Tentang Membaca dan Membacakan Orang

Pada suatu sore yang mendung, suami saya baru saja tiba dari beraktivitas di luar. Seperti biasa, ada dialog panjang antara kami berdua. Sembari mengaduk jahe hangat untuknya, kami menghabiskan waktu menjelang maghrib dengan bercengkrama dan bertukar pikiran di ruang makan. Dia bercerita banyak hal tentang kegiatannya hari ini, tentang bapak ibu, tentang santri-santrinya, tentang kepenatan dan unek-uneknya, beserta segala ide gila dan rencana-rencana besarnya.

Saya pun selalu siap menjadi pendengar setia yang baik hati (dan tidak sombong), dan tentu saja diikuti dengan body gesture yang tampak meyakinkannya bahwa saya sedang sangat menyimak dan memperhatikan dirinya: manggut-manggut.

Bahagia dan bersyukurnya saya, selalu ada pesan tersirat ketika beliau bicara. Sekalipun kepada saya, yang sudah menjadi siapa-siapanya. Bukan, tentu bukan dengan maksud menggurui, tapi sekali dia berpesan, selalu ada unsur hikmah bagi siapapun yang mendengarkan, meskipun disampaikan sambil haha-hihi.  Sehingga, pendengar jadi terdidik tanpa merasa seolah-olah berhadapan dengan pak bos.

“Dek, tau nggak? Membaca orang dengan membacakan orang itu berbeda dan kita harus bisa membedakannya. Membaca orang itu penting, untuk mengetahui pola pikirnya, cara decision making-nya, untuk memahami pola tindakan yang akan dilakukannya di masa depan baik terhadap kita maupun orang lain. Hal ini sebagai langkah preventif yang bijak agar kita tidak terlibat masalah terlalu dalam dengannya atau paling tidak, kita bisa meminimalisir segala kemungkinan buruk yang terjadi, terutama dalam hal berorganisasi atau urusan lembaga. Tapi, membacakan orang, terlebih di hadapan orang lain itu jangan, alias nggak boleh, karena nggak penting banget. Sama saja dengan ghibah atau rasan-rasan” jelasnya.

Saya menyadari, sebagai manusia banyak sekali kekurangan dan hal yang harus kita jaga. Terutama sebagai perempuan yang punya lidah sendiri. Terkadang kita terbawa suasana kawan yang bercerita yang menjurus kepada ghibah sehingga menjerumuskan. Atau sebaliknya, malah justru kita yang memulai cerita, dengan kedok curhat dan membawa suasana ghibah itu sehingga turut menjerumuskan teman-teman kita ke dalam jurang neraka. Padahal ternyata itu nggak baik.

Tapi udah tau nggak baik kok masih diterusin aja ya? wkwk. Curhat pun seharusnya hanya disampaikan kepada seseorang yang dipercaya saja kan? Itupun dengan tujuan releasing stress untuk membuang energi negatif, biar plong. Alias biar nggak semakin menjadi beban psikologis. Bukan kepada orang sekampung pas pengajian atau pas acara ibu-ibu PKK.

Suami saya kemudian meneruskan, “pura-pura bodoh untuk lebih banyak melihat dan mendengar itu lebih baik, daripada lebih banyak bicara terus keminter. Kecuali memang ada ilmu yang harus kita sampaikan. Semakin banyak variabel yang kita temukan dan mampu kita cocokkan, semakin valid hasil bacaannya,” tuturnya.

Pantas saja Baginda Nabi berkata, “man kaana yu’minu billahi wal yaumil aakhiri, fal yaqul khoiron au liyashmut”, yang jika diterjemahkan artinya, “barang siapa berimana kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi tau kan, kalau menjaga lidah ini sebenarnya juga merupakan salah satu jihad terbaik di dunia. (Terus di belakang ada yang jawab, “udah tau kok!”.

Sebagai pamungkas, izinkan saya juga mengutip kalimat dari Mr. Socrates yang juga banyak menginspirasi filsuf muslim dunia, “Smart people learn from everything and everyone. Ordinary people learn from the experience. But stupid people already have all the answer”. Semakin banyak ilmu yang kita resap, akan semakin terbuka hati seseorang bahwa dirinya jauh dari kata ‘pintar’ karena semakin sadar ia betapa luasnya ilmu Allah, sedangkan yang ia kuasai baru se-upil saja.

Semoga kita selalu diberikan hidayah untuk jadi pembaca yang baik, sekaligus tidak keminter.

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *