⚡ TERBARU
Quote

Kritik Sistem Pendidikan Mahal dan Pengangguran Lulusannya

Refleksi kritis mengenai mahalnya biaya pendidikan, realitas lulusan yang menganggur, serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang berlaku.

3 dibaca 0 dibagikan 3 menit baca
Ilustrasi konsep pendidikan mahal dan realitas dunia kerja
“

Jika pendidikan mahal disebut investasi, mengapa ketika lulusannya menganggur, yang disalahkan selalu manusianya, bukan sistem yang menjual harapan kepadanya?

Jika pendidikan mahal disebut investasi, mengapa ketika lulusannya menganggur, yang disalahkan selalu manusianya, bukan sistem yang menjual harapan kepadanya?

Persoalan mengenai biaya pendidikan yang tinggi kerap kali disandingkan dengan istilah investasi masa depan. Pandangan umum di tengah masyarakat sering kali menempatkan bangku sekolah atau perguruan tinggi sebagai jalan pasti menuju kesejahteraan ekonomi. Ketika seseorang mengeluarkan biaya besar untuk menempuh pendidikan, harapan yang disematkan tentu teramat tinggi. Harapan tersebut bukan sekadar memperoleh ijazah, melainkan juga jaminan masa depan yang lebih mapan melalui pekerjaan yang layak.

Namun, realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan narasi investasi yang sering digaungkan. Tidak sedikit lulusan dari institusi pendidikan dengan biaya mahal justru mendapati diri mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan. Angka pengangguran terdidik menjadi fenomena yang terus berulang dari tahun ke tahun. Kondisi ini memunculkan sebuah celah besar antara janji-janji institusi pendidikan dan kenyataan dunia kerja yang sangat kompetitif serta terbatas.

Ketika situasi pelik ini terjadi, respons sosial yang muncul kerap kali menyudutkan individu yang bersangkutan. Para lulusan baru sering kali dianggap kurang berusaha, kurang memiliki keterampilan tambahan, atau dianggap terlalu memilih pekerjaan. Beban psikologis dan sosial langsung ditanggung oleh manusia atau lulusan itu sendiri yang sebenarnya telah berjuang menyelesaikan studi mereka dengan penuh pengorbanan finansial dan mental.

Pojokan sosial semacam ini mengalihkan perhatian dari akar persoalan yang lebih mendasar. Pertanyaan besar yang diajukan menyoroti ketimpangan struktural yang jarang disentuh oleh para pemangku kebijakan. Alih-alih mengevaluasi efektivitas kurikulum atau kesesuaian antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri, kritik publik justru kerap berhenti pada kemampuan personal sang pencari kerja.

Sistem pendidikan yang berjalan saat ini sering kali dituding terlalu berorientasi pada komersialisasi. Biaya yang mahal tidak selalu berbanding lurus dengan mutu pengajaran atau fasilitas penunjang karier yang memadai. Institusi pendidikan kerap berfungsi layaknya lembaga bisnis yang menawarkan janji-janji manis demi menarik minat peserta didik sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan daya serap pasar kerja.

Penjualan harapan inilah yang menjadi titik krusial dalam perdebatan mengenai dunia pendidikan modern. Peserta didik datang dengan membawa impian besar dan modal finansial yang tidak sedikit, didorong oleh keyakinan bahwa pendidikan adalah tangga sosial yang pasti. Ketika tangga tersebut patah di tengah jalan, institusi yang menjual harapan tersebut jarang diminta pertanggungjawaban secara moral maupun struktural.

Pendekatan yang menyalahkan individu secara terus-menerus tentu tidak akan pernah menyelesaikan masalah pengangguran terdidik. Kegagalan penyerapan tenaga kerja adalah masalah makro yang melibatkan kebijakan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta arah kebijakan pendidikan itu sendiri. Tanpa adanya perombakan cara pandang terhadap sistem yang berlaku, lingkaran setan ini akan terus berulang menimpa generasi-generasi berikutnya.

Refleksi ini mengajak setiap pihak untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih adil dan objektif. Sudah saatnya evaluasi diarahkan kepada sistem yang merancang kurikulum dan menetapkan biaya tinggi, bukan sekadar menuntut kesempurnaan dari para lulusan. Pendidikan seharusnya menjadi sarana pembebasan dan pencerdasan, bukan sekadar komoditas pasar yang meninggalkan kekecewaan mendalam bagi mereka yang mempercayainya.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram

PROFIL PENULIS

Dawuh Guru

Kontributor Penerbit Dawuh Guru.