-jauh hari untuk menyambut kedatangan anggota keluarga baru tersebut. Orang tua lazimnya sangat antusias menyediakan segala fasilitas duniawi, mulai dari kamar tidur yang nyaman, pakaian terbaik, hingga menyiapkan tabungan khusus untuk masa depan mereka. Segala daya dan upaya dikerahkan agar anak-anak kelak tumbuh dalam kecukupan materi dan fasilitas yang memadai.

Namun, di tengah kesibukan menyiapkan kebutuhan duniawi tersebut, terdapat sebuah pengingat yang sangat tegas dari Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Beliau adalah Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur yang memberikan pandangan mendalam mengenai esensi utama dari memiliki keturunan. Pesan ini menohok kesadaran kita bahwa tanggung jawab orang tua jauh melampaui sekadar pemenuhan sandang, pangan, dan papan. Keberanian seseorang untuk menghadirkan seorang anak ke dunia harus dibarengi dengan keberanian serta kesiapan penuh dalam mendidiknya.

Pendidikan yang dimaksud bukan sekadar kemampuan akademis di sekolah formal atau pencapaian prestasi dunia semata, melainkan pendidikan agama yang menjadi landasan hidup. Amanah besar yang ditaruh di pundak orang tua tidak akan pernah selesai hanya dengan memberikan fasilitas mewah. Tanggung jawab yang paling hakiki dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah adalah bagaimana cara orang tua mengenalkan anak kepada Tuhannya. Setiap anak harus diajarkan cara bersujud, memahami batas antara hal yang halal dan haram, serta dibekali dengan fondasi akhlak yang kokoh.

Pesan dari Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur ini menyadarkan kita bahwa membimbing anak dalam urusan agama merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Apabila orang tua sendiri merasa enggan untuk meluangkan waktu demi membimbing, memberikan teladan ibadah, dan memastikan anak-anak dekat dengan nilai-nilai agama, maka kehadiran mereka justru berpotensi menjadi beban pertanggungjawaban di akhirat. Anak bukanlah sekadar penerus silsilah keluarga atau lambang kebanggaan duniawi belaka, melainkan sebuah investasi akhirat yang kelak mendoakan orang tuanya.

Masa depan anak sangat bergantung pada seberapa besar perhatian yang diberikan oleh orang tua dalam hal penanaman nilai spiritual. Di tengah dinamika kehidupan zaman sekarang, tantangan dalam mendidik anak tentu semakin kompleks dan beragam. Kemajuan zaman dan teknologi membawa pengaruh tersendiri yang dapat mengalihkan perhatian anak dari nilai-nilai agama jika tidak diawasi dengan baik. Oleh karena itu, kehadiran orang tua sebagai pembimbing utama di dalam rumah menjadi benteng pertahanan yang paling awal dan utama.

Mendidik anak agar paham dan taat dalam urusan agama memang bukan perkara yang mudah serta membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Proses tersebut seringkali melelahkan dan menguras energi fisik maupun mental dalam keseharian. Kendati demikian, segala lelah dan letih dalam membimbing anak merupakan bentuk pengabdian terbaik seorang hamba kepada Sang Pencipta. Menjalankan amanah ini dengan penuh kesadaran akan mendatangkan keberkahan serta menempatkan orang tua pada kemuliaan di sisi-Nya.

Kesadaran ini mengajak setiap pasangan untuk merenungkan kembali niat dan kesiapan mereka sebelum memutuskan untuk memiliki keturunan. Memiliki anak bukan sekadar mengikuti tradisi atau memenuhi ekspektasi sosial di tengah masyarakat. Ada beban moral dan spiritual yang sangat besar yang harus diemban dengan penuh rasa tanggung jawab. Kesiapan mental dan spiritual harus berjalan seiring dengan kesiapan materi agar anak tidak hanya hidup secara fisik, tetapi juga hidup jiwanya dalam naungan agama.

Melalui dawuh yang disampaikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan tersebut, umat Islam diingatkan kembali mengenai prioritas dalam membina keluarga. Urusan mendidik anak dalam hal agama harus diletakkan pada posisi yang paling utama. Jangan sampai urusan dunia mengalahkan kepentingan akhirat yang justru menjadi penentu keselamatan kelak. Keseimbangan antara ikhtiar duniawi dan perhatian rohani akan menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga saleh dan berakhlak mulia.

Peran orang tua sebagai pendidik pertama di lingkungan keluarga menuntut keterlibatan secara aktif dan langsung. Keteladanan sehari-hari yang ditunjukkan oleh ayah dan ibu jauh lebih berkesan di hati anak daripada sekadar nasihat lisan. Ketika anak melihat kedua orang tuanya tekun beribadah dan menjunjung tinggi nilai agama, mereka akan dengan senang hati menirunya. Sebaliknya, pengabaian terhadap pendidikan agama di lingkungan terdekat akan menciptakan jarak antara anak dan nilai-nilai ketuhanan yang seharusnya mereka junjung tinggi.

Pada akhirnya, dawuh dari Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur ini menjadi cermin bagi siapa saja yang sedang or akan menjadi orang tua. Menyiapkan masa depan anak tidak cukup hanya dengan harta benda yang berlimpah ruah. Bekas didikan agama yang tertanam kuat di dalam dada anak akan menjadi pelita bagi kehidupan mereka di masa depan. Menjalankan amanah mendidik anak dengan sungguh-sungguh adalah wujud nyata kecintaan orang tua, baik selama di dunia maupun sebagai bekal kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram

PROFIL PENULIS

Dawuh Guru

Kontributor Penerbit Dawuh Guru.