Yang Melarikan Diri dari Kutukan

Oleh: Damhuri Muhammad

Perempuan bunting tua itu duduk dalam posisi membungkuk sambil membilas tumpukan cucian. Samar terdengar pintu berderit. Saat menoleh ke belakang, lelaki bertubuh besar sudah berdiri di hadapannya. Orang itu adalah Hussein, suami kakak perempuannya, Noura. “Jadi, perutmu sudah besar, ya?” tanya Hussein, beringas. Pucat pasi rona mukanya, ngeri membayangkan apa yang bakal diperbuat lelaki itu. “Aku akan mengurusmu!” tegas Hussein. Perempuan itu kembali menunduk, kembali membilas tumpukan pakaian kotor. Sejurus kemudian, ia merasakan cairan dingin mengalir di kepalanya, menetes ke pipi, leher, kuduk, bahu hingga pergelangan tangan. Seketika saja Hussein melemparkan korek api ke tubuh perempuan yang baru saja tersiram bensin itu. Api menyala, melalap tubuh itu. Terbirit-birit ia lari dalam keadaan tubuh terbakar, mengerang kesakitan, berteriak minta tolong. Selesai sudah tugas Hussein “mengurus” Souad, adik iparnya itu. Souad sekarat, sebentar lagi bakal mati.

Souad harus dilenyapkan. Ia aib yang telah mencoreng kehormatan keluarga. Bunting sebelum menikah. Maka, harus dirajam. Bukan dengan cara diarak keliling kampung, lalu dilempari batu sampai mati. Itu sama saja dengan mempertontonkan aib di hadapan orang banyak. Hukuman bagi perempuan itu adalah rajam terselubung. Direncanakan ayah, ibu, saudara laki-laki dan ipar-iparnya. Pembunuhan yang rapi, cepat, tak berbekas.Tubuhnya disiram bensin, lalu disulut korek api. Hussein terpilih sebagai eksekutor.

Inilah kesaksian tentang perempuan malang yang tinggal di sebuah desa kecil, kawasan Tepi Barat, Palestina. Kisah nyata perihal kejahatan atas nama kehormatan. Dituturkan dengan cara amat tertata oleh seorang korban selamat bernama Souad, lewat novel berjudul Burned Alive. Nestapa Firdausi, sejak tumbuh jadi gadis remaja hingga dijebloskan ke penjara perempuan (Mesir) seperti dikisahkan Nawwal El-Saadawi dalam Perempuan di Bawah Titik Nol atau duka lara Mirfat akibat tangan besi laki-laki seperti dituturkan Ihsan Abdel Quddous dalam An Evening in Cairo memang pedih, tapi petaka yang melanda Souad jauh lebih pedih. Biadab! Nasib dan peruntungannya nyaris sama dengan perempuan muda asal Jawa Timur, pasien bedah plastik setelah kulit mukanya meleleh dan hancur tak berbentuk, akibat siraman air keras. Souad memang selamat, tapi 24 kali operasi kulit yang dilakukan di sebuah rumah sakit di Swiss, tak mampu mengembalikan tubuhnya utuh seperti semula. Kulit wajahnya penuh luka bakar, kuping sebelah kiri tinggal separuh. Leher, kuduk, punggung, dan kedua pergelangan tangannya membekaskan sisa kejahatan yang sukar terlupakan. Setiap hari Souad harus mengenakan baju leher panjang, guna menutupi bekas-bekas luka panggang itu.

Terlahir sebagai perempuan adalah kutukan! Begitu keyakinan yang kokoh dipegang oleh gadis-gadis belia di tanah kelahiran Souad. Seorang gadis mesti berjalan cepat, kepala menunduk seperti menghitung jumlah langkah yang diayunkan. Tak boleh tengadah, terlarang menoleh ke kiri, ke kanan. Jangan coba-coba menantang sorot mata laki-laki! Karena akan dituduh charmuta (perempuan jalang). Bila keluar rumah, dilarang jalan sendiri! Mesti ditemani ibu atau saudara perempuan. Bila tak ada mereka, keluarlah dengan sekawanan domba-domba peliharaan sambil memikul seikat rumput atau sekeranjang buah ara. Itu lebih aman. Sebab, semua perempuan harus bekerja, bahkan hanya perempuanlah yang  bekerja. Mencukur bulu domba, memerah susu kambing, membuat keju, memetik buah tomat dan panen gandum.

Anak laki-laki adalah raja. Saudara-saudara perempuan harus melayani semua kebutuhannya. Mencuci pakaian, menyediakan air panas sebelum mandi, menyuguhkan teh dan menyiapkan kuda sebelum ditunggangi. Assad, satu-satunya saudara laki-laki Souad, ia bebas keluar rumah, bersekolah di kota. Perempuan terlarang bersekolah. Mereka hanya bergembala domba, sesekali harus tidur di kandang, bila ada kambing yang melahirkan. Mesti ditunggu, sambil tidur di tumpukan jerami. Tidur di kandang kambing, tapi tak lebih berharga dari kambing-kambing itu. Binatang menghasilkan susu, sementara anak-anak perempuan hanya beban, aib keluarga yang harus segera disingkirkan. Pernah Souad tak sengaja memetik tomat mengkal. Semestinya ia hanya memetik tomat-tomat matang saja. Berkali-kali ikat pinggang ayah mendarat di punggungnya. Souad meringis kesakitan, tapi ayahnya makin kencang mencambuki tubuh gadis kecil itu, hingga punggungnya penuh luka-luka memar, sukar ia tidur telentang.

Satu-satunya kebebasan yang dapat diimpikan Souad adalah perkawinan. Pergi dari rumah, tinggal di rumah suami dan tak pernah kembali. Meski di rumah baru itu tiada jaminan tak akan ditampar atau dihajar suami. Bebas dari mulut Harimau, masuk ke mulut Singa. Jika seorang perempuan pulang ke rumah orangtua (mengadu karena sering dipukuli suami), itu aib! Maka, keluarga akan mengembalikannya ke rumah suami. Tak apa-apa dihajar lagi, asal jangan pulang membawa aib. Meski begitu, Souad tetap ingin menikah. Celakanya, saat laki-laki datang melamar, ia terhalang. Sebab, Kainat saudara perempuan yang lebih tua, belum bersuami. Melangkahinya juga aib. Itu sebabnya, Souad nekat menjalin hubungan dengan Faiez, lelaki idamannya. Sembunyi-sembunyi mereka bertemu di balik rimbun ilalang saat Souad menggembala domba. Bercumbu, bermesraan hingga datanglah petaka itu; Souad hamil. Kesalahannya tak terampuni. Ayah, ibu, Assad, dan Hussein menyusun siasat untuk segera melenyapkan Souad.

Berkat Jaqueline, Souad yang sekarat di sebuah rumah sakit (Jerussalem) berhasil diselamatkan. Ia dan Marwan (bayi yang lahir prematur) diboyong ke Swiss, menjalani 24 kali operasi, hingga dapat bertahan hidup. Semula, kesaksian ini hanyalah cara Souad menjelaskan status Marwan pada Laetitia dan Nadia, dua putri dari perkawinannya dengan Antonio. Hasilnya tak sesederhana yang dibayangkan Souad. Burned Alive telah diterjemahkan ke 28 bahasa di 29 negara. Diam-diam Souad berharap, agar buku itu tersebar sampai ke desa kecil di Tepi Barat, Palestina. Ia ingin dunia tahu, bahwa pembunuhan atas nama kehormatan itu masih terus berlangsung, hingga kini…

DAMHURI MUHAMMAD
Kolumnis, esais

 

(versi cetak kolom ini telah  tersiar di harian Kompas, 30 Juli 2006, sebagai resensi buku berjudul Kekerasan atas Nama Kehormatan. Versi kolom ini telah mengalami berbagai perubahan)

DATA BUKU

Judul: Burned Alive (edisi terjemahan bahasa Indonesia)

Penulis: Souad

Penerjemah : Khairil Azhar

Penerbit : Pustaka Alvabet (Jakarta)

Cetakan : Pertama, April 2006

Tebal : 290 halaman

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *