⚡ TERBARU
Quote

Nasihat Syekh Muhammad Al Buthi tentang Validasi Manusia

Renungan mendalam dari Syekh Muhammad Al Buthi tentang bahaya haus validasi manusia, pujian, dan cacian demi menjaga kewarasan mental serta rida Ilahi.

6 dibaca 0 dibagikan 3 menit baca
Ilustrasi kutipan bijak Syekh Muhammad Al Buthi tentang validasi manusia dan ketenangan hati
“

Sekalipun kau tidak disukai, kau hanya tidak disukai oleh manusia, mengapa kau menderita? Sekalipun kau dicintai, kau hanya dicintai oleh manusia. Lantas mengapa kau sangat bangga?

Sekalipun kau tidak disukai, kau hanya tidak disukai oleh manusia, mengapa kau menderita? Sekalipun kau dicintai, kau hanya dicintai oleh manusia. Lantas mengapa kau sangat bangga?

Pesan tersebut merupakan pengingat penting bagi siapa saja yang sering merasa lelah akibat terjebak dalam siklus people pleasing. Keinginan untuk selalu membuat semua orang merasa senang sering kali berujung pada kelelahan batin yang luar biasa. Padahal, manusia adalah makhluk dengan hati yang mudah berubah-ubah seiring waktu.

Ketika seseorang mendapati ada orang lain yang membenci, memberikan komentar negatif, atau sekadar melontarkan nyinyiran, dunia seakan terasa runtuh seketika. Akibatnya, proses overthinking terjadi sepanjang malam dan membuat kondisi mental langsung down. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya harga diri ketika digantungkan pada penilaian orang lain.

Sebaliknya, situasi yang sama juga terjadi ketika seseorang mendapatkan pujian selangit dari sesama manusia. Ego diri langsung melambung tinggi seolah-olah menjadi sosok yang paling tak terkalahkan di dunia ini. Padahal, baik pujian maupun cacian tersebut tidak memberikan dampak hakiki pada kedudukan seseorang yang sebenarnya.

Nasihat yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Al Buthi hadir sebagai sebuah penawar mujarab untuk mengatasi penyakit hati berupa haus validasi. Beliau dengan tegas menyoroti sebuah realitas mutlak bahwa penilaian dari sesama manusia bersifat fana dan semu. Pandangan manusia tidak akan pernah mampu mengubah kedudukan seseorang di hadapan Allah SWT.

Menggantungkan kebahagiaan serta harga diri pada pandangan makhluk merupakan sumber dari penderitaan batin yang nyata. Manusia sibuk mencari validasi dari pihak-pihak yang tidak memiliki kuasa penuh atas takdir kehidupan. Ketika terjebak dalam pola pikir ini, kestabilan emosi akan sangat bergantung pada respons orang di sekitar.

Padahal, kunci ketenangan hidup terletak pada bagaimana seseorang memandang rida Sang Pencipta. Apabila Allah telah memberikan rida-Nya, maka kebencian dari seluruh penduduk bumi sekali pun tidak akan pernah mampu mendatangkan bahaya. Sebaliknya, tepuk tangan dan dukungan dari manusia tidak akan berguna jika Allah murka.

Oleh karena itu, mengembalikan segala orientasi hidup semata-mata kepada rida Ilahi adalah jalan utama agar hati tetap tenang. Dengan cara pandang ini, seseorang tidak akan mudah merasa goyah oleh berbagai penilaian miring. Kestabilan mental akan terjaga karena tidak lagi bergantung pada sanjungan maupun celaan sesama makhluk.

Perasaan lelah karena terlalu memikirkan pandangan orang lain adalah hal yang kerap dialami banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Proses belajar untuk bersikap masa bodoh atau bodo amat terhadap komentar negatif sering kali menjadi mekanisme pertahanan diri. Tujuannya tentu saja demi menyelamatkan kewarasan mental dari beban sosial yang berlebihan.

Kesadaran ini mengajak setiap individu untuk lebih bijak dalam menyikapi interaksi sosial di tengah masyarakat. Dengan memahami esensi dari nasihat tersebut, energi mental dapat dialokasikan untuk hal-hal yang jauh lebih esensial. Ketenangan jiwa akan tercapai ketika seseorang berhenti berharap pada pengakuan manusia dan berfokus pada penilaian Sang Pencipta.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram

PROFIL PENULIS

Dawuh Guru

Kontributor Penerbit Dawuh Guru.