⚡ TERBARU
Quote

Tiga Bahaya di Dunia Menurut Nasihat Mbah Moen

Ketahui tiga bahaya di dunia menurut Mbah Moen, mulai dari hawa nafsu hingga pengangguran dan ketiadaan tujuan hidup.

4 dibaca 0 dibagikan 3 menit baca
Ilustrasi nasihat bijak dan pengingat tentang bahaya kehidupan
“

Telung perkoro iki dadi bahayane dunyo. Siji, wong sing nuruti hawa nafsu. Loro, wong nganggur sing pikirane ora apik. Telu, wong sing ora nduwe karep.

Telung perkoro iki dadi bahayane dunyo. Siji, wong sing nuruti hawa nafsu. Loro, wong nganggur sing pikirane ora apik. Telu, wong sing ora nduwe karep.

Pesan tersebut merupakan salah satu bentuk pengingat berharga yang bersumber dari pemikiran Mbah Moen mengenai berbagai potensi kerusakan yang dapat terjadi di muka bumi. Dalam pandangan tersebut, kerusakan di dunia sering kali tidak muncul dari hal-hal besar yang tampak rumit, melainkan berakar dari tiga sumber utama yang kerap diabaikan dalam keseharian. Ketiga hal ini dinilai memiliki daya rusak yang cukup signifikan terhadap tatanan kehidupan manusia secara pribadi maupun sosial.

Sumber bahaya pertama yang disorot adalah kecenderungan manusia dalam menuruti hawa nafsu tanpa adanya kendali atau rem yang memadai. Ketika hawa nafsu dibiarkan memegang kendali penuh atas diri seseorang, maka tindakan yang dihasilkan cenderung melampaui batas dan mengabaikan nilai moral. Hal inilah yang kemudian menjadi pemicu utama timbulnya berbagai macam dosa serta kerusakan moral yang merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.

Sementara itu, sumber bahaya kedua berkaitan erat dengan kondisi seseorang yang menganggur namun membiarkan pikirannya dikuasai oleh hal-hal yang tidak baik. Waktu luang yang tidak diisi dengan kegiatan positif atau produktif sering kali menjadi celah empuk bagi pikiran negatif untuk berkembang biak. Tanpa adanya pengarahan aktivitas yang jelas, pikiran tersebut dapat bergeser menjadi niat atau angan-angan yang merusak.

Adapun sumber bahaya ketiga yang tidak kalah penting untuk diwaspadai adalah kondisi seseorang yang sama sekali tidak memiliki kemauan atau tujuan hidup. Ketiadaan cita-cita, niat, atau kehendak untuk melangkah maju membuat seseorang kehilangan arah yang jelas dalam menjalani hari-harinya. Hidup menjadi terasa hampa tanpa orientasi yang pasti, sehingga mudah terombang-ambing oleh situasi apa pun tanpa pernah mampu memberikan kontribusi yang berarti.

Menjaga diri agar terhindar dari ketiga hal tersebut merupakan sebuah langkah pencegahan yang sangat esensial bagi siapa saja yang menginginkan keselamatan hidup. Kesadaran untuk senantiasa mengendalikan diri dari jeratan hawa nafsu harus terus dilatih dan dipupuk setiap hari. Dengan begitu, seseorang tidak akan mudah terjerumus ke dalam tindakan-tindakan destruktif yang bersumber dari dorongan instingtif semata.

Di sisi lain, mengisi hari-hari dengan kegiatan yang produktif menjadi cara paling efektif untuk membentengi diri dari dampak buruk pengangguran pikiran. Ketika fisik dan mental disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat, ruang untuk memelihara pikiran negatif akan menyusut dengan sendirinya. Produktivitas harian membantu menjaga kestabilan mental sekaligus mengarahkan energi pada hal-hal yang lebih konstruktif.

Memiliki kemauan yang kuat serta tujuan hidup yang jelas juga akan menyelamatkan seseorang dari kebingungan dan kehampaan. Dengan adanya arah yang ingin dituju, setiap langkah yang diambil menjadi lebih bermakna dan terfokus pada pencapaian kebaikan. Nasihat luhur ini pada akhirnya mengajak setiap individu untuk senantiasa mawas diri dan mengevaluasi kualitas hidupnya masing-masing.

Ketiga poin bahaya dunia tersebut sekaligus menjadi cerminan bahwa kualitas hidup manusia sangat ditentukan oleh bagaimana ia mengelola diri, waktu, dan niatnya. Tanpa adanya kehati-hatian dalam merawat tiga aspek tersebut, seseorang akan lebih rentan menjadi bagian dari sumber kerusakan di muka bumi. Oleh karena itu, renungan ini patut dijadikan bahan instropeksi agar senantiasa berada di jalan yang selamat.

Melalui pesan singkat yang sarat makna ini, pengingat tentang bahaya hawa nafsu, pikiran buruk saat menganggur, dan ketiadaan tujuan hidup terasa amat relevan untuk terus diresapi. Setiap peringatan yang disampaikan mengandung hikmah mendalam agar manusia tidak mudah terbuai oleh kelalaian. Menjauhinya berarti menyelamatkan masa depan kehidupan baik di dunia maupun dalam aspek spiritual.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram

PROFIL PENULIS

Dawuh Guru

Kontributor Penerbit Dawuh Guru.