Story Telling: Kenalkan Pribadi Rasulullah Yang Santun Dan Bersahabat

Dunia anak adalah dunia imajinasi. Kalimat ini tentu tidaklah asing di telinga kita. Anak-anak memiliki cara yang unik dan menakjubkan dalam membangun “dunia” mereka. Disebutkan dalam sebuah artikel yang berjudul “ `World Of Imagination` Dunia Dongeng Dan Imajinasi Anak” bahwa imajinasi terlahir dari proses mental yang manusiawi, selain itu imajinasi adalah bagian dari aktivitas otak kanan yang tentu sangat bermanfaat bagi kecerdasannya.

Untuk menumbuhkan imajinasi, anak-anak perlu mendapat respon secara positif atas imajinasi yang tengah mereka bangun. Sempatkan waktu untuk menemani mereka bermain dan ajak mereka berinteraksi. Selain itu, imajinasi juga perlu distimulus, salah satunya dengan story telling, yaitu kegiatan menyampaikan sebuah cerita. Maka dongengkan kepada mereka kisah-kisah yang memiliki nilai karakter yang baik.

Storry telling menjadi metode yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau amanat dari sebuah cerita baik tentang nilai, etika, norma budaya serta perbedaan. Tidak hanya itu, metode ini juga dapat digunakan sebagai jembatan membangun hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak. Pendekatan ini juga populer di lingkungan pendidikan. Tidak jarang, para pendidik menggunakan metode ini untuk menarik perhatian peserta didik sekaligus membangun hubungan yang dekat dengan mereka.

Kegiatan mendongeng memberikan kesempatan pada story teller (Si pendongeng) untuk menyentuh hati anak didik. Kisah yang berkesan, menjadi memorable bagi mereka. Demikian ini akan memudahkan orangtua atau pendidik di sekolah untuk mentransfer nilai positif serta menanamkan pendidikan karakter kepada mereka selaku pemegang tongkat estafet kehidupan berikutnya.

Dalam Islam, pendidikan merupakan transfer nilai yang menempatkan Rasulullah sebagai guru mulia bagi seluruh insan. Segala tutur kata, sikap dan ketetapan beliau adalah proses pendidikan. Rasulullah adalah pribadi yang santun. Akhlak beliau adalah Al Qur`an. Manuskrip sejarah telah mencatat tentang keunggulan pekerti beliau. Menghadirkan kisah beliau di tengah keringnya nilai keteladanan pada zaman ini, seperti sebuah oase yang menyejukkan.

Rasulullah adalah teladan terbaik sepanjang masa. Maka kisahkan pada anak-anak tentang kehidupan dan pribadi Rasulullah yang mulia. Ceritakan pada mereka tentang kesabaran beliau menghadapi pembencinya, tentang kebaikan beliau sekalipun kepada musuhnya, tentang gelar “Al Amin” yang disandangkan padanya, tentang kasih sayang beliau kepada keluarganya, tentang kedekatan beliau bersama sahabat-sahabatnya, tentang besarnya cinta beliau kepada ummatnya. Keteladanan Rasulullah tidak pernah habis diperbincangkan.
Kehidupan beliau tidak melulu soal pedang dan perang. Kegigihan beliau dalam membela Islam memang patut diteladani.

Tapi sangat disayangkan jika kisah peperangan Rasulullah lebih mewarnai imajinasi anak – anak. Kekhawatiran ini juga pernah diungkapkan oleh Haidar Bagir dalam bukunya “Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia”. Pada halaman 194 beliau menuliskan, “Saya khawatir banyak anak-anak sekolah yang di benaknya terpikir bahwa sebagian besar masa hidup Nabi itu berperang. Padahal, menurut penelitian, jika dijumlahkan, seluruh perang Nabi itu memakan waktu total 800 hari”. Jika dihitung, angka tersebut hanya 10% dari 8000 hari (kurang lebih) masa kenabian Nabi Muhammad atau yang setara dengan 23 tahun.

Sedang penelitian lain malah berpendapat, total hanya 80 hari yang digunakan Nabi untuk berperang. Ini karna tanpa menghitung hari persiapan untuk berperang serta agenda sariyah (ekspedisi) yang tak berujung pada peperangan. Padahal Nabi Muhammad menjadi Nabi selama 23 tahun, setara dengan 8000 hari, maka berarti hanya 1% dari karir kenabian Nabi Muhammad yang dipakai untuk berperang. Lalu bagaimana Nabi menjalani hidupnya selama 90% atau bahkan 99% dari masa kenabiannya? Beliau lebih banyak menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengajarkan akhlak mulia. Beliau adalah hamba Allah yang mengemban amanah untuk menebar Rahmat bagi seluruh alam.

Apa yang akan terjadi jika kisah peperangan lebih mendominasi kehidupan anak-anak? Tentu memprihatinkan. Hal ini dapat menumbuhkan obsesi pada perang dan kekuasaan politik yang tentu berimbas pada bagaimana cara mereka melihat dan menyikapi sesuatu. Mereka akan mudah dipenuhi rasa syak wasangka dan curiga. Mereka tidak mudah menerima perbedaan sehingga yang bersebrangan dengan sudut pandang mereka dianggap sebagai musuh. Menurut Haidar Bagir “Biasanya, para penganut paham seperti ini tidak memiliki kecenderungan lain dalam berhadapan dengan kelompok lain, kecuali konflik yang saling menghabisi”.

Maka seorang story teller, harus bijak memilih kisah mana yang akan disuguhkan. Jangan sampai anak terjerumus pada hal yang tidak diinginkan. Karna akan sulit menghapusnya, mengingat kisah sering kali membenak di hati mereka. Kenalkan pada mereka, bahwa Rasulullah itu santun dan bersahabat.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *