Tasawuf Hasan al-Basri

Oleh: Lisa Mufidatur Rohmah

Seiring perkembangan kemajuan teknologi dan sains, agama perlahan mulai terabaikan. Manusia dengan segala potensinya kini berusaha mengejar pengetahuan dengan daya nalar dan akalnya untuk memudahkan segala urusannya di dunia. Dalam proses menginstankan kehidupan ini, posisi agama semakin mengalami krisis sehingga mulai bermunculan klaim bahwa agama sudah tidak relevan lagi dengan kemajuan zaman.

Di tengah arus modernisasi yang terus mengalami perubahan. Manusia dituntut untuk terus bertarung dalam perkembangan dunia globalisasi, teknologi, dan komunikasi. Yang lamban, akan gugur, yang tak disiplin akan jatuh, yang tak berjuang akan menyerah di persimpangan jalan, dan yang tak mempunyai prinsip hidup akan terombang ambing menjadi tak jelas arah tujuan hidupnya. Begitulah apa yang terjadi dalam dunia post-modernisme. Begitu cepatnya akses informasi dan komunikasi menuntut manusia harus semakin giat dalam persaingan. Siapapun yang lengah dan hanya bersantai-santai akan sulit bertahan.

Tentu saja tidak secara generalisasi semua manusia lalu membangga-banggakan sains kemudian melupakan agama, sehingga dalam keadaan terparah ia menjadi atheis. Di tengah carut-marutnya dunia seiring perkembangan ilmu pengetahuan, ternyata manusia justru mulai melakukan pendekatan kembali kepada Tuhan melalui ajaran-ajaran agama. Terutama semenjak krisis spiritual yang melanda umat manusia karena mereka terlalu mebangga-banggakan dunia materi. Atas semangat inilah muncul berbagai kalangan yang berusaha mengkaji lebih dalam ajaran-ajaran Islam, khususnya pada aspekEsoteris Islam, yakni Islam sebagai nilai-nilai kerohanian di samping Islam formal yang cenderung hanya sebatas praktek semata.

Aspek Esoteris Islam ini sering dikenal dengan sebutan Ilmu Tasawuf. Tasawuf dalam sejarahnya pertama kali muncul karena para zahid yang tinggal di Serambi Masjid Nabawi. Mereka adalah golongan orang-orang yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, jauh dari kemewahan duniawi, dan sangat taat kepada Allah dan Rasul-Nya.4 Banyak ahli yang mendefinisikan tasawwuf sebagaimana dijelaskan dalam buku-buku tasawuf. Ada pula yang mengatakan bahwa asal kata tasawuf yaitu “shufi” bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi bahasa Yunani lama yang di-Arabkan. Asalnya “theosofi”, artinya ilmu ke-Tuhanan.

Disamping itu ada pula yang mengarahkan tasawwuf sebagai proses penyucian jiwa sebagaimana sumber kalimatnya sendiri “shafa” yang berarti suci. Ilmu Tasawuf inilah yang coba dikejar dalam rangka menghadirkan esensi, ruh, dan nilai spiritual untuk memenuhi batin yang kering. ajaran tasawuf lebih mengedepankan prilaku dan akhlak yang terpuji dengan berbagai amalannya, lebih berkonsentrasi pada perbaikan akhlak pada upaya-upaya menghindari akhlak yang tercela sekaligus mewujudkan akhlak yang terpuji di dalam diri. Adapun salah satu tokohdari tasawuf ialah Hasan al-Bashri.

Baca Juga:   Penafsiran Al-Qur’an Menurut Abdul Karim Soroush

Nama asli dari Hasan Al-Basri adalah Abu Sa’id Al Hasan bin Yasar. Beliau dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Khoiroh, dan beliau adalah anak dari Yasaar, budak Zaid bin Tsabit. tepatnya pada tahun 21 H di kota Madinah setahun setelah perang shiffin, ada sumber lain yang menyatakan bahwa beliau lahir dua tahun sebelum berakhirnya masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al- Khattab. Khoiroh adalah bekas pembantu dari Ummu Salamah yang bernama asli Hindi Binti Suhail yaitu istri Rosullullah SAW.

Sejak kecil Hasan Al-Basri sudah dalam naungan Ummu Salamah. Bahkan ketika ibunya menghabiskan masa nifasnya Ummu Salamah meminta untuk tinggal di rumahnya. Dan juga nama Hasan Al-Basri itupun pemberian dari Ummu Salamah. Ummu Salamahpun terkenal dengan seorang puteri Arab yang sempurna akhlaknya serta teguh pendiriannya. Para ahli sejarah menguraikan bahwa Ummu Salamah paling luas pengetahuannya diantara para istri-istri Rosullah SAW lainnya. Seiring semakin akrabnya hubungan Hasan Al-Basri dengan keluarga Nabi, berkesempatan untuk bersuri tauladan kepada keluarga Rosullulahdan menimba ilmu bersama sahabat di masjid Nabawy.

Dan ketika menginjak 14 tahun, Hasan Al-Basri pindah ke kota Basrah ( Iraq ). Disinilah kemudian beliau mulai dengan sebutan Hasan Al-Basri. Kota Basrah terkenal dengan kota ilmu dalam daulah Islamiyyah. Banyak dari kalangan sahabat dan tabi’in yang singgah di kota ini. Banyak orang berdatangan untuk menimba ilmu kepada beliau. Karena perkataan serta nasehat beliau dapat menggugah hati sang pendengar. Kemudian pada tahun 110 H, tepatnya pada malam jum’at diawal bulan Rajab beliau kembali ke rahmatullah pada usianya yang ke 80 tahun. Banyak dari penduduk Basrah yang mengantarkan sampai ke pemakaman beliau. Mereka merasa sedih serta kehilangan ulama besar, yang berbudi tinggi, soleh serta fasih lidahnya.

Baca Juga:   Konsep Pemikiran Ibnu Khaldun Mengenai Filsafat Sejarah dari Sudut Pandang Islam

Dalam pengenalan Tasawuf beliau mendapatkan ajaran tasawuf dari Huzaifah bin Al-Yaman, sehinggan ajaran itu melekat pada dirinya sikap maupun perilaku pada kehidupan sehari-hari. Dan kemudian beliau dikenal sebagai Ulama Sufi dan juga Zuhud. Dengan gigih dan gayanya yang retorik, beliau mampu membawa kaum muslim pada garis agama dan kemudian muncullah kehidupan sufistik. Dasar pendirian yang paling utama adalah Zuhud terhadap kehidupan dunia, sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan dunia.

Hasan Al Basri mangumpamakna dunia ini seperti ular, terasa mulus kalau disentuh tangan, tetapi racunnya dapat mematikan. Oleh sebab itu, dunia ini harus dijauhi dan kemegahan serta kenikmatan dunia harus ditolak. Karena dunia bisa membuat kita berpaling dari kebenaran dan membuat kita selalu memikirkannya.

Prinsip kedua ajaran Hasan Al basri adalah Khauf dan Raja’, dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalaikan perintah Allah. Merasa kekurangan dirinya dalam mengabdi kepada Allah, timbullah rasa was was dan takut, khawatir mendapat murka dari Allah. Dengan adanya rasa takut itu pula menjadi motivasi tersendiri bagi seseorang untuk mempertinggi kualitas dan kadar pengabdian kepada Allah dan sikap daja’ ini adalah mengharap akan ampunan Allah dan karunia-NYA. Oleh karena itu prinsip-prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk melakukan muhasabah agar selalu mamikirkan kehidupan yang hakiki dan abadi.

Hasan Al Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat takwa, wara’ dan zuhud pada kehidupan dunia yang mana dikala masanya banyak dari kalangan masyarakt khususnya dari kalangan atas yang hidup berfoya-foya. Yang mana kezuhudan itu masih melekat ajarannya dari para ulama-ulama lainnya pada masa sahabat. Yang mana ajran beliau masih kental ataupun berdasarkan Al Qur’an dan Hadist nabi, untuk itu beliau termasuk golongan Tasawuf Sunni.

Pandanga tasawuf Hasan al-Bashri adalah anjuran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan semua yang diperintahkan Tuhan kepada makhluk-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sya‟rani berkata” Demikian takutnya sehingga seakan-akan ia merasa bahwa neraka itu hanya dijadikan untuk ia”. Hamka juga mengemukan sebagian tentang ajaran tasawuf Hasan al-Bashri sebagai berikut:
1. Perasaan takut, menyebabkan hati tentram lebih baik daripada rasa tentram yang menimbulkan rasa takut.
2. Dunia adalah negeri tempat untuk beramal.
3. Takafur, akan membawa kepada kebaikan dan berusaha mengerjakan hal-hal yang baik dan menyesal atas perbuatan jahat menyebabkan untuk tidak mengulanginya lagi.
4. Orang yang beriman, akan senantiasa bersedih pada pagi dan sore hari, sebab berada di antara dua perasaan takut yaitu, takut mengenang dosa yang telah lalu dan takut memikirkan kematian yang akan menjemput serta bahaya yang akan mengancam.
5. Kesadaran setiap orang bahwa setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, hari kiamat yang akan menagih janjinya.
6. Banyak duka-cita di dunia merupakan suatu tindakan yang akan memperteguh semangat dalam beramal saleh.
Ajaran tasawuf Hasan al-Bashri tersebut bukan berdasarkan rasa takut kepada siksaan Tuhan, tetapi kebesaran jiwanya akan kekurangan dan kelalaian dirinya yang mendasari tasawufnya. Di antara ajaran tasawuf Hasan al-Bashri dan senantiasa menjadi yang selalu menjadi bahan sebutan (pembicaraan) orang kaum sufi adalah “Anak Adam! Dirimu, diriku! Dirimu hanya satu, Kalau ia binasa, binasalah engkau, Dan orang yang telah selamat tak dapat menolongmu, Tiap-tiap nikmat yang bukan surga adalah hina, Dan tiap-tiap bala bencana yang bukan .neraka adalah mudah.

Baca Juga:   Abu Bakar Aceh dan Kontribusinya dalam Teologi Islam

Sumber
Komarudin Hidayat dan Muhammad wahyuni nafis, Agama masa depan perspektif filsafat perennial, Gramedia pustaka utama, Jakarta. hal 15.
A.suyuti, percik-percil kesufian, penerbit pustaka hidayah, Bandung 2002.
Ahmad Najib Burhani. sufisme kota.
Anwar, Rosidah dan solihin, mukhtar M,Ag, Kamus tasawuf. Remaja Rosdakarya, Bandung 2002.
Musthofa, Ahmad. Akhlak tasawuf. pustaka setia, Bnadung. cet IV hal 214.

Biografi

Nama : Lisa Mufidatur Rohmah

Asal : Tuban, jawa timur

Status : Mahasiswa

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.