Mencari Rida Allah Melalui Rumah Tangga Menurut Nyai Hannah
Ibu Nyai Hj. Nur Hannah Zamzami mengingatkan pentingnya mencari rida Allah melalui keharmonisan dan rasa saling menghargai dalam kehidupan rumah tangga.

“Banyak orang mencari rida Allah ke sana kemari, dan mereka lupa sumber rida ada di dekatnya (yaitu suami dari seorang istri).
— Ibu Nyai Hj. Nur Hannah Zamzami Terkadang, kita begitu bersemangat mencari rida Allah melalui berbag
Banyak orang mencari rida Allah ke sana kemari, dan mereka lupa sumber rida ada di dekatnya (yaitu suami dari seorang istri).
Nasihat bijak dari Ibu Nyai Hj. Nur Hannah Zamzami tersebut memberikan perenungan mendalam mengenai hakikat pencarian rida Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali manusia begitu bersemangat melangkahkan kaki jauh ke luar rumah demi mengejar keberkahan dan kebaikan melalui berbagai amalan. Namun, tanpa disadari, ada pintu kebaikan yang teramat dekat yang justru kerap terabaikan, yaitu peran serta tanggung jawab di dalam kehidupan rumah tangga itu sendiri.
Semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta merupakan cita-cita mulia bagi setiap insan beriman. Kendati demikian, kekeliruan kerap terjadi ketika seseorang terfokus pada amalan-amalan tertentu, namun mengabaikan kewajiban dasar terhadap orang-orang terdekatnya. Bagi seorang istri, mengabdi dan memperlakukan suami dengan baik merupakan salah satu jalan utama yang telah dibentangkan untuk meraih keberkahan hidup.
Menjalankan peran dalam ikatan pernikahan membutuhkan kesadaran penuh bahwa setiap interaksi sehari-hari dapat bernilai ibadah. Memelihara tutur kata yang santun, membangun komunikasi yang berlandaskan rasa empati, serta berikhtiar menunaikan hak dan kewajiban secara seimbang adalah bagian konkret dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kebaikan yang dihadirkan di tengah keluarga menjadi cerminan dari kedalaman pemahaman keagamaan seseorang.
Penting untuk diingat bahwa ibadah dalam ajaran Islam memiliki cakupan yang sangat luas dan inklusif. Konsep penghambaan tidak hanya terbatas pada amalan ritual yang dilakukan di atas sajadah, seperti shalat, dzikir, atau ikhtikaf semata. Hubungan dengan Allah SWT juga terwujud secara nyata melalui bagaimana manusia menjaga amanah, mengelola emosi, serta membina hubungan yang harmonis dengan sesama ciptaan-Nya, terutama pasangan hidup.
Meskipun demikian, ajaran untuk berbakti dan memuliakan pasangan tidak boleh disalahartikan hingga mengorbankan martabat serta hak-hak dasar seorang perempuan. Kepatuhan dan kebaikan yang ditunjukkan oleh seorang istri tidak berarti ia harus membiarkan dirinya berada dalam situasi yang menyakiti atau mengabaikan kesejahteraan lahir dan batinnya sendiri. Islam menempatkan keadilan dan rasa saling menghargai sebagai nilai utama yang wajib dijaga oleh kedua belah pihak.
Rumah tangga yang kokoh dan penuh keberkahan tidak dapat berdiri di atas hubungan yang berketimpangan. Mahligai pernikahan yang sehat selalu dibangun atas dasar prinsip saling menghormati, saling menjaga, dan berjuang bersama untuk menaati perintah-perintah Allah SWT. Ketika suami dan istri sama-sama memegang teguh komitmen tersebut, rumah tangga akan menjadi benteng kedamaian dan tempat bertumbuhnya kebaikan.
Bentuk saling menghargai dalam kehidupan berumah tangga kerap kali hadir dalam tindakan-tindakan sederhana yang konsisten. Kejelian untuk saling mendengarkan, keikhlasan untuk saling memahami kekurangan, serta kesediaan untuk saling mendukung dalam kebaikan adalah pilar-pilar penting yang memperkuat ikatan batin. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil namun penuh ketulusan itulah keberkahan dalam keluarga dapat terus mengalir.
Pencarian rida Allah SWT pada akhirnya merupakan sebuah perjalanan panjang untuk menghadirkan kebaikan pada setiap amanah yang telah dipercayakan. Apabila Allah memberikan amanah berupa peran sebagai istri atau suami, maka mengoptimalkan peran tersebut dengan penuh tanggung jawab adalah jalan terdekat menuju cinta-Nya. Menjalankan peran tersebut dengan ikhlas akan menjadikan setiap lelah dan perjuangan sehari-hari bernilai pahala yang berlimpah.
Pesan reflektif ini mengajak setiap muslim untuk kembali menata prioritas dan membenahi niat dalam mengarungi kehidupan. Kerap kali kebahagiaan dan ketenangan yang dicari di tempat jauh sebenarnya sudah tersedia di lingkungan terdekat kita sendiri. Mengapresiasi keberadaan pasangan dan menjadikan rumah sebagai pusat ibadah serta kasih sayang adalah ikhtiar nyata yang dapat mengubah kehidupan sehari-hari menjadi lebih bermakna.
Melalui pengingat yang disampaikan oleh Ibu Nyai Hj. Nur Hannah Zamzami, kita diajak untuk senantiasa mengevaluasi diri dalam memperlakukan pasangan dan keluarga. Menjaga hubungan yang harmonis bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan tanggung jawab spiritual yang berkelanjutan. Semoga setiap ikhtiar untuk memuliakan pasangan dan membina rumah tangga yang rukun senantiasa mendapatkan petunjuk serta rida dari Allah SWT.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram



