Wa Laa Tamutunna illa wa Antum Katibun

Wa Laa Tamutunna illa wa Antum Katibun - dawuh guru

Oleh: Hermansyah Kahir

Judul artikel ini sengaja saya ambil dari ungkapan yang dipopulerkan oleh KH. Ali Musthofa Ya’qub. Wa laa tamutunna illa wa antum katibun (janganlah kalian mati kecuali kalian telah menjadi seorang penulis) saya temukan dalam buku Khodimun Nabi (2016) karya Cholidi Ibhar. Ungkapan ini sangat menggugah dan memotivasi saya—tentunya juga orang lain untuk terus menulis sebagai media untuk menabur benih-benih kebaikan.

Banyak motif yang melatarbelakangi seseorang menekuni keterampilan menulis. Misalnya, menulis karena ingin dikenal publik, ingin mendapatkan materi, menyebarkan ilmu, menulis sebagai media dakwah, dan alasan-alasan lain yang menjadi pendorong seseorang untuk terus berkarya.

Namun, bagi seorang muslim apapun aktivitas yang dilakukan mesti bernilai ibadah termasuk kegiatan menulis. Menulis bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun sang penulis sudah tiada. Menulis di sini tentu tidak harus menulis buku dalam jumlah yang bayak. Cukup satu buku tapi isinya benar-benar bermanfaat untuk masyarakat luas. Karena itu, niatkan untuk menulis satu buku sebelum meninggal.

Menulis merupakan salah satu cara mengikat ilmu dan menyebarkannya kepada masyarakat luas. Menulis juga menjadi parameter kualitas keilmuan seseorang. Kelebihan menulis bukan hanya dapat dibaca oleh orang yang hidup sezaman dengan sang penulis, tapi juga setelah kematiannya, karya-karya dan ide-ide sang penulis masih bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.

Selain itu, menulis bukan hanya bentuk ikhtiar menyampaikan gagasan kepada pembaca, tetapi juga untuk mengekalkan ilmu pengetahuan. Pasalnya, ilmu yang diikat atau dituangkan ke dalam bentuk karya tulis akan bertahan lebih lama dan lebih mudah disebarkan kepada masyarakat luas.

Penyebaran ajaran Islam juga tak dapat dipisahkan dari karya tulis yang dihasilkan oleh para ulama terdahulu. Islam telah melahirkan banyak ulama dan ilmuwan yang karyanya masih kita nikmati hingga sekarang. Salah satu ciri khas dari para ilmuwan Islam terdahulu adalah mereka tidak sekadar menguasai satu ilmu, tetapi beberapa bidang ilmu secara bersamaan.

Imam Al Ghazali adalah tokoh ilmuwan muslim terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Semasa hidupnya, sosok yang sering dipanggil sebagai Algazel ini sangat aktif menulis. Karya-karyanya dalam masalah ushuluddin, aqidah, fikih, filsafat, manthiq, dan tasawuf sangat banyak. Beberapa di antaranya adalah Arba’in Fi Ushuliddin, Al Iqtishad Fil I’tiqad, Ma’ariful Aqliyah, dan lain-lain.

Di dalam negeri, ada tokoh-tokoh hebat yang juga meninggalkan banyak karya tulis. Sebutlah, Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari. Keilmuannya tak diragukan lagi sehingga karya-karyanya menjadi rujukan banyak ulama hingga saat ini. Maka tak berlebihan jika KH. Hasyim Asy’ari disebut-sebut sebagai gudangnya ilmu pengetahuan.  Semasa hidupnya beliau banyak menulis kitab, di antaranya; Ar Risalah al Jami’ah, Adab al Alim wa al Mutaalim, Ziyadat Ta’liqat, At Tanbihat al Wajibat Liman Yasna’u al Maulid bi al Munkarat, Annur al Mubin fi Mahabatti Sayyid al Mursalin, Al Qawaid fi Bayani Yasibu min al ‘Aqaid, dan Ar Risalah at Tauhid.

Bisri Mustofa juga merupakan ulama Indonesia yang kitab-kitabnya terus dikaji di beberapa pesantren dan kampus Islam. Tafsir Al-Ibriz adalah kitab berbahasa Jawa yang beliau tulis dan menjadi rujukan penting khususnya bagi peminat kajian tafsir. Selain Al-Ibriz, beliau juga menulis kitab Al-Iktsar, Akidah Ahlu as-Sunnah Wal Jama’ah, Al-Baiquniyah, Safinah ash-Shalah, Muniyatul az-Zaman, Atoifu al-Irsyad, Risalah al-Ijtihadi wa at-Taqlid, Al-Khabibah dan Al-Qawa’idu al-Fiqhiyah.

Itulah kekuatan sebuah karya tulis. Siapapun yang hidup di zaman sekarang tidak akan mengenal ulama-penulis yang saya sebutkan kecuali melalui kitab-kitabnya. Mereka sudah lama meninggal, tapi kitab yang mereka tinggalkan menunjukkan seakan-akan mereka masih hidup di tengah-tengah kita. Karya tulis ibarat jembatan yang menghubungkan pembaca dengan sang penulis yang sudah tertimbun tanah ratusan tahun lalu.

Para ulama yang saya sebutkan di atas sudah berhasil mensyiarkan agama Allah dan menyebarkannya kepada umat melalui karya tulis. Maka, sudah semestinya kita melanjutkan tradisi menulis ulama-ulama terdahulu. Tentu, tak harus menulis ratusan karya tulis seperti mereka. Usahakan kita memiliki minimal satu buku yang berisi pesan-pesan kebaikan dan hikmah yang bermanfaat bagi orang banyak.

Meskipun sudah meninggal, penulis terus menginspirasi dan karya tulisnya menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Karya tulisnya telah menghidupkan mereka sepanjang zaman. Mari kita teladani semangat mereka dalam berkarya. Tidak masalah meskipun hanya “satu buku” seumur hidup. Satu buku yang berisi inspirasi dan kebaikan sudah cukup menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. Karenanya, untuk menjaga semangat agar tetap istiqamah berkarya, mari tanamkan dalam diri kita ungkapan, “Wa laa tamutunna illa wa antum katibun”.

*Hermansyah Kahir Pernah nyantri di TMI Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep