Sunan Bonang Menggugat Aliran Sesat dengan Kitab Tasawuf Beraksara dan Berbahasa Jawa

Oleh: Rozaq Muhammad*

Secara umum kita sepakat bahwa masa-masa kejayaan dakwah Islam di tanah Jawa adalah pada masa ‘wali Songo’, yaitu sekitar abad ke 15-16 Masehi. Strategi dakwah para wali tersebut berhasil masuk jauh ke dalam jantung kebudayaan dan filsafat masyarakat Jawa, sehingga ajaran Islam lebih mudah dicerna oleh masyarakat Jawa.

Kebudayaan Jawa yang sudah terpengaruh ajaran Hindu, Buddha, dan agama-agama lokal seperti Kapitayan, ‘Animisme’ dan ‘Dinamisme’, sarat kental dengan ajaran filosofis yang tinggi. Filsafat tentang ketuhanan, wujud Tuhan, sifat-sifat Tuhan, penguasa langit, bumi, api, air, udara, padi, dan lain-lain, membuat para wali harus lebih kreatif dalam meramu pokok-pokok ajaran Islam dengan bahasa yang mampu menembus konsep-konsep filsafat tersebut.

Tetapi ternyata tantangan dakwah para wali tersebut tidak hanya mengolah pokok-pokok ajaran Islam agar diterima masyarakat Jawa, namun juga melawan berbagai aliran Islam dengan konsep tauhid yang sesat dan menyesatkan. Benar dikatakan bahwa aliran Islam yang sesat sudah ada di Jawa bahkan sejak masa-masa awal penyebaran agama Islam.

Sunan Bonang kemudian menulis kitab tasawuf -beraksara dan berbahasa Jawa- yang berisi tentang ajaran tauhid Islam yang lurus, dalam rangka membentengi masyarakat Jawa-Islam dari gempuran pemahaman-pemahaman tauhid yang keliru. Kitab tersebut berjudul “Kitab primbon Sunan Bonang”, yang kemudian dipakai B.J.O Schrieke menulis buku Het boek Van Bonang. Dalam kitab ini Sunan Bonang menyebut aliran-aliran sesat tersebut sebagai “wong sasar” dan “sasar setengah”.

Beberapa aliran tauhid yang dianggapnya sesat, di antaranya adalah:

  1. Pandangan Tauhid dari Abdul Wahid Ibn Makkiyah.

Disebutkan dalam kitab tersebut Abdul Wahid berpandangan, “Al ‘atlu qadiimun wa huwa nafsul mutlaqi wa huwa dzatullahi ta’ala”. Terjemahan bebasnya kurang lebih adalah “sepanjang garis keabadian Dia adalah yang mutlak dan Dia adalah Dzat Allah Ta’ala”.

Lebih lanjut Abdul Wahid berpandangan, “walakin laisa lidzatihi waqifun” yang artinya “akan tetapi sesungguhnya Dzat Allah itu tidak memiliki batas” Dan “walakinna qabla khalqi rasuuli muhammadin” yang artinya “dan sesungguhnya (Allah sudah ada) sebelum penciptaan Muhammad”.

Abdul Wahid berpandangan bahwa, Allah adalah Dzat yang maha awal dan Dia adalah yang menciptakan Nur Muhammad. Nur Muhammad merupakan makhluk yang diciptakan-Nya pertama kali sebelum menciptakan makhluk yang lain. Setelah Nur Muhammad diciptakan, kalimat pertama yang diucapkan Nur Muhammad adalah pujian kepada Allah yang menciptakan. Dengan kata lain, sebelum Nur Muhammad diciptakan Dia sendirian, tidak ada yang menyamai, dan juga tidak ada yang memuji-Nya.

Pandangan tersebut dianggap sesat oleh Sunan Bonang karena berpandangan bahwa Allah terpuji karena dipuji. Padahal Allah tetap memiliki sifat terpuji walaupun tidak ada yang memuji-Nya. Kemudian Sunan Bonang menukil pendapat Syaikh al-bari yang mengatakan, bahwa pandangan tersebut tertolak oleh empat madzhab.

  1. “Allah itu antara ada dan tiada”

Pandangan selanjutnya mengenai Allah yang disebut Sunan Bonang sebagai orang yang “sasar setengah” adalah yang mengatakan bahwa “i(ng)kang ana iku Allah; i(ng)kang ora iku Allah” atau “yang ada adalah Allah, yang tidak ada adalah Allah”. Jadi Allah itu antara ada dan tiada.

Dalam beberapa filsafat tauhid kita sering menjumpai pemahaman yang mengatakan bahwa Allah adalah maha “kosong” atau “suwung” atau yang maha Ada namun tidak dapat diidentifikasi keberadaan-Nya. Lebih lanjut dikatakan bahwa Ketiadaan wujud Allah adalah dengan tidak menjadikan sesuatu.

Ini perlu kehati-hatian penuh untuk memahaminya. Maka dari itu Sunan Bonang memilih kata “sasar setengah” atau setengah tersesat. Dalam artian mereka masih mengimani bahwa Allah adalah maha segalanya yang kekal atas diri-Nya sendiri dan tidak terpengaruh oleh sesuatu selain diri-Nya, walaupun ada sedikit pemahaman yang keliru terhadap wujud dan sifat Allah.

  1. Aliran Kawibataniyah atau aliran kebatinan

Aliran ini dianggap sesat oleh Sunan Bonang karena berkeyakinan bahwa Allah tidak punya peran penuh atas takdir manusia. Bahwa manusia bisa menentukan takdirnya sendiri. Ini mirip dengan pandangan faham Mu’tazilah, bahwa tidak mungkin ada hisab jikalau Allah sudah menakdirkan seluruh kejadian.

Kemudian dijawab oleh Sunan Bonang dengan mengutip pendapat Syaikh al-bari bahwa yang berkeyakinan seperti itu adalah kafir dan bertempat di neraka. Karena manusia tidak bisa memilih takdirnya sendiri jika Allah tidak menghendaki.

  1. Aliran Karramiyah

Aliran ini merupakan pengaruh dari pemahaman Abdullah Muhammad bin Karramiyah yang berpendapat bahwa Allah duduk di atas singgasana-Nya di Arsy. Dengan kata lain aliran ini telah menyamakan Dzat Allah dengan makhluk.

Selain itu aliran ini juga disebut memiliki pendapat bahwa, iman adalah ketika kita berkeyakinan bahwa Allah itu maha segalanya tanpa ada yang menyerupai. Kemudian Tauhid adalah ketika kita dapat melihat Allah dalam setiap apapun yang kita lihat. Kemudian makrifat adalah ketika “kebingungan” atau “tidak mengetahui” ke-ada-an dirinya. Yang terakhir ini mirip dengan pandangan al-Hallaj, “barangsiapa yang bingung, maka ia telah sampai”.

“sira pangeran aneguhaken ing piambekira yen purba tanpa kufu’ iku tegesing iman, sira pangeran anu(ng)gal paningaling piambekira iku tegesing tohid, sira pangeran awas andulu-dinulu ing ananing piambekira iku tegesing ma’rifat.”

  1. Aliran Arabiyyah

Aliran ini merupakan pengaruh dari pemikiran Ibnu Arabi yang mengatakan bahwa, dzat Allah bersifat Qadim sementara Sifat af’al Allah bersifat baru. Arabiyyah mengibaratkan Tuhan sebagai pohon dan makhluk-Nya sebagai daun dan buah.

Mineral pembentuk daun dan buah sudah tersimpan di dalam pohon bahkan sebelum pohon itu berdaun dan berbuah, namun daun dan buah itu keluar belakangan. Maka dari itu Arabiyyah berpendapat bahwa sifat af’al Allah bersifat muhdast atau baru.

Pendapat ini ditentang oleh Sunan Bonang karena menurut Sunan Bonang baik Dzat maupun Sifat Allah itu bersifat Qadim, tidak terpengaruh ruang dan waktu. Ketetapan Allah bersifat Qadim dan tidak terpengaruh ruang dan waktu.

Sunan Bonang mengutip pendapat Syaikh al-bari bahwa hal tersebut merupakan rahasia besar Allah. Makhluk merupakan barang baru, namun kehendak Allah tidaklah demikian. Berkata Sunan Bonang dengan mengutip Syaikh al-bari dalam kitab tersebut:

“e Mitraningsun ! Ana si sabda kang kocap ing sastra ika kadi ta andikaning dalil dateng ing h’adith : alinsanu sirri wa ana sirruhu”. “wahai sahabatku! Adapun pendapat yang tertulis dalam kalimat tersebut adalah seperti yang difirmankan Allah dalam hadist (Qudsi), Insan (manusia) adalah rahasia(Ku), dan Aku (Allah) adalah rahasianya”. Maka cukuplah bagi kita (manusia) untuk mengimani sirrullah dalam sifat-sifat-Nya.

Di akhir kitab ini Sunan Bonang mewanti-wanti agar para pengikut ajaran Islam selalu berhati-hati terhadap filsafat-filsafat tauhid yang menyesatkan. Jangan ada kompromi untuk urusan tauhid, karena ditakutkan akan terpeleset kepada pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan kaidah tauhid ala ahlussunah wal jamaah.

Andaikan pada waktu itu strategi dakwah Wali Songo gagal melawan aliran sesat tersebut, maka kemungkinan yang berkembang di masyarakat Jawa pada saat itu adalah agama Islam dengan konsep tauhid yang menyimpang itu. Karena aliran-aliran yang dianggap  sesat oleh sunan Bonang itu juga menggunakan konsep filsafat yang mampu merasuk ke alam kebatinan masyarakat Jawa.

Dalam mempelajari tasawuf, kebanyakan orang sering mencapai fase ketagihan akan filsafat mengenai eksistensi dirinya dan Tuhannya. Pemahaman-pemahaman ‘filsafat ketauhidan’ baik dari Arab maupun Jawa akan terasa seksi bagi penikmatnya. Inilah yang berbahaya. Pondasi-pondasi tauhid harus dibangun dahulu secara kokoh sebelum masuk pada pembahasan aliran-aliran filsafat ketauhidan. Wallahu a’lam.

*Rozaq Muhammad (Mahasiswa Magister Ilmu Sejarah UGM)

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *