Sindhunata dan Suara Kemanusiaan

Oleh : M. Farid Abbad

Memaknai kembali tentang berbagai latar kehidupan yang di alami oleh setiap manusia, berbagai macam bikcground dan latar belakang ekonomi, sosial, serta politik menjadi menarik untuk di explorasi. Saya jujur terkesan dengan apa yang di gambarkan oleh Sindhunata penulis kondang sekaligus wartawan kompas. Dalam featurnya ia lebih fokus membidik orang – orang miskin, gelandangan, orang – orang pinggiran yang terjepit oleh kehidupan, tetapi mereka masih bisa tersenyum manis menikmati kehidupannya. Karena mereka merasa bahwa kemiskinan adalah kebesaran yang mereka miliki. Penderitaan dan kesedihan adalah perangkat cinta sejati yang tak bisa di nilai dengan materi ataupun sebagainya.

Meskipun dia berbeda ideologi dengan saya. Tetapi wawasan kehidupannya sangat luar biasa, toleran, cerdas dan sangat hidup sekali ketika mengexplorasi sebuah kejadian atau realitas sosial masyarakat. Bahasa yang ia gunakan juga sangat enak dan mengalir. Saya yakin siapapun yang membaca tulisannya, maka perasaannya akan tersentuh dan terkoyak – koyak dengan kondisi riil yang dia rekam. Meneyelami sebuah realitas kehidupan memang tak semudah yang kita bayangkan, kadang ketika perasaan ini tidak peka maka sudah barang tentu kita akan sulit mengungkap apa – apa yang kita lihat maupun raskan.

Ternyata banyak orang hebat yang masih bercokol dan bertahan kuat dalam kehidupan yang serba krisis ini. Meskipun mereka tidak cukup secara ekonomi tetapi mereka sangat menikmati karunia tuhan yaitu kesehatan dan rizki. Banyak falsafah jawa yang mereka pegang untuk survive, kendatipun demikian masih banyak juga manusia yang berhati batu dan manusia yang tak bisa bersyukur atas apa yang mereka rasakan saat ini. Masih banyak koruptor yang bringas dan buas, tanpa tedeng aling – aling memakan hak rakyat. Belum lagi para pemimpin yang menyalahgunakan kekusannya hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Dua potret manusia yang benar – benar memahami hakikat kehidupan yang di gambarkan oleh Sindhunata ada dua, pertama adalah Mahatma Gandhi dan yang kedua adalah Leo dari Jakarta. Mahatma Ghandi adalah seorang sufi, seniman, filsuf yang menebarkan ajaran cinta – kasih sayang dan tirakat yang kuat dalam rangka menyadarkan umat manusia yang terpuruk dan terlelap dalam gagap gempitanya dunia, Raghastya adalah salah satu pemikiran yang di lontarkan oleh Gandhi. Ketika ada satu manusia yang mau tirakat dalam kesendiriannya maka  orang tersebut mampu menjernihkan hati sejuta manusia. Karena itu tidak heran pemikiran – pmikiran dan doktrin Gandhi sampai sekarang masih di ikuti dan menjadi kiblat spiritual bagi banyak orang.

Kemudian Leo adalah seorang seniman yang suka memotret kehidupan anak – anak jalanan yang di jadikan sebagai inspirasi untuk membuka banyak mata manusia dengan sya’ir – sya’ir yang indah dan menyentuh. Dengan semangat optimisme yang tinggi  ia mengajak para anak jalanan untuk menikmati hidupnya dengan lagu dan sya’ir. Maka dengan begitu anak – anak itu akan melupakan kesedihan dan penderitaannya . sungguh betapa agungnya Tuhan memeberikan banyak kebahagaiaan kepada hamba –Nya dengan berbagai jalan dan perantara.

Menyingkap Tabir Kemanusiaan

Di samping orang – orang  yang di rekam oleh Sindhunata di atas, orang – orang yang cacat juga menjadi bidikannya. Seorang nenek buta yang hidup dalam pergulatan kemiskinan dan penderitaan yang mendalam. Ketika membaca itu, kesadaran saya seagai Manusia yang mempunyai The Sense Of Life meraskan apa yang mereka rasakan. Sekan akan saya menyelam di dunianya dan menari bersama mereka sembari menikmati kehidupan yang apa adanya. Banyak manusia di semesta ini yang lebih bijak dan bisa mengetahui hakikat kehidupan yang sebenarnya di bandingkan para intelektual, cerdik cendekiawan, atau manusia – manusia sejenisnya. Mereka bagi saya kebanyakan hanya pandai mengolah kata dan kalimat saja. Sementara manusia yang termarginalkan seperti yang di gambarkan oleh Sindhunata adalah manusia – manusia yang langsung bergulat dengan keadaan dan lingkungannya. Akan tetapi ketegaran dan ketabahan selalu menjadi benteng dalam mengarungi hidup ini.

Saya teringat apa yang di tuliskan oleh Zuhairi Misrawi dalam bukunya Al – Azhar, Menara Ilmu, Reformasi dan Kiblat Keulamaan. Saat saat ia masih menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Al – Azhar guru – gurunya bahan Dekannya ada juga yang tuna netra, meskipun demikian mereka sangat produktif sekali dalam membuat  karya  – karya intelektual. Satu pesan yang selalu di sampaikan oleh mahagurunya ketika mengajar mahasiswanya, jadilah manusia yang kontributif, meskipun saya catat, saya tidak pernah menyerah untuk selalu berkarya untuk kemajuan agama saya. Berngkat dari nasehat inilah Zuhairi sangat termotivasi untuk melanjutkan gagasan – gagsan gurunya yang cemerlang.

Kembali lagi dengan lima karya Sindhunata yang sarat akn kajian – kajian humanis. Dengan bidikina wong cilik. Buku yang berjudul Ekonomi kerbau bingung juga sempat menyihir saya tentang keadilan dan pesan kehidupan dari wong cilik. Betapa sungguh ironi sekali hukum yang berlaku di Negara ini, seakan – akan para makelar hukum sudah mati rasa dan nuraninya. Sampai tega menghukum seorang nenek tua yang mencuri coklat. Sementara koruptor – koruptor yang telah memporak porandakan negeri ini tertawa lepas, tanpa beban apapun. Kadang saya berfikir yang salah founding fathers kita yang menyusun undang – undang hukum , atau memang manusia sekarang adalah manusia yang gemar meninggalkan nuraninya.

saya rasanya ingin menulis , menulis, dan menulis kembali seperti Sindhunata betapa mulianya Sindhunata yang menolong manusia dengan tulisan – tulisannya dengan rasa kemanusiaan yang kental, bahkan mampu menggetarkan nurani siapapun yang  membacanya. Karena tulisan adalah sebuah karya abadi yang tidak akan punah oleh sejarah dan mampu memepengaruhi berjuta manusia dari lintas generasi, madzhab, ideologi, ras, suku dsb. Semoga bermanfaat.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *