Adab Membaca Al-Qur’an dengan Tartil Menurut Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali
Pesan Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali tentang pentingnya membaca Al-Qur'an dengan tartil, baik, dan tidak terburu-buru seperti dikejar macan.

“Nek ngaji sing tartil, ojo koyo dioyak macan. Tahfidz-tahfidze dewe, diapik-apikke.
Nek ngaji sing tartil, ojo koyo dioyak macan. Tahfidz-tahfidze dewe, diapik-apikke.
Pesan tersebut disampaikan oleh Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali sebagai sebuah pengingat yang sangat penting bagi siapa saja yang sedang membaca maupun menghafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dalam praktiknya sehari-hari, aktivitas membaca kitab suci sering kali dihadapkan pada target kuantitas semata. Padahal, esensi dari membaca Al-Qur’an bukanlah tentang seberapa cepat seseorang mampu menyelesaikan bacaannya hingga khatam.
Kualitas bacaan menjadi hal utama yang harus diperhatikan oleh setiap pembaca. Ungkapan yang menggunakan perumpamaan tidak seperti dikejar macan menyiratkan agar seseorang tidak membaca dengan tergesa-gesa. Keresahan dalam menyelesaikan bacaan justru sering kali merusak ketenangan dan kekhusyukan yang seharusnya hadir di dalam hati ketika berinteraksi dengan kalam Ilahi.
Bagi mereka yang sedang mendalami hafalan, pesan ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam. Proses menghafal Al-Qur’an atau tahfidz memerlukan ketelatenan serta ketenangan jiwa. Setiap individu diingatkan untuk memperlakukan bacaan hafalan mereka dengan sebaik-baiknya tanpa mengorbankan kaidah bacaan yang benar demi mengejar target waktu.
Membaca dengan tartil berarti memberikan hak pada setiap huruf yang keluar dari lisan. Tajwid yang tepat serta makhraj huruf yang terjaga merupakan bagian dari penghormatan terhadap ayat-ayat suci yang dibaca. Ketika seseorang membaca dengan tenang dan penuh perhatian, makna yang terkandung di dalam ayat tersebut akan lebih mudah meresap ke dalam jiwa.
Ketergesaan dalam membaca Al-Qur’an kerap kali membuat seseorang mengabaikan aturan tajwid yang semestinya diterapkan. Padahal, keindahan Al-Qur’an justru terpancar dari ketepatan pelafalan dan kelenturan suara yang membacanya secara tartil. Oleh karena itu, pengingat dari Ibu Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali ini mengajak setiap pembaca untuk kembali mengevaluasi cara mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Menikmati setiap ayat yang dibaca adalah cara terbaik untuk merasakan kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta. Setiap kalimat di dalam Al-Qur’an membawa rahmat dan petunjuk bagi yang membacanya dengan penuh kesadaran. Ketenangan dalam melantunkan ayat suci akan menciptakan suasana batin yang damai dan tenteram bagi pelakunya.
Proses belajar memperbaiki bacaan Al-Qur’an tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan konsistensi dan kesabaran untuk terus berlatih setiap hari sedikit demi sedikit. Evaluasi diri terhadap kualitas bacaan harus terus dilakukan agar kesalahan-kesalahan kecil dalam pelafalan dapat segera diperbaiki seiring berjalannya waktu.
Kesadaran untuk tidak terburu-buru juga melatih seseorang untuk lebih sabar dalam menghadapi berbagai proses kehidupan. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup mengajarkan nilai-nilai ketenangan, keteraturan, dan keindahan dalam setiap aspeknya, termasuk dalam hal cara membacanya. Kualitas ibadah tentu akan meningkat ketika seseorang mampu mengerjakannya dengan penuh kehati-hatian.
Pesan mengenai pentingnya tartil ini sekaligus menjadi koreksi lembut bagi kebiasaan sebagian orang yang kerap memburu kuantitas bacaan. Mengkhatamkan Al-Qur’an tentu merupakan amal yang mulia, namun hal tersebut harus tetap sejalan dengan upaya menjaga kualitas bacaan agar sesuai dengan tuntunan ilmu tajwid. Keduanya harus berjalan secara seimbang demi tercapainya kesempurnaan ibadah.
Melalui pengingat yang disampaikan, setiap Muslim didorong untuk senantiasa mencintai Al-Qur’an melalui proses belajar yang konsisten. Memperbaiki bacaan secara bertahap adalah langkah nyata yang bisa dilakukan oleh siapa saja, baik bagi pembaca pemula maupun bagi para penghafal Al-Qur’an.
Ketulusan dalam merawat bacaan Al-Qur’an akan mendatangkan keberkahan tersendiri bagi kehidupan sehari-hari. Mari jadikan setiap sesi membaca Al-Qur’an sebagai momen berharga yang dinikmati dengan tartil, tenang, dan penuh penghayatan mendalam terhadap setiap ayat yang dilantunkan.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram



