⚡ TERBARU
Quote

Keceriaan dan Penerimaan Takdir Allah Menurut Gus Baha

Pelajari makna rida dan cara menerima takdir Allah dengan ceria melalui pandangan bijak KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.

1 dibaca 0 dibagikan 2 menit baca
Ilustrasi pengingat hikmah tentang menerima takdir Allah dengan senyuman dan keceriaan
“

Hidup itu harus ceria seolah-olah kita menerima takdir Allah dengan senang. Kalau cemberutkan kelihatan banget kalau gak nerima takdir Allah.

— KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha’) Sering kali saat menghadapi ujian, masalah, atau keadaan ya

Hidup itu harus ceria seolah-olah kita menerima takdir Allah dengan senang. Kalau cemberutkan kelihatan banget kalau gak nerima takdir Allah.

Sering kali saat menghadapi ujian, masalah, atau keadaan yang tidak sesuai dengan rencana, ekspresi pertama yang muncul di wajah kita adalah keluhan, kekecewaan, atau bibir yang menekuk. Manusia secara naluriah merasa berhak untuk menunjukkan kekesalan ketika hidup terasa tidak adil dan tidak berjalan mulus sesuai harapan awal mereka.

Melalui gaya khasnya yang santai namun menohok, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha mengingatkan kita pada hakikat keimanan yang paling dasar, yaitu rida atau keikhlasan dalam menerima segala ketetapan Allah.

Wajah yang selalu cemberut dan keluhan yang terus-menerus keluar dari lisan bukan sekadar tanda lelah secara fisik semata. Lebih dari itu, hal tersebut merupakan cerminan batin yang secara tidak sadar sedang memprotes takdir yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.

Sebaliknya, menampilkan keceriaan dan ketegaran di tengah badai kehidupan bukanlah sebuah bentuk kepura-puraan. Sikap tersebut justru menjadi wujud nyata dari husnuzhan atau prasangka baik kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Menjalani takdir dengan senyuman adalah cara hamba berkata kepada Tuhannya bahwa ia ridha dengan apa pun yang digariskan. Keyakinan mendalam ini berakar dari pemahaman bahwa pilihan Allah pasti merupakan jalan yang terbaik bagi hamba-Nya.

Dunia ini memang tidak pernah sepi dari berbagai persoalan pelik, dan rasa sedih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari fitrah manusia. Akan tetapi, memelihara cemberut dan kekecewaan hanya akan membuat beban di dada terasa semakin berat untuk dipikul.

Oleh karena itu, setiap individu diajak untuk belajar berdamai dengan keadaan yang ada di hadapan mereka. Menyambut ketetapan-Nya dengan dada yang lapang adalah kunci utama dalam menjalani hari-hari yang penuh dinamika.

Ketenangan jiwa yang sejati tidak akan pernah lahir dari amarah atau protes yang berkepanjangan terhadap nasib. Ketenangan tersebut hanya akan muncul dari hati yang ikhlas menerima segala ketentuan-Nya dengan senyuman dan kelapangan dada.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram

PROFIL PENULIS

Dawuh Guru

Kontributor Penerbit Dawuh Guru.