Teologi Perempuan Asghar Ali Engineer

Asghar Ali Engineer adalah seorang sarjana dan aktivis islam yang eksotis di india. Dia percaya akan pentingnya penunjukkan penghargaan yang sama kepada semua agama dan dia menggap kepercayaan dalam iman sebagai yang paling penting untuk kehidupan yang bermakna dan transformatif. Asghar ali enginer dikenal sebagai cendekiawan muslim yang berpengaruh dalam islamic sosial movement sejak tahun 1970-an. Ia lahir dari sebuah keluarga ulama bohro ortodoks pada 10 maret 1939 di Sulumber, Rajastan india.

Ayah Asghar Ali bernama Sheikh Qurban Husein. Dia adalah pengikut Syiah Ismaili yang kuat dan pernah berpikiran terbuka untuk berdialog dengan pengikut dari agama yang berbeda. Dia adalah seorang pelajar Islam terpelajar yang membantu mendirikan pemimpin ulama Bohro. Seperti yang dijelaskan melalui Asghar Ali Engineer, dia adalah individu yang memiliki kesabaran super ketika umat beragama lain mengundangnya untuk berdialog. Asghar Ali semasa kecil telah melihat seorang pendeta Hindu Brahmana datang untuk berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan ayahnya tentang keyakinannya. Namun ayahnya, kata Asghar Ali, masih percaya pada keyakinannya.

Asghar Ali Engineer bercerita tentang masa kecilnya yang kerap mengalami eksploitasi atas nama agama. Ini telah berlangsung sejak ayahnya tumbuh menjadi seorang sarjana Bohro. Saat itu tidak ada yang berani berdiri melawan sistem yang menindas. Ayahnya sendiri sebagai seorang murid tidak bisa berbuat apa-apa meskipun dalam hatinya dia dengan jujur membencinya. Insinyur Asghar Ali menceritakan bahwa ayahnya harus memilih untuk melayani sistem atau akan meninggal karena kelaparan atau bahkan menghadapi siksaan yang ekstrim.

Berbagai eksploitasi kotor dalam identitas keimanan yang disaksikan selama hidupnya membuatnya serius memikirkan kembali faktor-faktor kritis agama. Dia rajin mempelajari literatur spiritual dari sejumlah sumber yang ditulis melalui Muslim dan Barat, baik yang umum maupun yang modern. Selain itu, Asghar Ali juga mendalami Alquran dan hadits, serta fiqh. Dari integrasi upayanya dalam mempelajari iman ditambah dengan pengalaman hidupnya berurusan dengan kumpulan eksploitasi, membuatnya menjadi seorang pemikir dan aktivis dengan sudut pandang liberal, modern dan demokratis.

Baca Juga:   Nyantri Kok Pacaran, Padahal Sudah Dilarang Pengurus!

Asghar Ali Enginer menemukan bahwa wanita saat ini tidak diperlakukan sama dibeberapa tempat muslim. itulah yang ia perjuangkan untuk berubah. Keadilan dan kesetaraan tidak bisa dipisahkan, dan dia percaya bahwa iman yang benar tidak akan mengarah pada peperangan untuk keadilan dan perdamaian. Hal ini dapat menciptakan eksistensi yang seimbang antara pria dan wanita. Meski secara tradisional telah menjadi dominasi peran laki-laki yang bermuara pada doktrin keadilan antar laki-laki dan perempuan.

Menurut Asghar Ali secara normatif Al-Qur’an menegaskan pemikiran persamaan reputasi antara laki-laki dan perempuan. Pemikiran tentang kesetaraan mengandung dua hal. pertama, dalam arti yang sudah dikenal, keterampilan menerima martabat setiap jenis kelamin atas dasar yang sama. Kedua, orang harus memahami bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dibidang sosial, keuangan, politik. keduanya perlu memiliki hak yang sama untuk masuk ke dalam kontrak perkawinan atau memutuskannya, keduanya harus memiliki hak untuk pribadi atau mengelola harta benda mereka tanpa ada campur tangan yang berbeda, masing-masing bebas memiliki pekerjaan atau cara hidup, keduanya menjadi setara dalam kewajiban seperti dalam kebebasan.

Menurut Asghar Ali,dalamAl-Qur’an telah ditetapkan bahwa antara laki-laki dan perempuan adalah sederajat, hal ini terutama berdasarkan al-qur’an yang menyatakan bahwa setiap jenis kelamin memiliki tempat permulaan yang identik dari makhluk hidup, dan karena memiliki hal yang identik. Mengenai kepercayaan ini, Asghar Ali menggunakan dasar dari surah an-nisa’ ayat 1, dimana frase nafs dalam ayat tersebut digambarkan sebagai “Makhluk hidup”. Dengan mengartikan frase nafs dengan arti “Makhluk hidup” Asghar Ali menolak pendapat bahwa hawa diciptakan dari tulang rusuk adam.

Mengenai Hak, peran dan kedudukan perempuan, Asghar Ali berpegang pada surah Al-Ahzab ayat 35, sebagaimana menyebutkan bahwa ayat ini berulang kali menyatakan bahwa perempuan memiliki kemungkinan yang sama denga laki-laki dalam mencapai taraf kebaikan. Meskipun Al-Qur’an secara normatif mendukung reputasi yang setara antar laki-laki dan perempuan, Secara kontekstual Al-qur’an menyatakan bahwa ada kelebihan laki-laki atas perempuan. Menurut Asghar Ali, kelebihan yang dimiki laki-laki terhadap wanita bukan karena jenis kelamin, namun karena fakta konteks sosial. Perkawinan sebagai sebuah organisasi yang diilhami oleh islam karena kehidupan berkeluarga tidak hanya menjamin kelangsungan hidup manusia, tetapi juga menjamin kemantapan sosial dan eksistensi yang bermartabat bagi laki-laki dan perempuan.

Baca Juga:   Ketua MUI Kab. Sukabumi: Almarhum Habib Hamid bin Alwi bin Hud Al Attas Pembawa NU di Sukabumi

Berbicara tentang perempuan, Al-Qur’an secara aksplisit mengakui perempuan sebagai entitas kriminal dan juga memberi mereka hak dalam perkawinan, perceraian, harta benda dan warisan. Oleh karena itu Al-qur’an menyarakan bahwa perempuan harus diperlakukan sama. Menurut Asghar Ali masalah ini disebutksn dalam surah At-taubah ayat 71. Dalam ayat ini, dimata Allah SWT laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama. Hal ini diperkuat dengan menggunakan wahyu surah Al-Ahzab ayat 35. Lebih lanjut Asghar Ali menyatakan bahwa perempuan tidak semata-mata berhak mendapatkan penghasilan, tetapi juga apa yang diperolehnya menjadi miliknya. hasilnya tidak dapat dibagikan sesuai dengan preferensi mereka kecuali dengan keinginan perempuan itu sendiri.

Terkait perempuan dalam keluarga, Asghar Ali juga mengkritik mufasirin ortodoks yang telah melakukan diskriminasi yang bertentangan dengan gaya hidup istri di keluarganya. kritik ini dilontarkan karena para mufasirin senantiasa menyamar dalam tafsir qawwam. Asghar ali sendiri mengetahui qawwam sebagai kewajiban laki-laki untuk menjaga perempuan. selain itu juga melihat fungsi perempuan dalam keluarga. Asghar ali juga menyebutkan kat qanitat dan nusyuz. frasa qanitat dalam konteks ini digambarkan sebagai ketaatan manusia kepada tuhan dan suaminya. Sedangkan nusyuz bertindak terhadap suami dengan tujuan berdosa. Selain itu, mengutip pendapat parvez (komentator dari Pakistan), Asghar ali melihat bahwa frasa nusyuz harus dipahami sebagai istri dan suami.

Dalam buku lain, Asghar ali juga berpendapat bahwa pandangan yang membatasi perempuan pada urusan rumah tangga adalah pandangan yang sekarang tidak ada dalam al-qur’an. Baginya seorang wanita dapat memainkan peran apapun dalam keberadaan (termasuk kehidupan rumah tangga) tanpa melanggar hudud Allah SWT.

Dalam ekonomi industri mutakhir, dalam pandangan Asghar Ali, kebutuhan perempuan untuk memainkan peran yang semakin pasif. Mereka harus bekerja untuk memastikan kehidupan keluarga yang makmur. Apa yang Alquran butuhkan adalah bahwa laki-laki perlu menyediakan separuh lainnya sebagai imbalan atas istri mereka yang telah membesarkan anak. Secara keseluruhan, al-Qur’an pada dasarnya mengakui kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan rumah tangga, sebagaimana didefinisikan dalam surat al-Baqarah ayat 23 yang menyatakan bahwa seorang ibu tidak boleh lagi mengalami kesengsaraan karena bayinya dan ayah yang berhak. fakta anaknya.

Baca Juga:   Etika dan Birokratisasi Santri di Era Digitalisasi

Menurut Asghar ali, berbicara tentang peran perempuan yang harus dialami, moralitas dan etika bukan lagi satu-satunya gagasan yang tidak terpengaruh oleh tren cara berpakaian di masyarakat. Moralitas masing-masing bersifat normatif dan kontektual. Jika anggapan normatif dalam batasan-batasan yang pernah dilakukan terhadap perempuan dimasa lalu adalah untuk melindungi kesucian mereka, Asghar ali mencontohkan, langkah demi langkah kesucian tubuh menjadi identik dengan purdah itu sendiri.

Sumber:

Muhammad`In Am Esha, Rethinking kalam: Sejarah sosial pengetahuan islam, mencermati dinamika dan aras perkembangan kalam kontenporer, (Yogyakarta: eLSQA Press, 2006), hlm 75.

Yunahar Ilyas, Feminisme dalam kajian Tafsir Al-qur’an klasik dan kontenporer, Yogyakarta, Pustaka pelajar, 1998, hlm 4.

Asghar Ali Enginer, hak-hak perempuan dalam islam, terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf, Yogyakarta, Pustaka belajar, 2000, hlm 65

Asghar Ali Enginer, hak-hak perempuan dalam islam, op.cit, hlm 68-69

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.