Sepasang Sendal

dawuhguru

Oleh: Rizal S Herdiyono*

“Jangan diletakan disitu, itu batas suci,” terdengar suara teman lelaki itu, pelan, sedikit membisik ketemannya. “Ini sendal mahal ! biar gak hilang,” sahut lelaki itu  dengan menyembunyikan sendalnya agar aman. Lalu ramai pun datang menyerap ke masjid. Malam menunjukan cahayanya, dan suara sabetan sarung bocah-bocah mulai terdengar riang di sepanjang jalan menuju masjid.

Lelaki itu duduk disamping jendela masjid untuk mengawasi sepasang sendalnya, sajadah mulai tersusun rapi didepan masing-masing jamaah tentu dengan jarak yang sudah ditentukan. Bilal mengumandangkan adzan Isya’ secara khusyuk hingga terdengar sampai ke ujung desa. Padat malam itu sampai masjid tidak sanggup menampung jamaah yang akan menunaikan ibadah sholat isya’ dan tarawih.

“Duh sendal aman ndak ya” kata lelaki itu dengan nada cemas.

“Aman-aman udah fokus ibadah dulu” sahut temannya membisik.

Mulai dari takbir hingga salam, jama’ah mengikuti dari awal hingga akhir. Tidak ada surat panjang yang dilantunkan sang imam, mungkin sang imam tidak mau mengambil resiko, takutnya bacaan suratnya kepanjangan besok tidak ada yang ikut sholat tarawih lagi. Khutbah imam pun tidak lama agar jama’ah tidak bosan dan malah mengantuk.

“Ayo cepet, keburu habis nanti baksonya” terdengar suara lelaki itu dengan sedikit tergesa-gesa.

“Bentar, ini sendalku kemana ?” lelaki itu tampak panik.

“Lah, kan tadi kamu taruh situ sih !” Sahut temannya heran

“Ia kok gak ada ?”

Lampu handphone itu seperti membanjiri tempat sendal tadi dengan cahaya putih sedikit menyilaukan jika langsung ditatap. Tak terlihat dan tak nampak ada sendal kulit yang lelaki simpan itu tadi.

“Jadi, Bagaimana …. ?” terdengar suara temannya.

“Yaudahlah, besok mungkin aku gak bawa sendal kesini ?” jawabnya kesal.

“Maksudmu ?”

“Iya, datang gak bawa sendal pulang bawa sendal” kata lelaki itu pelan.

“Gila, mau maling dimasjid !”

“Bukan gitu, ini aku ini sudah jadi korban, jadi impas dong” Sahut Lelaki itu.

Karena lapar temannya tidak mau menanggapi dan langsung ke kang bakso yang dari tadi aromanya sudah membuat hidung tergoda.

“Pak bungkus 2 yang satu gak pedes”

“Ok siap” kata kang bakso dengan senyum tipis.

Di depan rumah dengan cahaya lampu kuning cukup menerangi halaman depan dari gelap dan dinginnya malam. Lelaki itu masih mengerutu atas hilangnya sendal kulit yang baru ia beli. Temannya menarik napas panjang. Mungkin sedikit es teh bisa meredakan kegusaran dia. Sehabis membuat es teh, temannya duduk lagi disamping lelaki itu di halaman teras rumah.

“Udah makan dulu, mikir sendalnya nanti aja” Kata temannya.

“Begini bro, aku gak mikirin sendal yang ilang lagi”

“Terus ?”

“Aku mikirin bagaimana caranya besok dapetin sendal yang bagus ?”

Duh Gusti, ampuni saya, jerit hati teman lelaki itu dalam hati. Gak mau ikut campurlah lebih baik makan bakso. Temannya tidak menjawab dan tidak menggubris apalagi memikirkan cara maling sendal.

Seperti biasa Jama’ah masih ramai datang berbondong-bondong keluar rumah dan menuju masjid dengan bersih dan penuh kegembiraan. Malam itu serasa angin tidak begitu kencang padahal kota ini dapat julukan kota angin. Suara mercon (baca:petasan) mulai ramai dan teriakan anak-anak kampung turut meramaikan jalan menuju masjid.

Yang benar saja lelaki itu datang ke masjid tidak pakai sendal, mungkin setan sudah bersemayam dalam kakinya.

“Serius hari ini jadi ?” kata temannya

“Lah iya, Sendal dibayar dengan sendal” tegas lelaki itu.

“Ya udah lah, kalau itu niat mu” ucap temannya pasrah.

Adzan berkumandang tanda masuk Isya’ dan tarawih, bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak mulai berdiri dan siap melaksanakan ibadah yang hanya ada dibulan suci Ramadhan. Sebelum witir imam naik ke mimbar untuk khultum.

“….Keistimewaan Bilal tak sampai di situ. Bahkan suara sandalnya sekali pun didengar Nabi Muhammad SAW di surga. Sahabat yang kerap dijuluki Muadzin Rasulullah ini mulai meyakini Islam saat masih menjadi budak dari Umayah, yang juga penentang Islam. Umayah tak segan menyiksa Bilal agar ia meninggalkan Islam untuk kembali menyembah Latta dan Uzza. Namun karena keteguhannya, Bilal tetap bertahan pada ke-Islamannya.

Saat dibebaskan dari status budak oleh Abu Bakar, sejak saat itulah Bilal kerap menemani Rasullah SAW berdakwah. Bilal juga termasuk salah satu sahabat Nabi yang dijamin masuk surga seperti sabda Rasulullah yang diriwayatkan Bukhori

Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal, “Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam. Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu (sejenis alas kaki/sendal) di depanku di surga,”

Bilal RA menjawab, “Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan salat (sunah) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudhu) dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.

Jadi, bapak, ibu dan adek-adek sekalian begitulah sikap bilal yang luar biasa semangat dan tak putus asa meskipun terkena siksa. Karena orang mukmim itu tidak pernah punya rasa kecewa jika berharap kepada Allah SWT.

Oh iya satu lagi, berbanggalah jika sandal kita jelek tapi sering mengantarkan kita ke masjid dari pada bagus tidak pernah mengantarkan kita kemasjid. Apalagi sendal yang bagus, mahal sudah mengantarkan kita kemasjid terus hilang, khusnul khotimah itu sendal (canda imam)

Semoga sendal-sendal kita nanti menjadi saksi dihadapan Allah bahwa kita pernah memakainya untuk mengantarkan ketempat yang suci ini (baca:masjid) untuk beribadah, bukan nyolong kotak amal ya. (Canda imam lagi)

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq, Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarokatuh.

Diakhir khultum, imam berhasil membuat jama’ah tersenyum dan semangat lagi untuk melanjutkan sholat witir.

Selasai sholat tarawih, malam mulai menunjukan cahaya-cahaya yang bertaburan depan halaman masjid ramai bocah-bocah sedang bermain bola, ada juga yang kejar-kejaran, ada juga yang cuma melihat dan minum es mambo. Lelaki itu masih duduk di teras masjid, menikmati melihat bocah-bocah bermain.

“Jama’ah sudah pulang, sendal pun juga tidak ada di masjid ? apa gak jadi maling ini orang ?” teman lelaki itu bertanya-tanya dalam hati.

“Hii… Sendal gimana ?”

“hahaha… gak jadi” jawab lelaki itu dengan santai.

“Lah bukannya tadi semangat banget ?” teman lelaki itu mulai duduk disampingnya.

“Biar aja, biar khusnul khotimah” jawabnya pelan.

Temannya menyondongkan badan dan menengok kearah lelaki tersebut.

“Baguslah kalau begitu”

Mungkin malaikat takjub mendengar ucapan lelaki itu dihari ini tentang sendal, padahal kemarin setan terkagum-kagum kepada lelaki itu yang punya niat maling sendal dimasjid. Selepas bebicara tentang sendal mereka berbicara ngalor-ngidul (baca: apasaja) di teras masjid hingga tak terasa mereka sudah lapar dan tak terasa juga malam sudah mengeluarkan rasa kantuknya, sedikit kencang angin malam yang menghampiri pembicaran mereka dan mereka mulai melangkah untuk pulang.

Pulang,

Dengan satu sendal kanan dan satu sendal kiri

Dalam empat kaki maunsia yang berusaha jaga diri

 

*Rizal S Herdiyono Adalah seorang laki-laki kelahiran Nganjuk, 1996. Menulis baginya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri dan keberanian melawan rasa takut untuk menulis. Beberapa artikel sudah diterbitkan oleh DawuhGuru.com: Arunika Santri (2021) dan Bekal Santri dari Mbah Yai (2021).

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *