⚡ TERBARU
Quote

Makna Pesan Mbah Moen tentang Santri dan Al-Qur’an

Petuah Syaikhina KH. Maimoen Zubair mengingatkan pentingnya menjaga tradisi mengaji dan mendudukkan Al-Qur'an sebagai ilmu, bukan sekadar bacaan rutinitas.

6 dibaca 0 dibagikan 5 menit baca
Dawuh KH Maimoen Zubair mengenai tanda santri dan tradisi mengaji Al-Qur'an

Makna Sejati Identitas Santri dalam Tradisi Ngaji

Keberadaan seorang santri tidak semata-mata ditentukan oleh atribut fisik atau status sosial yang disandangnya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pandangan ulama, ciri utama yang menjadi penanda otentik dari seorang santri adalah ketekunannya dalam menjalankan tradisi mengaji. Mengaji merupakan urat nadi kehidupan rohani yang menghubungkan seorang murid dengan khazanah keilmuan Islam yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Pesan mendalam mengenai jati diri santri ini pernah disampaikan oleh ulama kharismatik, Syaikhina KH. Maimoen Zubair. Dalam pengajian rutin Ahadan pembahasan Tafsir Jalalain pada tanggal 06 Desember 2015, beliau menegaskan bahwa tanda utama dari seorang santri terletak pada aktivitas mengaji. Tanpa adanya semangat untuk terus menuntut ilmu agama, identitas kesantrian akan kehilangan makna dasarnya yang paling hakiki.

Tradisi mengaji bukan sekadar kegiatan rutin mengisi waktu luang, melainkan sebuah komitmen seumur hidup untuk memperbaiki kualitas diri dan memperdalam pemahaman keagamaan. Melalui proses belajar yang konsisten, seorang santri dibentuk untuk memiliki ketajaman mata hati, keluhuran akhlak, serta pemahaman syariat yang mendalam. Oleh karena itu, keberlanjutan tradisi ini menjadi syarat mutlak bagi kelangsungan nilai-nilai pesantren di tengah masyarakat.

Dilema Modernitas dan Pergeseran Orientasi Pendidikan

Seiring dengan berjalannya waktu dan pesatnya arus modernisasi, pola pikir masyarakat terhadap pendidikan mengalami perubahan yang sangat signifikan. Saat ini, semakin banyak orang yang lebih memprioritaskan pendidikan formal demi mengejar ijazah dan gelar sarjana. Fenomena ini menyebabkan porsi perhatian terhadap kegiatan mengaji secara tradisional menjadi semakin tersisih dan berkurang dibanding masa-masa sebelumnya.

Syaikhina KH. Maimoen Zubair mencermati fenomena pergeseran sosial ini dengan memberikan pengingat yang sangat tajam bagi umat Islam. Beliau menyampaikan realitas bahwa di zaman sekarang, keberadaan orang yang benar-benar mengaji sudah semakin menipis karena mayoritas masyarakat lebih memilih jalur sekolah formal demi gelar akademik. Kondisi ini menjadi cerminan dari perubahan prioritas hidup yang lebih berorientasi pada capaian-capaian duniawi.

Mengejar pendidikan tinggi dan meraih gelar sarjana tentu merupakan hal yang positif serta memiliki manfaat besar bagi kehidupan sosial dan profesional. Namun, permasalahan timbul ketika pencapaian akademik tersebut membuat seseorang mengesampingkan kewajiban utama untuk mempelajari agama. Idealnya, tingginya pendidikan formal yang dimiliki seseorang harus berjalan selaras dengan ketekunan dalam mendalami ilmu keagamaan.

Ketidakseimbangan antara pencapaian ilmu duniawi dan pemahaman ilmu agama dapat memicu ketimpangan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika gelar akademik dijadikan satu-satunya tolok ukur kesuksesan, nilai-nilai keikhlasan dan kerendahan hati yang diajarkan dalam tradisi mengaji berisiko tergeser. Hal inilah yang menjadi perhatian utama para ulama dalam menjaga benteng keilmuan Islam.

Bahaya Degradasi Al-Qur’an Menjadi Sekadar Bacaan

Poin paling krusial dari petuah Syaikhina KH. Maimoen Zubair adalah peringatan mengenai kapan tradisi mengaji akan benar-benar habis dan musnah. Beliau menegaskan bahwa orang yang mengaji bakal habis apabila Al-Qur’an tidak lagi dianggap sebagai sebuah disiplin ilmu. Ketika kitab suci hanya diposisikan sebagai sekadar bahan bacaan atau materi semakan semata, pada dasarnya hakikat mengaji telah sirna.

Menganggap Al-Qur’an hanya sebagai wacanan atau teks yang dilantunkan tanpa dipahami kandungannya merupakan sebuah bentuk penyempitan fungsi Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca indah suara lagunya, melainkan sebagai sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan dan petunjuk hidup bagi manusia. Jika Al-Qur’an dipisahkan dari kedudukannya sebagai ilmu, maka proses pembelajaran agama akan kehilangan kedalamannya.

Demikian pula ketika Al-Qur’an hanya diperlakukan sebagai semakan atau bahan simak hafalan tanpa adanya upaya untuk mendalami tafsir dan hukum-hukumnya. Proses menyimak memang bagian dari metode menjaga kelestarian bacaan, tetapi tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Tanpa adanya penggalian makna, tadabbur, dan pemahaman yang komprehensif, Al-Qur’an tidak akan mampu menjadi penuntun dalam menghadapi kompleksitas zamannya.

Pengabaian terhadap aspek keilmuan Al-Qur’an inilah yang mengancam keberlangsungan tradisi mengaji yang hakiki. Saat masyarakat merasa cukup hanya dengan mendengarkan atau membaca tanpa mau mempelajari tafsiran dan pengamalannya, maka esensi dari menuntut ilmu agama telah mengalami kemunduran yang serius. Keadaan inilah yang disinyalir oleh Mbah Moen sebagai tanda habisnya tradisi mengaji.

Kedudukan Al-Qur’an sebagai Samudra Ilmu Pengetahuan

Al-Qur’an merupakan samudra petunjuk yang menyimpan khazanah keilmuan yang tidak pernah kering untuk digali oleh setiap generasi. Sebagai kalam Allah SWT, setiap ayat memuat prinsip-prinsip hukum, ajaran moral, hikmah kehidupan, dan panduan tata kelola hubungan antarmanusia maupun dengan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, menempatkan Al-Qur’an sebagai ilmu adalah sebuah kewajiban epistemologis bagi setiap muslim.

Dalam tradisi pesantren, pengajian kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Jalalain yang diampu oleh Syaikhina KH. Maimoen Zubair merupakan sarana utama untuk membendung pemangkalan makna Al-Qur’an. Melalui kajian tafsir yang sistematis, para santri diajak untuk menyelami konteks penurunan ayat, struktur bahasa, hingga istinbath hukum yang terkandung di dalamnya. Metodologi keilmuan inilah yang menjaga agar pemahaman terhadap Al-Qur’an tetap murni dan berbobot.

Ketika seseorang mempelajari Al-Qur’an sebagai ilmu, maka setiap ayat yang dipelajari akan memancar dalam bentuk perilaku, kebijaksanaan, dan pola pikir sehari-hari. Ilmu Al-Qur’an menjadi kompas moral yang mengarahkan seseorang dalam mengambil keputusan, baik dalam skala pribadi maupun kemasyarakatan. Hal ini berbeda jauh jika Al-Qur’an hanya diperlakukan sebagai rutinitas lisan tanpa keterikatan makna.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar ilmu juga menuntut kesungguhan untuk terus belajar dari para guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Pengawasan dari ulama dan kiai sangat diperlukan agar proses pemaknaan Al-Qur’an tidak terjebak dalam penafsiran yang keliru atau terdistorsi oleh kepentingan hawa nafsu. Kesinambungan sanad inilah yang menjamin keotentikan ajaran Islam dari zaman ke zaman.

Strategi Menjaga Tradisi Ngaji di Era Kesibukan Modern

Menghadapi tantangan zaman yang semakin padat dengan tuntutan pekerjaan, perkuliahan, dan persekolahan, menjaga istiqamah dalam mengaji memerlukan strategi dan komitmen yang kuat. Kesibukan duniawi sering kali dijadikan alasan untuk meninggalkan majelis-majelis ilmu agama. Padahal, kebutuhan rohani akan bimbingan Al-Qur’an tetap menjadi prioritas yang tidak boleh diabaikan dalam kondisi apa pun.

Langkah awal untuk melestarikan tradisi mengaji adalah dengan mengubah kesadaran mendasar mengenai pentingnya menyeimbangkan ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama. Pendidikan formal dan gelar akademik yang tinggi hendaknya dijadikan sarana untuk memperluas kemanfaatan, sementara ilmu agama tetap difungsikan sebagai fondasi dan penuntun arah. Keduanya tidak boleh dipertentangkan, melainkan harus saling melengkapi secara harmonis.

Di samping itu, efisiensi waktu menjadi kunci utama bagi generasi muda dalam membagi perhatian antara kewajiban akademis dan majelis mengaji. Menyediakan waktu khusus secara rutin setiap hari atau mingguan untuk mendalami tafsir Al-Qur’an dan ilmu syariat merupakan bentuk ikhtiar nyata untuk menjaga tanda kesantrian dalam diri. Istiqamah dalam porsi yang konsisten jauh lebih berharga daripada belajar dalam jumlah besar tetapi sporadis.

Kesimpulannya, pesan dari Syaikhina KH. Maimoen Zubair merupakan alarm pengingat bagi seluruh umat Islam agar tidak kehilangan akar spiritualnya. Jangan sampai kebanggaan atas capaian akademik dan banyaknya ilmu pengetahuan umum justru membuat kita semakin jauh dari petunjuk Al-Qur’an. Dengan terus memegang teguh Al-Qur’an sebagai ilmu, dipelajari, dipahami, dan diamalkan, tradisi mengaji akan tetap lestari sepanjang masa.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram

PROFIL PENULIS

Dawuh Guru

Kontributor Penerbit Dawuh Guru.