⚡ TERBARU
Quote

Peran Kasih Sayang Ayah dan Murobbi dalam Mendidik

Meneladani profil pendidik sejati penuh kasih sayang, nasihat, dan ghiroh untuk membimbing anak serta santri menuju kebaikan.

8 dibaca 0 dibagikan 3 menit baca
Ilustrasi pendidik dan santri dalam proses menuntut ilmu agama
“

Sesungguhnya seorang ayah yang penuh dengan kasih sayang, murobbi yang memberi nasehat, dan mursyid yang memiliki ghiroh, akan membersamai anak-anak dan santri-santrinya untuk menapaki setiap perantara-perantara yang tujuannya adalah untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan dan kebaikan-kebaikan.

— Abuya Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawi al-Maliki Dalam perjalanan menumbuhkan karakter, ilmu, dan

Sesungguhnya seorang ayah yang penuh dengan kasih sayang, murobbi yang memberi nasehat, dan mursyid yang memiliki ghiroh, akan membersamai anak-anak dan santri-santrinya untuk menapaki setiap perantara-perantara yang tujuannya adalah untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan dan kebaikan-kebaikan.

Sesungguhnya seorang ayah yang penuh dengan kasih sayang, murobbi yang memberi nasehat, dan mursyid yang memiliki ghiroh, akan membersamai anak-anak dan santri-santrinya untuk menapaki setiap perantara-perantara yang tujuannya adalah untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan dan kebaikan-kebelikan.

Dalam perjalanan hidup yang panjang, proses menumbuhkan karakter, ilmu, dan keimanan pada diri seorang anak atau penuntut ilmu bukanlah perkara yang mudah. Mereka tentu tidak bisa dibiarkan berjalan sendirian tanpa adanya arah yang jelas di tengah berbagai tantangan zaman.

Sebab itulah kehadiran seorang sosok penuntun menjadi kebutuhan yang sangat mendasar bagi setiap generasi muda. Mereka membutuhkan figur yang tidak sekadar mengajar di dalam kelas, melainkan benar-benar merawat jiwa dengan ketulusan yang mendalam.

Dawuh yang disampaikan oleh Abuya Sayyid Ahmad al-Maliki tersebut melukiskan dengan sangat indah profil dari seorang pendidik sejati. Beliau digambarkan memiliki peran yang sangat komprehensif dan menyentuh berbagai aspek pembinaan jiwa manusia.

Sosok tersebut diibaratkan bagaikan seorang ayah yang senantiasa mencurahkan kasih sayang tanpa batas kepada anak-anaknya. Kasih sayang ini menciptakan rasa aman, kedekatan emosional, serta kenyamanan bagi siapa saja yang berada di sekitarnya.

Selain itu, beliau juga bertindak sebagai seorang murobbi yang penuh kesabaran dalam membimbing dengan berbagai nasihat menyejukkan. Nasihat-nasihat tersebut hadir untuk meluruskan langkah serta menenangkan hati yang sedang gundah dalam menuntut ilmu.

Tidak hanya berhenti pada peran pengasuhan dan pengajaran, pendidik sejati juga digambarkan sebagai seorang mursyid yang memiliki ghiroh. Ghiroh atau semangat serta rasa cemburu dalam membela kebaikan ini menjadi pendorong yang kuat untuk mengarahkan murid kepada jalan rida Allah.

Keberadaan guru atau orang tua dengan profil yang lengkap seperti inilah yang kemudian menjadi jembatan keselamatan yang kokoh. Mereka hadir bukan hanya untuk mentransfer pengetahuan kognitif semata, melainkan mengawal proses pembentukan kepribadian secara utuh.

Mereka senantiasa menemani setiap jengkal langkah, merangkul dengan kehangatan, serta menuntun generasi muda untuk menapaki tangga-tangga kemuliaan. Tujuannya jelas, yakni menjauhkan dari segala bentuk keburukan dan mendekatkan pada setiap kebaikan yang diridai-Nya.

Proses mendidik yang sesungguhnya memang tidak pernah sekadar tentang mengisi kepala dengan berbagai teori ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, pendidikan adalah upaya menghidupkan hati nurani dengan teladan yang nyata dan cinta kasih yang tulus.

Melalui pendampingan yang tepat dari figur yang tepat, anak-anak dan para santri diharapkan mampu melewati setiap proses belajar dengan baik. Mereka dapat menyerap nilai-nilai luhur yang disampaikan melalui keteladanan sehari-hari dari guru mereka.

Oleh karena itu, peran seorang pembimbing yang memiliki kasih sayang, nasihat yang menyejukkan, dan ghiroh yang kuat sangatlah menentukan arah masa depan. Kehadiran mereka menjadi penopang utama dalam mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram

PROFIL PENULIS

Dawuh Guru

Kontributor Penerbit Dawuh Guru.