⚡ TERBARU
Quote

Khosyah dan Ketinggian Ilmu Menurut KH. M. Ihya’ Ulumiddin

Ketinggian ilmu seseorang tidak menjamin keselamatannya di akhirat, yang bisa menjaminnya adalah rasa khosyah kepada Allah.

9 dibaca 0 dibagikan 3 menit baca
Ilustrasi pengingat tentang pentingnya rasa khosyah dalam menuntut ilmu agama
“

Ketinggian ilmu seseorang tidak menjamin keselamatannya di akhirat, yang bisa menjaminnya adalah rasa khosyah (takutnya) kepada Alloh.

— KH. M. Ihya’ Ulumiddin Dalam menuntut ilmu atau menjalani kehidupan beragama, kita sering kali meras

Ketinggian ilmu seseorang tidak menjamin keselamatannya di akhirat, yang bisa menjaminnya adalah rasa khosyah (takutnya) kepada Alloh.

Pernyataan tersebut merupakan sebuah pengingat yang sangat mendalam bagi siapa saja yang tengah berproses dalam menuntut ilmu agama. Sering kali manusia merasa aman ketika sudah menguasai berbagai macam disiplin ilmu dan dalil. Tumpukan pengetahuan yang dimiliki kerap disangka sebagai tiket utama untuk selamat di hadapan Allah SWT. Padahal, pemahaman yang keliru ini bisa membuat seseorang menjadi lengah terhadap esensi ibadah yang sesungguhnya.

Dawuh dari KH. M. Ihya’ Ulumiddin ini hadir untuk meruntuhkan asumsi keliru bahwa kuantitas ilmu berbanding lurus dengan keselamatan akhirat. Ilmu setinggi apa pun, gelar akademis yang luas, atau hafalan yang sangat banyak tidak akan membawa arti apa-apa di akhirat kelak. Seluruh pencapaian intelektual tersebut akan menjadi hampa jika tidak diiringi dengan hadirnya rasa khosyah di dalam dada. Khosyah sendiri dipahami sebagai rasa takut yang disertai dengan pengagungan yang mendalam serta rasa cinta kepada Sang Pencipta.

Sebagai sebuah refleksi, sejarah spiritual telah memberikan contoh yang sangat nyata melalui sosok Iblis. Makhluk tersebut dulunya memiliki ilmu yang luar biasa luas serta kedudukan yang sangat tinggi di langit. Namun, keluasan ilmu yang dimilikinya tidak mampu menyelamatkannya dari kutukan. Iblis tetap menjadi makhluk yang terlaknat karena ilmunya gagal melahirkan ketundukan. Pengetahuan yang ia miliki tidak serta-merta menumbuhkan rasa takut dan kepatuhan mutlak kepada Allah.

Sebaliknya, keselamatan justru sering kali didapatkan oleh mereka yang memiliki kadar ilmu yang sederhana. Orang-orang dengan ilmu yang tidak terlalu tinggi namun hatinya dipenuhi oleh rasa takut kepada Allah akan jauh lebih berhati-hati. Mereka senantiasa menjaga diri dari perbuatan maksiat dalam keseharian. Kesadaran bahwa diri selalu diawasi oleh Sang Pencipta membuat mereka enggan untuk melanggar aturan-aturan-Nya.

Fenomena ini menegaskan bahwa ukuran keberhasilan dalam menuntut ilmu bukanlah seberapa banyak hafalan yang menumpuk di kepala. Ilmu yang bermanfaat juga tidak diukur dari seberapa sering seseorang menjadikannya sebagai bahan perdebatan. Ilmu yang benar adalah ilmu yang berhasil melembutkan hati pemiliknya. Pengetahuan agama yang merasuk ke dalam jiwa akan melahirkan kerendahan hati yang tulus.

Ketika ilmu berhasil menjalankan fungsinya dengan baik, seseorang akan merasa semakin takut untuk berbuat sembarangan. Ia tidak akan meremehkan dosa sekecil apa pun karena menyadari kebesaran Allah. Proses belajar yang dijalani pada akhirnya membentuk pribadi yang senantiasa mawas diri. Kesadaran spiritual seperti inilah yang menjadi inti dari dawuh yang disampaikan oleh sang kyai.

Oleh karena itu, setiap penuntut ilmu perlu terus mengevaluasi niat dan kondisi batin mereka masing-masing. Jangan sampai pengetahuan yang dipelajari justru menumbuhkan rasa bangga diri yang berlebihan. Merasa diri paling pintar atau paling paham agama adalah sebuah jebakan batin yang berbahaya. Rasa khosyah harus senantiasa dipupuk berdampingan dengan proses pencarian ilmu agar tidak salah arah.

Pada akhirnya, keselamatan di akhirat adalah milik hamba-hamba yang hatinya tunduk. Kecerdasan intelektual tanpa dibarengi kelembutan hati dan rasa takut kepada Allah hanya akan menjadi beban. Semoga pengingat ini mampu meluruskan kembali orientasi kita dalam menjalani kehidupan beragama. Mari jadikan setiap ilmu yang dipelajari sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri dan mencintai Allah SWT.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram

PROFIL PENULIS

Dawuh Guru

Kontributor Penerbit Dawuh Guru.