⚡ TERBARU
Quote

Tanggung Jawab Suami dan Dosa Terbesar Laki-Laki di Akhirat

Gus Abdul Mun'im mengingatkan bahwa dosa terbesar laki-laki di hadapan Allah adalah membiarkan istri tidak menjalankan perintah agama.

3 dibaca 0 dibagikan 2 menit baca
Ilustrasi pengingat tanggung jawab suami dalam membimbing istri menjalankan perintah agama
“

Dosa terbesar bagi laki-laki yang kelak dibawa kehadapan Allah, adalah ketika ia membiarkan istrinya tidak menjalankan perintah agama.

— Gus Abdul Mun'im Dalam pernikahan, seorang suami sering kali mengira bahwa kewajiban tertingginya ha

Dosa terbesar bagi laki-laki yang kelak dibawa kehadapan Allah, adalah ketika ia membiarkan istrinya tidak menjalankan perintah agama.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gus Abdul Mun’im sebagai sebuah teguran keras sekaligus pengingat batin bagi para laki-laki yang mengemban amanah sebagai kepala rumah tangga. Dalam dinamika pernikahan, seorang suami terkadang terjebak pada pemikiran bahwa kewajiban utamanya hanyalah mencukupi kebutuhan materi semata. Tanggung jawab sering kali diukur dari kemampuan menyediakan tempat tinggal yang nyaman, makanan yang layak, serta gaya hidup yang berkecukupan bagi keluarga.

Namun, di balik semua pencapaian duniawi tersebut, ada satu tanggung jawab yang jauh lebih berat dan sering kali tidak disadari, yaitu tanggung jawab akhirat. Kelalaian terbesar seorang pemimpin keluarga di hadapan Allah bukanlah kegagalannya dalam membelikan perhiasan dunia, melainkan ketika ia memilih diam, mewajarkan, dan membiarkan pasangannya melalaikan kewajiban agama yang mendasar.

Kewajiban agama yang dimaksud mencakup hal-hal prinsipil seperti menegakkan shalat atau menutup aurat sesuai ajaran Islam. Ketika seorang suami acuh tak acuh terhadap kewajiban istrinya tersebut, di situlah letak beban pertanggungjawaban yang sangat berat menanti di akhirat kelak.

Menjadi seorang imam keluarga berarti harus siap bertindak sebagai nakhoda yang mengarahkan seluruh anggota keluarganya menuju tujuan akhir yang sama, yakni keselamatan dan surga. Peran ini menuntut kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada kehidupan dunia, tetapi juga keselamatan rohani.

Ketegasan seorang suami dalam membimbing urusan agama bukanlah bentuk pengekangan hak asasi atau kebebasan pribadi. Sebaliknya, sikap tegas tersebut merupakan wujud cinta yang paling sejati dan tulus dari seorang pendamping hidup.

Cinta yang hakiki tercermin dari rasa tidak rela seorang suami ketika melihat kening istrinya jauh dari tempat sujud. Suami yang mencintai istrinya dengan benar juga tidak akan tega membiarkan keluarganya kelak tersentuh oleh siksa api neraka.

Oleh karena itu, proses mendidik dan membimbing keluarga harus senantiasa dilakukan dengan penuh kelembutan, kesabaran, serta pemberian teladan yang baik. Keteladanan dari seorang pemimpin rumah tangga memegang peranan penting agar nasihat yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh hati pasangan.

Pesan ini sekaligus menjadi refleksi bahwa setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban secara penuh atas orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Tanggung jawab kepemimpinan rumah tangga tidak berhenti pada batas usia dunia, melainkan berlanjut hingga yaumul hisab.

Melalui pengingat ini, para suami dan calon suami diajak untuk kembali mengevaluasi prioritas dalam membina rumah tangga. Keseimbangan antara ikhtiar mencari nafkah lahiriah dan penjagaan terhadap aspek batiniah serta agama keluarga menjadi kunci utama keselamatan bersama.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram

PROFIL PENULIS

Dawuh Guru

Kontributor Penerbit Dawuh Guru.