Solmisasi Al-Mawsili dan Taplak Meja Orang Cordoba

Solmisasi Al-Mawsili dan Taplak Meja Orang Cordoba

Oleh: Damhuri Muhammad

Selama ratusan tahun, Guido d’Arezzo (995-1033) musisi Italia  dinobatkan sebagai peletak dasar, atau penemu notasi musik, yang hingga kini kita kenal dengan solmisasi. Dalam khazanah musik dunia, mungkin  tak ada musisi atau ilmuwan musik yang tak bersinggungan dengan Notasi Guido, yang tertata dalam abjad musikal; Mi, Fa, Sol, La, Ti, Ut, Re. Sejak tahun 1026, para ahli menyematkan notasi dasar itu pada nama Guido d’Arezzo, dan biarawan benediktin Italia itu kemudian tercatat sebagai pemegang hak atas temuan penting yang sangat berpengaruh dalam perkembangan teori musik di dunia. Kebesaran nama Guido d’Arezzo disebut-sebut berada di antara kemasyhuran Boethius dan Johannes Tinctoris, dua musisi legendaris Eropa sepanjang sejarah. Posisi itu dianggap layak bagi Guido, setelah Guido’s Micrologus, sebuah risalah musik abad pertengahan, mulai tersebar luas.

Namun, pada tahun 1780, muncul sebuah temuan baru yang  menggemparkan   dari seorang sarjana Prancis bernama Jean Benjamin de la Borde (1734-1798), sebagaimana tercatat dalam Essai sur la Musique ancienne et moderne. Yang sangat mengejutkan adalah, de la Borde berkesimpulan bahwa notasi  Guido d’Arezzo itu duplikasi dari temuan ilmuwan muslim bidang musik, jauh di masa sebelumnya. Klaim de la Borde dianggap “halu” dan mengada-ada oleh sejumlah ilmuwan musik di barat. Sebab, mereka tidak memperoleh bukti-bukti empirik tentang pengaruh musik Arab-Islam di Eropa. Meski akhirnya banyak sarjana yang mengakui pengaruh tradisi musik Arab-Islam di barat, itu sebatas instrumen, tak ada jejak pada sisi teori musik.

Dalam suasana polemis itu, menurut catatan Rabah Saoud bertajuk The Arab Contribution to Music Western World yang tersiar di www.muslimheritage.com (21/4/2004), muncul figur bernama Guillaume André Villoteau (1759-1839), musikolog Prancis, yang tegas membela klaim de la Borde. Dalam artikelnya Description des instruments de musique des orientaux  dapat ditemukan upaya keras Villoteau membandingkan skala Notasi Guido dengan solmisasi dalam tradisi musik Arab-Islam. Ringkasnya, bila Notasi Guido  berbunyi Mi, Fa, Sol, La, Ti, Ut, Re, solmisasi Arab-Islam tersusun dalam nada; Mi, Fa, Shad, La, Sin, Dal, Ra. Baik dari aspek abjadikal maupun intonasi nada, tampak dan tersimak begitu mirip. “Dari semua penampakan (abjad notasi musik Arab-Islam), yang terakhir inilah model dari Notasi  Guido,” kata Villoteau.

Lalu dari mana Guido d’Arezzo memperoleh notasi musik berbasis abjad arab-Islam itu? Soriano Fuertes dalam Hitoire de la musica Espanola, sebagaimana dikutip Rabah Saoud (2004) menjelaskan, Guido pernah belajar di Catalunya, sementara Hunke S (1969) dalam Shams al-‘Arab Tasta’a ‘ala Al-Gharb menegaskan  bahwa suku kata Arab itu ditemukan dalam sebuah risalah latin abad 11, yang diproduksi di Monte Cassino, kawasan yang telah diduduki kaum Muslimin beberapa kali, dan pernah menjadi tempat pensiun Constantine Africanus, cendekiawan besar Tunisia yang bermigrasi dari Tunisia ke Salerno, kemudian ke Monte Cassino.

Selain  itu, peran ilmuwan Kristen yang belajar di tanah Islam juga faktor penting bagi penyebaran pengaruh kebudayaan Islam di Eropa. Salah satu ilmuwan yang tak mungkin disangkal pengaruhnya di dunia barat adalah Gerbert Aurillac, yang kelak menjadi Paus dengan gelar Sylvester II. Ia salah satu lulusan universitas Al Quaraouiyine, universitas pertama di dunia yang dibangun oleh perempuan Muslim bernama Fatimah Al Fihri di Fes, Maroko. Paus Sylvester II berperan penting dalam pembaruan pemikiran ilmiah di Eropa. Ia juga berperan penting dalam menyebarkan pengetahuan musik Arab-Islam ke dalam teori musik di Eropa. Dalam mendidik murid-muridnya, ia sudah menggunakan motode pengajaran quadrivium.

Menurut Rabah Saoud, ilmuwan muslim yang diduga sebagai pencipta mula-mula solmisasi yang kelak muncul dalam versi Notasi Guido adalah Ishaq Al-Mawsili (767-850 M), seniman musik  yang hidup pada masa  khalifah Al-Ma’mum  di Baghdad.  Masa hidup yang lebih dahulu satu abad dari masa hidup  Guido d’Arezzo. Darah seni Al-Mawsili menetes dari ayahnya, Ibrahim Al-Mawsili (742-804), yang tak lain adalah musisi legendaris era golden age peradaban Islam, Baghdad. Menurut cacatan sejarah, Ishaq lahir di Al-Raiy, Persia utara. Saat itu, ayahnya sedang mempelajari musik Persia. Disebut-sebut, ayahanda Ishaq senantiasa mengembara demi mempelajari dan mengembangkan seni yang sangat dicintainya. Suatu ketika Ibrahim membawa putranya yang masih kecil ke kota Baghdad, pusaran utama gelombang intelektualitas dunia pada masa itu.Kelak, di pusat imperium Abbasiyah itulah nama Ishaq melambung sebagai musisi kondang. Para ahli menyebutkan, Al-Mawsili identik dengan alat musik berbentuk kecapi yang lazim disebut ‘Ud, dan di kemudian hari di Eropa dikenal sebagai lute. Di masa khalifah Harun Ar-Rasyid (766-809), alat musik milik Al-Mawsili itu menjadi koleksi istana.

Semasa dengan Al-Mawsili ini, ada seorang seniman multitalenta bernama Abu al-Hasan Ali ibn Nafi (789-857), yang tak lain adalah murid terbaik Al-Mawsili. Sedemikian menonjolnya kepiawaiannya dalam memainkan ‘Ud, konon Sang Guru sampai cemas pencapaian muridnya itu  akan menggeser nama besarnya sebagai seniman istana. “Tinggalkan Baghdad! Menjauhlah kau dari kota ini!” begitu permintaan Ishaq pada Abu al-Hasan, sebagaimana dikisahkan Robert W Lebling (2003) dalam Flight of Blackbird. Tak main-main, permintaan Al-Mawsili yang bernada ancaman itu disertai dengan kesanggupannya membiayai keberangkatan Abu Al-Hasan, asalkan ia enyah dari Baghdad. Demikianlah akhirnya Abu al-Hasan berlabuh di Andalusia (Spanyol).

Abu al-Hasan  dikenal dengan julukan Ziryab atau Burung Hitam (Blackbird), karena kulitnya sangat hitam, tapi suaranya sangat merdu dan mempesona. Dalam catatan para sejarawan, Ziryab adalah seniman multitalenta yang sesungguhnya. Pada buku  Andalucia: A Cultural History (2009)  karya John Gill, (sebagaimana dikutip  www.ganaislamika.com 2017) dijelaskan bahwa penguasa Cordoba (Spanyol) mempercayai Ziryab memangku jabatan semacam Menteri Kebudayaan di wilayah kekuasaan Andalusia. Proyek pertama Ziryab adalah mendirikan sekolah musik. Berbeda dengan konservatorium musik di Baghdad, sekolah musik di Cordoba itu mendorong eksperimen dalam gaya dan instrumen musik. Atas reputasinya itu, kelak Encyclopedia of Islam, mencatat nama Ziryab sebagai  “pendiri tradisi musik Spanyol-Islam.”

Ziryab membuat komposisi nuba (atau nauba), jenis musik khas Andalusia-Arab yang bertahan hingga kini di  belantika  musik klasik  kawasan Afrika Utara.  Di Libya,  Tunisia, dan Aljazair timur,  nuba dikenal sebagai maluf.  Ziryab menciptakan 24 jenis  nuba.  Bentuk-bentuk nuba sangat popular dalam komunitas Kristen Spanyol dan sangat berpengaruh dalam perkembangan musik di Eropa abad pertengahan. Tak hanya mengurus musik, Ziryab juga memperkenalkan standar berbusana di Cordoba, tata cara makan (table manner), hingga gaya rambut. Sebelum kedatangan Ziryab, urusan makan  di  Spanyol adalah perkara sederhana, bahkan kasar.  Sekadar  warisan dari Visigoth, penerus bangsa Vandal, dan dari adat setempat. Piring-piring ditumpuk sembarangan, di atas meja kayu yang kosong dari rupa-rupa pernik. Adab meja makan tidak ada. Ziryab  melakukan semacam “revolusi kuliner”  dengan memperkenalkan buah-buahan dan sayuran baru seperti Asparagus. Ia juga memperkenalkan tiga hidangan yang disajikan secara terpisah, yaitu sup (appetizer) hidangan utama (main course) dan hidangan penutup (dessert).

Ziryab pula yang memancangkan tradisi tiga hidangan (three-course meal) ke dalam budaya makan bangsa Eropa, yang masih bertahan hingga kini. Ia mengganti gelas-gelas perak bangsa Eropa dengan gelas kristal yang bening. Ia perkenalkan taplak meja guna memperindah nuansa hidangan, termasuk meletakkan vas bunga di atasnya. Ziryab mendisain sendok sup, hingga memperkenalkan tusuk gigi. Di dunia  fashion,  Ziryab mendandani orang-orang Cordoba dengan pakaian yang pantas di setiap musim dan perhelatan. Di musim semi, warga dianjurkan memakai pakaian berwarna cerah, di musim panas pakaian putih, dan di musim dingin, menggunakan pakaian berbulu. Ia ajarkan pula masyarakat Spanyol cara merawat diri.

Notasi musik pertama di dunia yang diwariskan oleh  Ishaq Al-Mawsili dan implikasi etis dari rupa-rupa karya seni Ziryab yang telah mengubah vandalisme dan kekasaran manusia Eropa menjadi kaum beradab, bahkan sampai pada cara mengunyah makanan di meja makan, memperlihatkan kenyataan tentang betapa melekatnya seni (khususnya musik) di tubuh peradaban Islam era golden age. Alih-alih difatwa-haramkan, di tangan Ishaq Al-Mawsili dan Abu al-Hasan Ali ibn Nafi, musik justru berkekuatan menghaluskan kekasaran budi dan berjasa dalam membentuk kegemilangan peradaban barat yang kita kagumi hari  ini. Sampai di sini, barangkali benar kiranya sufi besar Jalaluddin Rumi yang sekali waktu pernah bilang bahwa, musik yang haram itu adalah beradunya sendok dan garpu di meja makan orang kaya, yang terdengar oleh tetangganya yang miskin…

Damhuri Muhammad

Kolumnis

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *