Seni Agama, Agama Seni

S.A. Vahid dalam Iqbal, His Art & Thought (1916) mengatakan bahwa seni paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Oleh karena itu, seni untuk seni adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh dan menipu agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan. Seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia.

Seni adalah salah satu dari beberapa sedikit hal yang tak bisa digantikan oleh mesin. Apalagi di gerak zaman 4.0. yang terus digaungkan, seni tetap tak bisa dikalahkan. Seni terus bergerak mencari media yang dapat menampungnya. Sementara itu Indonesia adalah masyarakat yang memiliki produktivitas seni yang tinggi. Kakaryaan yang mumpuni, dan kedalaman yang unggul. Bisa dibuktikan dengan seluruh karya seni dari beberapa cabang kesenian: Seni Rupa, Musik, Film, Tari, Tradisi, Sastra. Semuanya menghasilkan kekayaan yang luar biasa. Yang membuat kita tak bisa menolak untuk tidak terkagum-kagum.

Saat bulan puasa begini, sebenarnya saya itu selalu teringat dua orang. Arman Maulana yang melantunkan pintu sorga, dan Jokpin yang sedang bikin puisi. Tentunya puisi Buku Latihan Tidur; “Agamamu Apa? Agamaku adalah air yang membersihkan pertanyaanmu”.

Lalu adakah agama yang bisa membersihkan pertanyaan. Ya ada, agama apa? Ya agamanya Jokpin. Kalau Islam? Kalau Islam adalah agama yang selalu menjawab pertanyaan. Kok bisa begitu. Iya, karena Islam mengatur semua hal. Masak tidak ada satupun yang tidak diatur? Tidak.

Dalam Islam ada prinsip bahwa tidak boleh ada hal yang tidak memiliki ketentuan hukum. Lalu apakah semuanya dijelaskan di Al-Qur’an atau Hadits? Kalau mengenai ini sudah masuk wilayah sumber hukum dan metodologi istinbath hukum. Baik, akan saya pertegas. Tidak semua hal ada dalam Al-Qur’an.

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd (Averroes), perlu diketahui kitab ini adalah kitab komparasi antar mazhab, perbandingan mazhab. Dalam kitab tersebut ada yang unik, yaitu disebutkan bahwa ada satu mazhab dalam Islam yang memiliki prinsip yang berbeda dari mazhab-mazhab lain pada umumnya kebanyakan, al-Aswad al-A’dzam. Mazhab itu adalah mazhab Az-Zahiri. Yang kebetulan waktu itu mazhab tersebut diikuti oleh Khalifah Abu Yaqub Yusuf, seorang khalifah Dinasti Muwahhidun.  Di mana Ibnu Rusyd menjadi Hakim Agungnya.

Maksudnya bagaimana dengan prinsip hukum Az-Zahiri tersebut? Ya pokoknya kalau ada benda atau hal ihwal yang tidak ada dalil hukumnya di Al-Qur’an dan Hadits ya tidak perlu diberi hukum, dibiarkan saja. Berarti bagaimana? Ya boleh. Hukum awal dari semua benda adalah mubah atau boleh, sepanjang tidak ada hukum baru yang merubahnya, melarangnya, atau mengharamkannya. Lalu? Apa hubungannya dengan seni? Karena seni masih “dianggap” sebagai hal yang perlu berjauhan dari agama. Bid’ah!

Apakah seni memang benar-benar haram? Saya memiliki pengalaman perihal itu. Saat dulu di pesantren di kelas kitab Sullam Taufiq, ada pembahasan tentang alat musik atau “alatul malahi”, alat musik banyak yang diharamkan, kecuali beberapa saja. Juga dengan seni rupa, menggambar, haram. malahan dimintai pertanggungjawaban untuk menghidupkan karyanya nanti saat di akhirat. Ngeri lah pokoknya.

Di saat itu pikiran nakal saya sudah mulai tumbuh. Dengan pertanyaan, kenapa seni kok diharamkan? Katanya karena dikhawatirkan akan melalaikan diri dari mengingat Allah.  Saya kejar lagi, itu kan kalau melalaikan, kalau tidak melalaikan bagaimana? Juga dengan menggambar, apakah semua gambar setara dengan berhala? Atau jangan-jangan, kita tidak sadar telah memberhalakan “sesuatu”.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *