Sekilas Biografi Sunan Bonang

Table of contents: [Hide] [Show]

Oleh: Rozaq Muhammad

(Mahasiswa Magister Ilmu Sejarah UGM)

Raden Makdum Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Bonang adalah salah satu anggota Walisongo yang dituakan. Walisongo merupakan sebuah organisasi dengan gerakan utama menyebarkan agama Islam di daerah Jawa. Dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat Jawa kala itu, Walisongo menggunakan keilmuan dan kesenian Jawa, dan bukan dengan cara penaklukan wilayah seperti yang umum terjadi di berbagai daerah. Selain karena Walisongo tidak memiliki tentara atau divisi militer, para aggota Walisongo merupakan cendekiawan dan seniman Jawa. Beberapa diantaranya ikut berperan aktif dalam pengembangan keilmuan Jawa yang meliputi pengobatan, arsitektur, kesenian, pendidikan, dan kebatinan.

Sunan bonang merupakan putra keempat Raden Rahmad (Sunan Ampel) dari pernikahannya dengan Nyai Ageng Manila Putri Arya Teja (bupati Tuban). Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Nyai Ageng Manila merupakan putri angkat Arya Teja, sementara pendapat yang lain mengatakan bahwa Nyai Ageng Manila merupakan Putri kandung Arya Teja. Betapapun ada perbedaan tentang siapa Nyai Ageng Manila sebenarnya, kesemua historiografi sepakat bahwa Nyai Ageng Manila merupakan putri dari Arya Teja.

Nyai Ageng Manila merupakan kakak dari Arya Wilatikta (ayah Raden Sahid atau Sunan Kalijaga yang kemudian menjadi Adipati Tuban menggantikan Arya Teja). Menurut Babad Tuban Nyai Ageng Manila merupakan putri Arya Teja dari pernikahannya dengan putri Arya Lembu Sura (Raja Surabaya). Sementara Arya Wilatikta merupakan putra Arya Teja dari pernikahannya dengan putri Arya Dikara (Adipati Tuban). Dalam buku Atlas Walisongo disebutkan bahwa Arya Teja merupakan seorang berkebangsaan arab yang bernama asli Abdurrahman. Abdurrahman menggunakan nama Arya Teja setelah dilantik menjadi Adipati Tuban menggantikan Arya Dikara.

Dilihat dari silsilah ini dapat dikatakan bahwa Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga merupakan saudara sepupu. Keduanya sama-sama hidup dan dibesarkan di lingkungan kadipaten Tuban. Itu berarti Sunan Bonang sudah memiliki hubungan istimewa sebagai keluarga di lingkungan kadipaten Tuban.

Ada yang menarik dari perkiraan usia Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Menurut B.J.O Schrieke dalam Het Book Van Bonang (1916), Sunan Bonang diperkirakan lahir pada tahun 1465 M. Sementara tahun lahir Sunan Kalijaga, menurut Purwadi dalam Mistik dan Makrifat Sunan Bonang (2015) diperkirakan lahir sekitar tahun 1430an masehi dihitung dari tahun pernikahan Sunan Kalijaga dengan putri Sunan Ampel. Ketika itu Sunan Kalijaga diperkirakan berumur 20-an. Sunan Ampel diyakini lahir pada 1401 M, ketika menikahkan putrinya dengan Sunan Kalijaga berusia 50-an.

Jika data tersebut benar, maka Sunan Kalijaga berusia 35 tahun lebih tua dari Sunan Bonang. Padahal  menurut kisah yang masyhur beredar Sunan Kalijaga merupakan murid dari Sunan Bonang setelah Sunan Kalijaga kalah adu kesaktian melawan Sunan Bonang di sebuah hutan ketika Sunan Kalijaga (yang saat itu masih bernama Berandal Lokajaya) merampok siapapun orang kaya yang melewati wilayah hutan tersebut. Kemudian dikisahkan Berandal Lokajaya memohon menjadi murid Sunan Bonang dan diterima dengan syarat untuk menjaga tongkat pusaka Sunan Bonang di tepi sungai selama tiga tahun.

Maka menjadi tidak masuk akal jika Sunan Kalijaga yang berusia 35 tahun lebih tua memohon menjadi murid Sunan Bonang. Pertanyaannya adalah, pada usia berapa Sunan Kalijaga atau Berandal Lokajaya saat peristiwa perampokan tersebut?. Kisah yang masyhur mengatakan bahwa saat itu Raden Sahid atau Berandal Lokajaya masih di usia muda dan belum menikah. Jika Raden Sahid menikah di usia 20-an, maka saat itu Sunan Bonang belum dilahirkan. Kisah tersebut akan menjadi  masuk akal jika peristiwa perampokan tersebut terjadi saat Berandal Lokajaya berusia sekitar 55 tahun dan Sunan Bonang berusia sekitar 20 tahun. Usia di mana Berandal Lokajaya tidak terlalu tua untuk menjadi perampok, dan Sunan Bonang sudah cukup matang untuk menjadi guru pembimbing.

Menilik Nasab Sunan Bonang

Walaupun ada beberapa literatur yang mengatakan bahwa nasab Sunan Ampel merujuk ke Yaman, namun beberapa historiografi yang lebih tua menyebutkan nasab Sunan Ampel (ayah Sunan Bonang) merujuk kepada daerah Samarkand, sebuah negeri di Uzbekistan (Sunyoto: 2019). Ibu Sunan Ampel (nenek Sunan Bonang) disebutkan dalam Carita Lasem berasal dari daerah Champa, yaitu yang terkenal dengan sebutan Putri Champa (dimakamkan di daerah Lasem satu komplek dengan situs pasujudan sunan bonang). 

Letak negeri Champa pun masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan para pakar. Ada yang berpendapat negeri Champa terletak di wilayah Vietnam atau Kamboja, ada juga yang berpendapat negeri Champa ada di wilayah Pasai atau Aceh dan sekitarnya. Sehingga dalam beberapa cerita rakyat disebutkan nenek Sunan Bonang ini berasal dari daerah Pasai.

Jika menurut babad Cerbon, babad risaking Majapahit, dan Hikayat Hasanuddin disebutkan bahwa Ibrahim Asmarakandi Ayah Sunan Ampel berasal dari daerah Tulen, Agus Sunyoto menyebut daerah tersebut berada di sekitar laut Kaspian yang masuk wilayah Kazakhtan. Sementara itu, Atlas Walisongo juga menyebutkan naskah dari Kelenteng Talang yang menyebutkan bahwa Sunan Bonang merupakan keturunan dari Yunan, China Selatan yang bernama asli Bon Ang putra Bong Swi Ho (disebut sebagai Sunan Ampel) dan merupakan cucu buyut dari Bong Tak Keng (disebut sebagai Ibrahim As-Samarqandy).

Dalam Atlas Walisongo, Agus Sunyoto menyebutkan silsilah Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang yang sampai kepada Nabi Muhammad S.A.W. Urut-urutannya adalah:

  1. Makdum Ibrahim Sunan Bonang putra
  2. Raden Rahmad Sunan Ampel putra
  3. Sayyid Ahmad Rahmatilah putra
  4. Maulana Malik Ibrahim putra
  5. Jamaluddin Akbar Khan Syaikh Jumadil Kubro putra
  6. Ahmad Jamaluddin Khan putra
  7. Abdullah Khan putra
  8. Abdul Malik Al Muhajir An Nasrabadi putra
  9. Alawi Ammil Faqih al Hadrami putra
  10. Muhammad Shohib Mirbath Al Hadrami putra
  11. Ali Kholi’ Qosam putra
  12. Alawi As Tsani putra
  13. Muhammad Shohibus Saumi’ah putra
  14. Alawi Awwal putra
  15. Ubaidullah putra
  16. Ahmad Al Muhajir putra
  17. Isa Ar Rumi putra
  18. Muhammad An Naqib putra
  19. Ali Uraidhi putra
  20. Ja’far Ash Shodiq putra
  21. Muhammad Al Baqir putra
  22. Ali Zainal Abidin putra
  23. Husain putra
  24. Ali + Fatimah putri
  25. Muhammad S.A.W

Betapapun terdapat banyak perbedaan mengenai asal usul Sunan Bonang ini, tapi dari kesemua sumber tersebut sepakat bahwa Sunan Bonang merupakan seorang berdarah asing, keturunan asing, tapi lahir  di Jawa dan dididik dengan pendidikan Jawa, berbahasa Jawa, dan berbudaya Jawa. karena hidup dekat dengan lingkungan kadipaten. Maka tak mengherankan jika Sunan Bonang cenderung lebih menguasai keilmuan dan kesenian Jawa dibanding ilmu dan seni dari Arab, Yunan, Samarkand, dan lain-lain, karena memang sejatinya Sunan Bonang adalah orang Jawa. Yang pada akhirnya ilmu tentang sosial, budaya, teknologi, arsitektur, kesenian, dan kebatinan Jawa inilah yang dipakai untuk menyebarkan ajaran Islam di kalangan masyarakat Jawa. Akan terdengar tidak masuk akal jika masyarakat Jawa pada masa itu dengan mudahnya menerima budaya asing sebagai identitas mereka.

Agus Sunyoto menyebut proses Islamisasi yang dilakukan Walisongo ini terhitung sangat cepat. Walisongo diperkirakan dibentuk pada sekitar tahun 1470-an dan menurut catatan Tome Pires tahun 1515 (dalam Suma Oriental) menyebut bahwa sepanjang pesisir Jawa saat itu sudah dipimpin oleh adipati-adipati muslim. Ini berarti dakwah Walisongo berhasil hanya dalam waktu sekitar 50-an tahun. Suatu hal yang mustahil dilakukan jika walisongo mengajarkan ajaran Islam menggunakan ilmu, budaya, dan kesenian asing kepada masyarakat Jawa.

 

 

Daftar Pustaka

Atmodarminto. 1955. Babad Demak. Yogyakarta: Pesat.

Babad ing Gresik. _

Babad Risakipun Majapahit. _

Babad Tuban._

Babad Tanah Jawi: Terbitan Balai Pustaka tahun 1939-1941, 24 Jilid.

Purwadi. 2015.  Mistik dan Makrifat Sunan Bonang: Kisah dan Ajaran Guru Besar Para Wali di Tanah Jawa. Yogyakarta: Araska.

Schrieke, B. 1916. Hey Boek Van Bonang. Koleksi perpustakaan University of Chicago: diakses secara daring.

Suma Oriental. 2016. Penerbit Ombak: Yogyakarta

Sunyoto, Agus. 2016. Atlas Wali Songo. Tangerang Selatan: Pustaka Iman.

Shashangka, Damar. 2015. Darmagandhul: Kisah Kehancuran Jawa dan Ajaran-ajaran Rahasia. Banten: Dolphin.

Share:

Rozaq Muhammad

Santri yang Mirip Sejarawan | Mahasiswa Magister Ilmu Sejarah UGM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.