Tipologi dan Pemaknaan Tasawuf

Oleh: Amirah Dzaky Ilma

(Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya Prodi Aqidah dan Filsafat Islam)

Ahli tasawuf dan saksi mata memiliki perbedaan dalam melacak awal kata dan signifikansi tasawuf dalam dasar-dasar sejarah dan frasa . Kata ini dikreditkan ke Sufi karena ia umumnya di tepi pendarahan mencari sukacita Ilahi. Ahl al-Şuffah, nama yang diberikan kepada para sahabat yang memutuskan untuk hidup miskin dan mendasar, khususnya pada awal Islam.

Kehadiran tasawuf di dunia Islam masih menjadi ruang prinsip sebagai metode mendekatkan diri kepada Tuhan. Realitasnya tidak pernah musnah bersamaan dengan analisis cepat dan penolakan ide dan pelajarannya. Alam semesta mencari Tuhan ini terus maju menawarkan fakta-fakta alam yang sering dicari oleh orang-orang yang menyerah pada kejeniusan dan pembelajaran. Pada saat keputusan kebijaksanaan tidak mengamati respons, ketika respons saat ini tidak baik, ketika kewarasan terperangkap dalam kegersangan rasa, informasi naluriah secara teratur digunakan sebagai keputusan elektif.

Dengan asumsi otak dapat memahami kehadiran Tuhan dengan akal sehat maka hati dapat merasakan kehadiran Tuhan, bahkan merasakan kedekatan dengan-Nya. Pelajaran utama tasawuf dirasakan oleh para sufi melalui metodologi yang berbeda. Keragaman pendekatan ini kemudian membentuk karakter khusus yang melahirkan dua macam tasawuf, yaitu tasawuf filosofis dan tasawuf sunni. Kemudian, pada saat itu, tasawuf sunni juga dibagi menjadi dua jenis, lebih spesifiknya: tasawuf akhlaqi dan tasawuf ‘amali.

Tasawuf Falsafi

Tasawuf Falsafi adalah aliran dalam tasawuf yang mengkonsolidasikan visi terpesona dan visi bijaksana. Tasawuf ini merupakan akibat dari pertimbangan para tokoh yang dikomunikasikan dalam bahasa filosofis. Tasawuf ini tidak bisa dianggap sebagai tasawuf murni karena telah menggunakan metodologi yang berkepala dingin dan biasa, namun juga tidak bisa dianggap sebagai cara berpikir yang sempurna karena tergantung selera. Pada akhirnya, tasawuf Falsafi adalah perpaduan antara rasa dan proporsi.

Baca Juga:   Memadukan Metode Salaf dan Modern

Sufisme semacam ini dalam beberapa hal disinggung sebagai Irfan atau Gnostik. Teladan yang tercipta bukan hanya sebuah tamasya mendalam yang abstrak, namun perjumpaan-perjumpaan tersebut direkam dan diuraikan, bahkan sebagian dari karya-karya tersebut diakui hanya sebagai efek sampingan dari interaksi dunia lain, misalnya Fusush al-Hikam yang diungkapkan oleh Ibn Arabi. diperoleh langsung dari Nabi melalui pengalamannya di dunia lain.

Tasawuf filosofis ini mengkonseptualisasikan pemahaman pelajarannya dengan mengkonsolidasikan nalar dan sentimen filosofis (dzauq). Meskipun demikian, tasawuf semacam ini seringkali menyatukan renungannya terhadap sumber-sumber naqliyah, namun dengan terjemahan dan artikulasi yang ambigu dan sulit dipahami oleh orang lain.

Tasawuf Amali

Tasawuf ‘amali disebut juga tasawuf tathbīqi (terapan), khususnya tasawuf yang mengkaji bagaimana mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui pengenalan dan wirid dengan harapan mendapatkan kebahagiaan surgawi. Selain itu, ada juga orang yang berpendapat bahwa tasawuf amali adalah ajaran yang dipegang teguh oleh para penganut tarekat (ashhâbut turuq), yang mencakup menghindari sifat-sifat buruk, fokus pada mujâhadah, dengan menghadap Tuhan secara tegas. Tasawuf ‘amali merupakan kelanjutan dari tasawuf akhlaqi karena seseorang yang ingin berhubungan dengan Allah harus menggosok ruhnya. Untuk mencapai hubungan yang nyaman dengan Tuhan, seseorang harus mematuhi dan menjalankan Syariah atau pengaturan yang ketat.

Ketundukan pada pengaturan yang ketat harus diikuti dengan praktik lahiriah dan mendalam yang disebut Tariqah sebagai jalan menuju Tuhan. Dalam praktik lahir dan batin ini, individu akan mengalami kemajuan besar sedikit demi sedikit. Persetujuan terhadap syariah dan praktik lahiriah dan batiniah akan membawa seseorang kepada kebenaran definitif (haqiqah) sebagai pusat syariah dan akhir dari tarekat.

Tasawuf Salafi

Istilah salafiyyah sering digunakan secara bergantian dengan istilah pembaruan (islah) dan pembaruan (tajdid) yang merupakan istilah mendasar dalam pandangan “dulu”. Al-Qur’an menggunakan kata salaf untuk menyebut masa lalu (Surat al-Ma’idah [5]: 95. Salaf adalah nenek moyang yang saleh (as-salaf assalih). Dalam arti luas, salaf berarti kembali ke “kebenaran”.

Baca Juga:   Resep dari Gus Muwaffiq: Agar Punya Keturunan Hebat

Keinginan untuk menangkap kembali esensi Islam di masa awal sering dicap dengan “salafisme”, istilah yang diambil dari bahasa Arab, as-salaf as-salih (leluhur yang saleh). Karena para salaf memperoleh ilmu keislaman langsung dari Nabi Muhammad, maka amalan mereka tetap suci. Pada generasi berikutnya, Islam telah tercemar oleh unsur-unsur budaya dan agama asing sehingga menyimpang jauh dari hukum Allah.

Kalangan salafi menganggap dirinya sebagai seorang pembaharu. Salafisme digunakan untuk menggambarkan organisasi yang sangat luas, mulai dari kelompok yang teguh dalam berdakwah dan berpartisipasi secara damai dalam pemilu hingga kelompok yang percaya bahwa jihad dengan menggunakan kekerasan (jihad kekerasan) adalah satu-satunya cara bagi umat Islam untuk melindungi diri dan meraih kemenangan. tujuan.

Pemaknaan Tasawuf

Sungguh, tasawuf sering dianggap sebagai tindakan zuhud, khususnya disposisi hidup yang pelit. Jelaslah bahwa seorang Sufi adalah seorang Zahid, meskipun demikian, seorang Zahid karenanya bukanlah seorang Sufi. Karena, zuhud hanyalah sebuah waslah atau usaha untuk mendekontaminasi ruh dari godaan dunia dengan tujuan dapat melakukan musyahadah kepada Allah. Selanjutnya, individu yang berpakaian rendah hati, makan sederhana, atau menghuni rumah.

Demikian pula, tasawuf juga sering diartikan sebagai pendidikan karakter sehingga seorang sufi dipandang sebagai banyak cinta individu, fungsi seremonial. Abu Muhammad al-jariri, misalnya, menjelaskan bahwa tasawuf melibatkan masuk atau menghiasi diri dengan orang terhormat dan meninggalkan etika rendah. Sementara itu, Abu Husein an-Nuri menjelaskan bahwa tasawuf adalah kesempatan, kehormatan, meninggalkan sensasi kerepotan dalam setiap demonstrasi menjalankan perintah syara’, liberal, dan liberal. Dengan demikian, sebenarnya tidak diharapkan Hasan al-Bashri dikenal sebagai seorang sufi karena memiliki orang yang terpuji.

Hal lain yang sangat aneh adalah bahwa tasawuf sering dikaitkan dengan hal-hal sakti, hal-hal aneh, atau perilaku aneh yang digerakkan oleh seseorang. Kesucian atau hal-hal yang bersifat kuat, misalnya kemampuan untuk terbang tanpa sayap, berjalan di atas air, memperpendek jarak dengan meruntuhkan bumi, atau mengetahui hal-hal misterius yang kadang terjadi dalam kehidupan sehari-hari juga sering digunakan sebagai tanda untuk memberikan penilaian pada sufisme individu. . Artinya, individu yang dapat melakukan hal-hal luar biasa yang tidak dapat dilakukan oleh individu normal sering disebut sebagai sufi. Terlepas dari kenyataan bahwa tanda-tanda ini pada umumnya bukan kesan seorang sufi, seseorang merasa puas atau senang atas sejumlah besar hadiah ini, yang berarti dia adalah individu yang salah arah dan terperangkap dalam setan dan jelas dia bukan seorang sufi.

Baca Juga:   Indonesia, Bagian dari Keajaiban Dunia

Model-model pentingnya tasawuf sebagaimana digambarkan di atas pada kenyataannya lebih bergantung pada struktur atau tanda-tanda yang muncul dari perkumpulan seseorang yang dipandang sebagai seorang sufi. Untuk situasi ini, mungkin kita perlu mengkaji makna tasawuf yang dimunculkan oleh Abu Bakar al-Kattani. Menurutnya, tasawuf adalah shafa (kejernihan hati) dan musyahadah (melihat Tuhan).

Dengan demikian, tasawuf dalam pandangan al-Kattani memiliki dua perspektif prinsip, yaitu shafâ (kejernihan hati) dan musyahadah (melihat Tuhan). Syafâ dalam tasawuf terletak sebagai wasîlah (sarana atau jalan menuju suatu tujuan). Dengan asumsi bahwa makna ini dirasakan dalam sudut pandang tasawuf, maka pada titik itu yang penting adalah sarana, strategi, teknik, dan upaya untuk menyaring ruh menuju Tuhan.

Sumber

Huda, Sokhi. Tasawuf Kultural Fenomena Shalawat Wahidiyah. Yogyakarta: LKiS, 2008.

Jamil. Cakrawala Tasawuf. Ciputat: Gaung Persada Press, 2004.

Kartanegara, Mulyadhi. Menyelami Lubuk Tasawuf. Jakarta: Erlangga, 2006.

Mughni, Syafiq A. Dinamika Intelektual Islam pada Abad Kegelapan. Surabaya: LPAM, 2002.

Mulyati, Sri. Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2006),

Sviri, Sara. Demikianlah Kaum Sufi Berbicara. Bandung: Pustaka Hidayah, 2002.

 

 

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.