Merenungkan Dawuh Gus Dur tentang Hinaan dan Pujian Manusia
Refleksi mendalam dari dawuh Abdurrahman Wahid mengenai ketenangan batin dalam menghadapi pujian serta hinaan manusia.

“Orang Yang Masih Terganggu Dengan Hinaan Dan Pujian Dari Manusia, Dia Masih Hamba Yang Amatiran".
Orang Yang Masih Terganggu Dengan Hinaan Dan Pujian Dari Manusia, Dia Masih Hamba Yang Amatiran".
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Abdurrahman Wahid untuk mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga ketenangan jiwa. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali terjebak dalam pusaran opini publik yang tidak pernah ada habisnya. Ketika mendapatkan sanjungan, hati kerap merasa berbunga-bunga dan melambung tinggi. Sebaliknya, saat menerima cacian atau kritik pedas, pikiran langsung berputar keras hingga mengganggu waktu istirahat malam. Tanpa disadari, respons semacam itu menunjukkan bahwa kita telah menyerahkan kendali ketenangan hati kepada penilaian orang lain. Padahal, standar manusia bersifat sangat subjektif dan mudah berubah seiring waktu.
Sikap terlalu memikirkan perkataan orang lain hanya akan melelahkan batin dan menguras energi mental. Padahal, realitasnya tidak semua pujian yang diberikan menandakan bahwa diri kita benar di hadapan Tuhan. Demikian pula, tidak semua hinaan yang dilontarkan berarti kita berada di jalur yang salah. Penilaian sesama manusia sering kali dilandasi oleh sudut pandang yang terbatas, kepentingan sesaat, atau bahkan rasa suka dan tidak suka. Oleh karena itu, menjadikan omongan orang luar sebagai tolok ukur utama adalah sebuah kekeliruan yang membuang-buang waktu.
Langkah terbaik yang bisa diambil adalah terus berfokus pada upaya memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Setiap nasihat yang membangun dan membawa kebaikan tentu patut diterima sebagai bahan instropeksi. Namun, segala perkataan negatif yang sifatnya sekadar menjatuhkan mental sebaiknya diabaikan begitu saja. Manusia tidak perlu merespons setiap suara miring yang ditujukan kepada mereka di ruang publik. Kedewasaan seseorang tidak diukur dari hilangnya rasa emosional, melainkan dari kemampuannya mengelola perasaan tersebut agar tidak mendikte langkah hidup.
Ketika seseorang telah mencapai tingkat kematangan spiritual tertentu, harga diri mereka tidak lagi ditentukan oleh omongan tetangga atau publik. Mereka memahami bahwa usaha mengejar pengakuan dari seluruh umat manusia adalah hal yang mustahil untuk dituntaskan. Standar hidup yang berporos pada kepuasan orang lain hanya akan melahirkan kecemasan tiada akhir. Oleh sebab itu, penting bagi setiap individu untuk membebaskan diri dari ketergantungan terhadap validasi sosial. Ketenangan batin yang sejati hanya akan lahir ketika seseorang menyandarkan orientasi hidupnya hanya kepada penilaian Sang Pencipta semata.
Refleksi ini mengajak kita untuk kembali merenungkan sejauh mana kita membiarkan komentar luar memengaruhi suasana hati. Apakah kita masih sering merasa sedih berhari-hari hanya karena sebuah hinaan kecil? Atau justru terlalu terlena oleh pujian yang bisa melunturkan keikhlasan beramal? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk diajukan kepada diri sendiri guna mengukur ketahanan mental dan spiritual. Belajar untuk tidak baper terhadap dinamika sosial adalah proses panjang yang membutuhkan latihan konsisten setiap harinya.
Perjalanan batin untuk menjadi pribadi yang lebih matang menuntut kita untuk bersikap lebih bijak dalam menyaring informasi. Dunia luar akan selalu memproduksi berbagai macam komentar, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan hati. Tugas kita bukanlah menutup mulut setiap orang agar tidak berbicara, melainkan memperkuat pertahanan internal agar tidak mudah goyah. Dengan cara pandang seperti ini, hidup akan terasa jauh lebih ringan dan bermakna tanpa beban ekspektasi orang lain.
Pada akhirnya, dawuh dari Abdurrahman Wahid ini berfungsi sebagai rem pengingat bagi siapa saja yang sedang berproses. Menjadi hamba yang tidak amatiran berarti mengerti ke mana seharusnya arah ketundukan hati diletakkan. Mari terus belajar melangkah dengan prinsip yang teguh, mengambil hikmah dari setiap teguran, dan mengabaikan hal-hal yang tidak esensial bagi pertumbuhan jiwa. Hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan hanya untuk memikirkan penilaian mereka yang datang dan pergi.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram



