Pesan Gus Najih Maimoen tentang Khidmah Santri dan Guru
Menyimak dawuh KH Muhammad Najih Maimoen mengenai pentingnya ikatan batin dan khidmah santri kepada kiai dalam menuntut ilmu.

“Sampean dadi santri kudu nduwe kepingin dikenal kyaine, sering ketemu, sering dikongkon, ora kok ngaji-ngaji tok. Umpomo ono takdir ora cedak dhohire yo cedak bathine (kelawan ndungakno).
— KH. Muhammad Najih Maimoen (Gus Najih) Menjadi seorang penuntut ilmu sejatinya bukan sekadar urusan
Sampean dadi santri kudu nduwe kepingin dikenal kyaine, sering ketemu, sering dikongkon, ora kok ngaji-ngaji tok. Umpomo ono takdir ora cedak dhohire yo cedak bathine (kelawan ndungakno).
Menjadi seorang penuntut ilmu di lingkungan pesantren sejatinya bukan sekadar urusan duduk di majelis taklim, mencatat pelajaran, serta menghafal kitab. Ada dimensi spiritual yang jauh lebih esensial dari sekadar proses transfer pengetahuan secara formal, yakni terbangunnya ikatan batin yang kuat antara seorang murid dan gurunya.
Dawuh dari KH. Muhammad Najih Maimoen ini menyadarkan kita semua tentang pentingnya arti khidmah serta kehadiran diri di mata seorang guru. Beliau berpesan agar seorang murid sebaiknya memiliki niat dan usaha untuk dikenali, sering bertatap muka, dan bahkan rela menjalankan perintah untuk membantu berbagai urusan sang guru.
Sebab, dari ketaatan serta rutinitas pengabdian kecil itulah ego seorang murid perlahan-lahan ditundukkan. Melalui ketundukan tersebut, rida serta keberkahan ilmu yang dipelajari akan mengalir dengan baik ke dalam diri santri.
Namun, beliau juga sangat memahami realitas bahwa tidak semua murid mempunyai nasib atau kesempatan emas untuk bisa berada dekat dengan keseharian gurunya secara fisik. Sebagian orang mungkin terhalang oleh faktor jarak yang jauh, jumlah santri yang mencapai ribuan, atau keterbatasan waktu yang ada.
Bagi mereka yang tidak mampu mendampingi secara fisik atau lahir, ada satu jalur penghubung istimewa yang tidak akan pernah bisa dihalangi oleh apa pun di dunia ini. Jalur tersebut adalah kedekatan secara batiniah yang dijalin melalui ketulusan doa.
Mendoakan guru secara sembunyi-sembunyi setiap selesai melaksanakan shalat merupakan salah satu bentuk amalan yang sangat dianjurkan. Selain itu, merutinkan membaca hadiah surat Al-Fatihah dan senantiasa menjaga nama baik guru adalah bentuk khidmah batin yang sangat mulia nilainya.
Jarak raga yang memisahkan antara murid dan guru boleh saja berjauhan karena berbagai kesibukan atau kondisi. Tetapi, selama nama sang guru senantiasa hidup di dalam munajat harian kita, sejatinya sanad keilmuan dan kasih sayang itu tidak akan pernah terputus.
Pengabdian seorang santri kepada kiai tidak selalu harus diukur dari seberapa sering ia tampak di hadapan guru secara fisik setiap harinya. Niat yang tulus untuk terus terhubung, baik melalui perjumpaan langsung maupun lewat doa-doa malam, menjadi penentu utama keberhasilan dalam menuntut ilmu.
Refleksi dari pesan luhur ini mengajak setiap pencari ilmu untuk senantiasa merenungkan kembali kualitas hubungan mereka dengan guru-guru yang telah membimbing. Apakah kedekatan tersebut sudah diiringi dengan rasa takzim, kepatuhan, serta ketulusan mendoakan dalam setiap kesempatan?
Pada akhirnya, ilmu yang bermanfaat bukan sekadar deretan teori yang tersimpan rapi di dalam ingatan kepala seseorang. Ilmu yang barokah adalah ilmu yang diamalkan dengan landasan akhlak mulia dan restu tulus dari seorang guru yang dicintai.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram



