Tradisi Ulang Tahun; dari Kado Kue, Lempar Tepung, Hingga Buku Kumpulan Puisi

“Pagi seperti memperbaharui kita, justru ketika satu hari lagi hilang dari usia.”. Penggalan puisi Goenawan Mohammad itu ada benarnya juga, pagi atau hari yang baru—selain memperbarui semangat, ia juga memperbarui umur, tapi jatah hidup kian berkurang. Sebuah peristiwa yang lazim bagi manusia.

Kendatipun demikian, kata ibn Athaillah dalam Hikamnya; nikmat yang paling besar adalah nikmat berupa penciptaan, kita diciptakan oleh Allah dan dilahirkan ke dunia ini melalui kedua orang tua. Untuk itu walaupun usia makin menua, haruslah tetap semangat dan selalu bersyukur.

Ekspresi perayaan ulang tahun pun beragam, ada yang dirayakan dengan tasyakuran kecil-kecilan, dikado kue atau makanan, dikado boneka, diberi kado kumpulan puisi, bunga, boneka, dan uniknya ada juga perayaan ulang tahun dirayakan dengan tradisi diguyur air, tepung dan telur, parahnya lagi ada yang dijeburkan ke sungai. Barangkali tradisi yang terahir ini sudah jarang kita temui.

Awal tahun lalu, ada tulisan menarik dari Kiai Husnul Haq, Pengasuh Pesantren Mahasiswa Mamba’ul Ma’arif Tulungagung, dan Dosen IAIN Tulungagung. Menurutnya dunia pendidikan pada awal tahu 2020 dihebohkan oleh sebuah kabar viral yang menyebut salah satu sekolah di Solo mengeluarkan siswinya yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman laki-laki di sekolah yang sama.

Peristiwa ini menurut Husnul Haq mengundang beragam komentar, termasuk dari pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI menyayangkan keputusan ini, dan menilai sekolah terlalu berlebihan dalam menerapkan sanksi dimaksud. Namun, lewat media, pihak sekolah juga mengklarifikasi bahwa persoalannya lebih dari sekadar ucapan selamat ulang tahun. Kita boleh saja menduga, barangkali tradisi yang berlebihan di atas tadi telah terjadi pada dunia pendidikan kita. Siswa yang ulang tahun bakalan jadi korban dijeburkan sungai atau diceplok telur.

Pada umumnya, merayakan ulang tahun berarti merayakan hari kelahiran seseorang, biasanya dengan mengadakan pesta kecil bersama keluarga dan teman-teman. Hadiah atau kado sering diberikan pada orang yang sedang berulang tahun, di samping ucapan selamat, dan tentunya doa kebaikan serta panjang umur.

Sebagian ulama yang berpendapat tentang tradisi merayakan ulang tahun diantaranya adalah Syekh Ali Jum’ah, Syekh Salman Al-Audah, Syekh Amru Khalid, Lembaga Fatwa Mesir (Darul Ifta’ Al-Mishriyyah), dan Lembaga Fatwa Palestina (Darul Ifta’ Al-Filasthiniyyah).

Mereka mengatakan, merayakan hari ulang tahun diperbolehkan, dengan syarat perayaan tersebut tidak mengandung perbuatan yang diharamkan. Mengapa demikian? Sebab merayakan hari ulang tahun merupakan salah satu cara mengingat nikmat kelahiran (kehidupan), dan satu momen melantunkan doa bagi orang yang berulang tahun.

Lihatlah Qur’an Surat Maryam ayat 33, Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Pada ayat tersebut, Nabi Isa ala’ihis salam berdoa agar diberikan limpahan kesejahteraan pada hari kelahiran, hari wafat, dan hari kebangkitannya kembali. Dengan demikian, merayakan hari ulang tahun, disertai lantunan doa agar orang yang berulang tahun diberikan umur panjang dan limpahan kesejahteraan, menurut beberapa ulama di atas tadi hukumnya diperbolehkan.

Lantas bagaimana dengan kasus di atas tadi? Seorang siswa yang dikeluarkan dari sekolah lantaran merayakan ulang tahun secara berlebihan. Tentu hal ini sangat kita sayangkan, bagaimanapun juga perayaan ulang tahun adalah sebuah peristiwa yang sakral, seseorang akan merasa dirinya dilahirkan kembali ketika sedang berulang tahun.

Itu artinya, hal-hal yang semestinya dilakukan adalah dengan hal-hal yang positif, seperti bermuhasabah, dan berbagi rasa syukur dalam bentuk sesuai kemampuan, atau setidaknya seseorang yang berulang tahun diperlakkan dengan hal yang positif; didoakan, diberi ucapan yang baik, bukan malah dijadikan korban untuk membalas dendam. Tradisi ulang tahun yang agaknya kurang lazim itu memang harus diputus mata rantainya, agar tidak berkepanjangan.

Apakah setalah mata rantai itu dipangkas, tradisi merayakan ulang tahun yang seru bakalan terputus, dan generasi muda akan garing? Saya rasa tidak. Sebab masih ada tradisi yang lebih romantis dan indah seperti memberi puisi, atau menghadiahkan buku kumpulan puisi yang ditulis oleh banyak orang. Contohnya? Ada.

Pada bulan Agustus tahun 2019, Seniman hingga Politikus Ramaikan Ultah Gus Mus ke-75 di Semarang. Diantara mereka berduyun-duyun mengucapkan selamat ulang tahun dengan cara yang berbeda kepada GusMus.

Acara itu diselenggarakan oleh para pecinta Gus Mus, dalam acara ’75 Tahun Gus Mus : Persembahan Sahabat dan Santri untuk Kiai’ di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang, Rabu (14/8). Acara itu dihadiri juga oleh Mahfud MD, Mengawali sambutan, anggota Dewan BPIP Mahfud MD menyampaikan sosok GusMus yang lembut dan santun patut dijadikan sebagai panutan bagi bangsa Indonesia.

Penggalan sambutan Mahfud MD itu seperti ini “Yang di twit lembut, diserang orang ramai-ramai tenang saja. Orang merasa ini contoh menyejukkan yang tidak banyak di Indonesia, mudah-mudahan semakin banyak,” Meskipun dengan segala kerendah hatian, Gus Mus sendiri tidak ingin berlebihan, Gus Mus malah meminta kepada yang datang untuk menganggap acara tersebut sebagai perayaan HUT ke-75 Republik Indonesia.

Dalam acara itu sejumlah seniman juga hadir antara lain pelukis Kartika Afandi, Joko Susilo, Joko Pekik, Sudjiwo Tedjo, Sosiawan Leak dan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri hingga aktor senior Butet Kartaredjasa, Susi Pudjiastuti, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng, Pangdam IV Diponegoro hingga sejumlah tokoh politik lainnya juga turut hadir memeriahkan.

Acara terus dilanjutkan hingga malam hari, bergantian orang-orang dekat Gus Mus naik ke panggung untuk hanya sekedar mengucapkan selamat hingga memberikan kado dalam bentuk karya seni untuk Gus Mus. Ada yang membaca puisi, melukis hingga menyanyi dalam doa-doa.

Betapa indah tradisi ulang tahun yang dirayakan oleh tokoh-tokoh terkemuka kita itu, ulang tahun menjadi tradisi yang sakral, suci dan menggetarkan. Berbeda dengan tradisi yang dirayakan dengan hal-hal yang kurang baik, seperti beberapa kasus yang saya sebutkan di atas tadi.

Saya tidak bermaksud membandingkan antara satu cara dengan cara yang lain, toh tiap manusia mempunyai cara untuk sampai pada kebahagiaannya sendiri-sendiri. Tapi bagi saya, seseorang yang menyukai sastra dan seni ini, merayakan ulang tahun dengan sebaris puisi, jauh lebih mendebarkan daripada merayakannya dengan lempar tepung dan ceplok telur. Untuk apa juga makanan itu dibuang, lebih baik dimasak bukan?

Sebab, bagi saya puisi memiliki kekuatan untuk menghidupkan sesuatu yang tadinya nyaris mati, puisi memiliki ruh, menggetarkan dan menggugah jiwa, apalagi bila puisi itu dari seseorang yang kita cintai, cinta akan berubah menjadi hari-hari yang indah.

Ada satu puisi Gus Mus yang bagi saya sangat indah, puisi itu diberikan Gus Mus kepada Almarhummah Istri beliau, terekam dalam tayangan Mata Najwa bertajuk “Panggung Gus Mus” di Metro TV pada April lalu. Gus Mus sempat menuliskan puisi indah untuk istrinya, Ny Hj Siti Fatma Mustofa Bisri dengan judul “Sajak Cinta”.

Ketika Bu Nyai Fatma ulang tahun, Gus Mus menulis, “tetaplah muda bersamaku, wahai istriku,” sebaris kalimat yang singkat, kuat dan membekas. Betapa indah kisah cinta beliau, menghilhami para pecinta di mana-mana.

 

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *