Cara Menjadi Orang Saleh Menurut Syekh Abu Hasan Syadzili
Pelajari nasihat Syekh Abu Hasan Syadzili tentang cara menjadi orang saleh melalui zikir, syukur, dan kerja keras dalam kehidupan sehari-hari.

“Kosongkan lisanmu, kecuali untuk berzikir. Kosongkan hatimu, kecuali untuk bersyukur. Kosongkan tubuhmu, kecuali untuk bekerja keras. Jika engkau melakukan itu semua, engkau termasuk orang saleh.
— Syekh Abu Hasan Syadzili Menjadi orang saleh bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang kita mili
Kosongkan lisanmu, kecuali untuk berzikir. Kosongkan hatimu, kecuali untuk bersyukur. Kosongkan tubuhmu, kecuali untuk bekerja keras. Jika engkau melakukan itu semua, engkau termasuk orang saleh.
Pesan tersebut merupakan untaian hikmah mendalam yang disampaikan oleh ulama besar, Syekh Abu Hasan Syadzili. Melalui ungkapan tersebut, beliau memberikan panduan ringkas namun sarat makna mengenai esensi dari kesalehan seseorang. Menjadi seorang hamba yang saleh ternyata tidak selalu diukur dari seberapa banyak ilmu yang berhasil dikuasai seseorang.
Lebih dari sekadar kuantitas ilmu, kesalehan justru tercermin dari bagaimana seseorang mampu mengelola lisan, menata hati, serta memanfaatkan waktu yang dimilikinya. Ketiga aspek utama ini menjadi fondasi penting dalam mengarungi kehidupan sehari-hari agar senantiasa berada dalam koridor kebaikan. Setiap bagian tubuh dan jiwa manusia memiliki porsi tanggung jawabnya masing-masing di hadapan Sang Pencipta.
Langkah pertama yang ditekankan dalam nasihat tersebut berkaitan dengan penggunaan lisan manusia. Lisan yang terbiasa diisi dengan zikir akan terlindungi secara alami dari berbagai perkataan yang sia-sia maupun perbuatan tercela seperti menggunjing. Ketika seseorang mampu menjaga lisannya, ia sedang menyelamatkan dirinya dari berbagai mudarat yang timbul akibat kata-kata yang tidak bermanfaat.
Selain lisan, perhatian utama berikutnya diarahkan pada kondisi batin manusia, yakni hati. Hati yang senantiasa dipenuhi oleh rasa syukur akan menjadikan seseorang lebih lapang dada dalam menerima segala ketentuan Allah. Rasa syukur ini menepis jauh-jauh sifat suka mengeluh yang kerap kali membuat jiwa menjadi gelisah dan tidak tenang.
Aspek ketiga yang tidak kalah penting adalah keterlibatan fisik melalui kerja keras dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Tubuh yang digerakkan untuk bekerja secara sungguh-sungguh merupakan wujud nyata bahwa tawakal harus selalu disandingkan dengan ikhtiar. Usaha lahiriah ini melengkapi dimensi spiritual berupa zikir dan syukur yang telah tertanam di dalam diri.
Sering kali, manusia lalai karena membiarkan waktunya habis tanpa diisi dengan amal kebaikan yang bernilai ibadah. Lisan sibuk membicarakan urusan orang lain, hati dipenuhi keluh kesah atas keadaan, dan raga enggan berusaha secara maksimal. Padahal, waktu yang berjalan terus menerus semestinya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik.
Pesan dari Syekh Abu Hasan Syadzili ini mengajak setiap individu untuk melakukan introspeksi diri secara mendalam. Sudah sepatutnya manusia kembali menata prioritas hidupnya agar tidak terjebak dalam kesibukan duniawi yang melalaikan. Mengisi hari-hari dengan zikir, rasa syukur, serta usaha yang sungguh-sungguh adalah jalan utama untuk meraih rida-Nya.
Refleksi dari dawuh tersebut juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara dimensi zikir, syukur, dan ikhtiar dalam kehidupan. Ketiga elemen ini saling mengikat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain bagi siapa saja yang merindukan derajat kesalehan. Keseimbangan ini akan membentuk pribadi yang tangguh secara mental sekaligus taat secara spiritual.
Melalui pengingat ini, setiap muslim didorong untuk terus memperbaiki kualitas diri dari waktu ke waktu. Tidak ada kata terlambat untuk mulai mengosongkan lisan dari hal-hal yang tidak berguna dan beralih pada zikir kepada Allah. Demikian pula dengan hati dan raga yang senantiasa diarahkan pada jalan kebaikan.
Pada akhirnya, dawuh para ulama seperti ini berfungsi sebagai kompas penuntun di tengah dinamika kehidupan modern yang penuh dengan distraksi. Dengan merenungkan makna di baliknya, seseorang dapat kembali fokus pada tujuan penciptaannya di bumi. Mari jadikan setiap detik dalam hidup sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir, syukur, dan kerja keras.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram

