Metode Membaca Kitab KH. Syihabuddin Syifa untuk Ilmu
Pelajari tiga metode membaca buku dan kitab dari KH. Syihabuddin Syifa untuk merasakan manisnya ilmu atau halawatulilmi dalam aktivitas literasi.

“Bacalah buku/kitabmu dengan 3 metode: membaca untuk mengetahui, menikmati dan mendalami (lililmi walistimta' wattahqiq), dengan begitu engkau akan bisa merasakan halawatulilmi (manisnya ilmu).
— KH. Syihabuddin Syifa Dalam rutinitas membaca, kita sering kali terjebak pada target kuantitas: sebe
Bacalah buku/kitabmu dengan 3 metode: membaca untuk mengetahui, menikmati dan mendalami (lililmi walistimta' wattahqiq), dengan begitu engkau akan bisa merasakan halawatulilmi (manisnya ilmu).
Dalam rutinitas membaca sehari-hari, kita sering kali terjebak pada target kuantitas yang melelahkan. Seringkali ukuran keberhasilan dibatasi oleh seberapa cepat sebuah buku habis dibaca. Tidak jarang pula kita merasa harus menyelesaikan target halaman tertentu setiap harinya tanpa jeda. Akibat pola pikir tersebut, aktivitas membaca akhirnya berubah wujud menjadi beban. Kegiatan literasi yang mulia justru terasa melelahkan dan sekadar menjadi sebuah tuntutan harian.
Dawuh dari KH. Syihabuddin Syifa hadir untuk mengingatkan kembali tentang seni yang benar. Beliau menuntun kita memahami tahapan yang tepat dalam berinteraksi dengan ilmu pengetahuan. Melalui pandangan ini, aktivitas membaca tidak lagi diposisikan sebagai beban yang berat. Sebaliknya, proses menimba ilmu dapat bertransformasi menjadi sebuah rekreasi ruhani yang membahagiakan bagi siapa saja yang menjalankannya secara sadar.
Perumusan tiga tangga membaca ini dirancang agar pembaca tidak merasa tertekan oleh target halaman. Tahapan pertama yang diajarkan adalah membaca lil-ilmi atau bertujuan untuk mengetahui. Pada fase awal ini, fokus utama pembaca adalah mengenali informasi dasar yang disajikan. Wawasan pun mulai terbuka dan diperluas melalui pengenalan materi-materi baru yang belum pernah ditemui sebelumnya dalam lembaran-lembaran teks.
Setelah fase mengenali terlewati, tahapan berikutnya adalah membaca wal-istimta’ yang berarti untuk menikmati. Di titik ini, seseorang mulai meresapi alur bacaan secara lebih santai dan tenang. Keindahan bahasa serta berbagai hikmah yang tersimpan di dalam teks mulai dirasakan perlahan. Pembaca tidak lagi tergesa-gesa membalik halaman demi segera merampungkan buku, melainkan menikmati setiap proses penjelajahan makna yang ada.
Puncak dari seluruh rangkaian proses literasi ini adalah wat-tahqiq atau membaca untuk mendalami dan meneliti. Pada tahap yang lebih mendalam tersebut, ilmu yang dipelajari mulai masuk ke dalam akal dan batin pembaca. Substansi dari isi bacaan dipahami secara utuh dan menyeluruh. Pengetahuan yang didapat kemudian diikat dengan kuat agar tidak mudah lepas dari ingatan dan pemahaman seseorang.
Ketika seseorang sudah terbiasa menerapkan tiga metode tersebut secara konsisten, dinamika menuntut ilmu akan terasa berbeda. Aktivitas membaca tidak lagi mendatangkan kelelahan fisik maupun kejenuhan mental. Sebaliknya, pembaca akan diantarkan menuju satu titik istimewa yang sangat diidamkan. Titik pencapaian tersebut dikenal dengan istilah halawatul ‘ilmi, sebuah keadaan di mana seseorang mulai mengecap manisnya ilmu yang sesungguhnya.
Dalam kondisi mengecap halawatul ‘ilmi, hati seseorang akan senantiasa merasa haus. Ada kerinduan yang mendalam untuk terus belajar dan menelaah berbagai pengetahuan baru. Kelezatan yang dirasakan dari proses menuntut ilmu ini bahkan melampaui segala bentuk kenikmatan duniawi apa pun. Semangat belajar tumbuh secara organik dari dalam diri tanpa perlu paksaan dari pihak luar mana pun.
Pesan berharga mengenai seni membaca ini mengajak setiap individu untuk merenungkan kembali niat dan cara mereka berinteraksi dengan buku. Evaluasi terhadap kebiasaan membaca harian menjadi hal penting agar literasi tidak kehilangan ruhnya. Dengan memahami tiga tahapan yang telah dirumuskan, perjalanan menuntut ilmu bisa dilalui dengan rasa syukur dan kebahagiaan batin yang utuh.
Refleksi atas dawuh ulama ini sangat relevan bagi siapa saja yang ingin memperbaiki kualitas hubungan mereka dengan sumber-sumber pengetahuan. Buku dan kitab bukan lagi sekadar tumpukan kertas yang harus diselesaikan, melainkan jendela peradaban. Melalui pendekatan yang tepat, setiap lembaran yang dibaca akan mendatangkan ketenangan sekaligus memperkaya kedalaman jiwa pembacanya dari waktu ke waktu.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram



