Seni Tidak Harus Dalam Lukisan

Menikmati perjalanan sebagai guru, terlebih menjadi seorang pendidik. Tidak bisa selamanya dikatakan mudah. Tidak selamanya berjalan lurus, lancar dan mulus. Semuanya memang selalu membutuhkan suatu perjuangan. Harus selalu semangat.

Sekali lagi, anak – anak yang kita temui tidak selalu seperti apa yang kita bayangkan. Anak – anak yang kita hadapi, tidak selalu menurut dengan apa yang kita minta, tentu beraneka ria macamnya. Semoga kita semua selalu dilimpahkan perasaan dan sifat yang sabar tak berbatas. Ikhlas tak berbalas. Mengajar, adalah salah satu rekreasi yang sangat mengasyikkan. Dengannya kita lebih banyak belajar. Kami, guru yang sebelumnya hanya berbekal seadanya, darinya kita bisa mendapat banyak bekal dan belajar menjadi guru yang out of the box. Terkadang, anak – anak kita itu lebih kreatif. Pertanyaan – pertanyaan nyeleneh itu muncul karena imajinasi mereka yang tak berbatas. Hal ini yang justru menjadikan kita lebih berkreasi, improvisasi dan tidak selalu berpatok pada cara – cara lama. Ada – ada saja, yang membuat kita harus memutar balik fikiran. Kok bisa ya?

Begitulah, belajar dan mengajar itu harus ada seninya. Seni tidak harus ada di dalam lukisan kan? Tidak harus ada pada puisi dan syair kan? Berbicara saja ada seninya. Belajar diiringi dengan kreatifitas gurunya itu lebih mengasyikkan. Kreasi tidak harus berupa menyanyi – nyanyi, atau menari. Tidak usah. Yang terpenting, guru tidak melulu berbicara sorogan tanpa jeda. Tidak selalu serius seperti sebuah persidangan. Boleh saja, diselingi dengan canda tawa sebentar, atau permainan permainan mengasah otak.

Diantara itu juga, guru harus selalu menanamkan nilai – nilai akhlak, nilai – nilai adab. Kalau harus terus, belajar adalah aktivitas yang menyenangkan, game online pun bisa dijadikan media pembelajaran. Google pun bisa jadi lebih pintar dari kita. Akhirnya, peran guru yang penting mulai tergeser dengan hal – hal yang dirasa lebih menyenangkan dan jelas tidak membosankan. Itulah sebab, manusia kini sudah mulai untuk tidak me-manusia-kan manusia lagi. Karena yang mendidik, bukan lagi seorang manusia. Kita lebih banyak dididik oleh mesin bot, hanya dididik dengan sistem game online, tanpa tahu mana seharusnya yang diikuti dan ditinggalkan.

Guru yang kreatif, tidak harus pintar menari, menyanyi dan lainnya. Sungguhan! Semua itu selalu datang dari nurani. Semua datang dari jiwa guru – guru pendidik yang ikhlas dan tulus mengajar. Itu jauh lebih baik, jika kita dikatakan multitalent, tapi tidak bisa berbuah apapun karena kemampuan itu hanya untuk diri kita sendiri. Seni itu bebas – sebebasnya. Seni, tidak ada batasnya. Yang menjadi pembatas adalah, kita harus tahu, mana yang seharusnya kita ajarkan, mana yang baik untuk anak – anak, mana yang baik untuk ditunjukkan. Selebihnya, bagaimana cara kita untuk  mengapresiasikannya kepada anak, bebas dengan gaya kita masing – masing.

Selamat berkreasi, wahai para pendidik dimanapun kita berada! Belajar, selalu menjadi aktifitas yang mengasyikkan!

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *