Sandal Lili Kiai Marzuki: Menguak Sisi Keteladanan KH. Marzuki Mustamar

Oleh: Abid Muaffan

Sepintas tak ada yang istimewa dibalik sandal bermerk Lily ini. Sandal yang sempat populer pada tahun 70-an ini, terkesan kuno, ketinggalan zaman dan cukup sulit ditemukan di pasaran. Sandal ini dulu sebenarnya, diproduksi pabrikan Jepang. Namun setelah sempat bangkrut, maka kepemilikan beralih ke produsen dari Indonesia.

Melihat tampilannya sandal ini lebih banyak dipakai oleh orang-orang tua. Meski terlihat kuno, Keistemewaan sandal ini terletak pada kualitasnya yang cukup handal di berbagai medan. Maka tak heran jika di masa jayanya yang berlangsung sampai tahun 90-an, sandal berbahan karet ini diproduksi sampai puluhan juta pasang. Saat ini di pasaran harga sandal ini hanya berkisar 50-ribuan. Jika anda ingin bernostalgia dengan sandal warna khas kuning keemasan, merah, biru, hitam, dan coklat ini dan tak menemukannya di pasar, maka toko online seperti tokopedia telah menyediakannya.

Namun pada hakikatnya bukan pada sandalnya yang terkesan jadul ini, namun tergantung siapa yang memakainya. Adalah Drs. KH. Marzuki Mustamar, M.Ag yang masih begitu setia menggunakannya di setiap apapun baik pengajian, keseharian, bahkan tetap istiqomah digunakan saat mengajar sebagai dosen Sastra di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Mantan Ketua Jurusan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang ini masih begitu istiqomah mengenakannya.

Meski sederhana sandal inilah yang sering menemani perjalanan ayah 7 anak ini kemanapun putra almaghfurlahu Kyai Mustamar bin Kyai Ridwan Kanigoro Blitar ini melangkah, termasuk mendakwahkan ajaran ahlus sunnah wal jama’ah an-nahdiyah di pelosok tanah air, dari Jambi, Sumatera di barat sampai Merauke di Indonesia bagian timur.

Suami dari Ibu Nyai Saidah ini merupakan seorang Kyai Besar yang memegang tampuk kepemimpinan dalam stuktural Nahdlatul Ulama. Alumni Pondok Pesantren Nurul Huda, Mergosono asuhan almaghfurlahu KH. Masduqi Mahfudz (Mantan Rois Syuriah PWNU Jawa Timur) saat ini menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.

Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad, Gasek, Karangbesuki, Sukun, Kota Malang ini memang selalu tampil dengan apa adanya seperti saat berada diatas panggung, yang meski telah meski oleh panitia disediakan kursi atau sofa. Namun dengan kerendahan hatinya putra ke-2 dari 7 bersaudara pasangan Kyai Mustamar dan Ibu Nyai Zainab ini tak sungkan untuk duduk bersila atau justru berdiri.

Sepintas terlihat alumni LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Islam dan Arab) Jakarta ini begitu kaya harta. Seperti Toyota Corolla Altis N 26 NU-nya yang ditungganginya. Belum lagi pesantrennya yang cukup besar yang saat ini sudah berdiri di 3 lokasi di sekitar Kota Malang yakni di Gasek, Betek dan Tegalweru. Belum lagi rencana membuka pesantren keempat di Poncokusumo yang terletak di kaki gunung Bromo.

Meski begitu kopyah hitam, baju batik, sarung dan tak lupa sandal lily kuning ini (foto diambil pengajian di Majelis Dzikir wa Ta’lim Al-Khidmah di Kecamatan Turi Lamongan, Oktober 2017) yang sering digunakannya dalam menghadiri berbagai undangan. Ditambah lagi keramahan dalam berbicara dan kesantuanan dalam bersikap membuat setiap orang jatuh hati pada mantan Ketua PCNU Kota Malang ini.

Bahkan saat menghadiri acara kenegaraan seperti upacara, seminar maupun rapat penampilan tersebut tidak berubah. Pejabat maupun rakyat jelatapun ditemuinya tanpa pandang bulu. Materi yang disampaikan pun begitu mantap yang mampu membuat banyak orang terpana dan tertarik tuk mengikuti pengajiannya.

Gayanya yang “ces pleng” atau to the point ditambah lagi dengan kedalaman ilmu seperti hafalan Al-Qur’an dan Hadist Shohih Bukhari dan Shohih Muslim-nya yang begitu kuat serta didukung luasnya wawasan dalam menjawab problematika umat. Hal inilah yang membuat Kyai kelahiran Karangsono, Blitar, Kanigoro, Blitar ini dalam menyampaikan materi ceramah, membuat jamaah terkesima dan tak jenuh tuk menyimaknya.

Tak hanya pengajian yang dapat dinikmati secara langsung seperti di setiap selasa malam di Masjid Sabilillah, Blimbing Kota Malang, Rabu Pagi di Masjid Jami’ Kota Malang atau Pengajian Jum’at pagi di pesantren yang diasuhnya. Para jamaah dari berbagai penjuru tanah air juga antusias menyimak ceramahnya lewat layar kaca seperti Tv9, Gajayana TV, Youtube sampai beberapa radio lokal.

Selain pengajian rutin, Kyai yang begitu mengagumi sosok Gus Dur juga mengasuh 2 pengajian temporer yakni Majelis Ta’lim wal Maulid Ad-Diba’ dan Cangkrukan Gus Dur. Belum lagi undangan dari masyarakat, pejabat maupun instansi yang begitu padat. Hal ini terlihat dari Nokia Qwerty jadulnya yang digunakan untuk mencatat jadwal pengajian, disamping sebagai alat berkomunikasi.

Meski begitu sibuk kesibukannya berceramah, mengasuh pesantren dan mengajar di kampus, pria kelahiran 22 September 1966 ini juga telah banyak banyak menelurkan karya tulis seperti kitab Muqtatofat li ahlil bidayat, Solusi Hukum Islam, dalil-dalil praktis amaliyah nahdiyah. Selain itu karya beliau juga dapat dinikmati di Tabloid Media Ummat di rubrik tanya jawab hukum islam yang terbit setiap 2 pekan sekali.

Menyimak dari prestasi menterengnya, maka tak salah jika KH. Baidhowi Muslih, Ketua MUI Kota Malang sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Anwarul Huda, Karangbesuki, Sukun, Kota Malang menyematkan julukan Hujjatul NU kepada kyai barusaja menapaki usia 53 tahun.

Begitulah sebenarnya rahasia sukses dalam berdakwah. Walaupun terlihat sederhana dalam penampilan seperti yang ditunjukkan Kyai Marzuki dengan sandal lily-nya. Namun kecerdasan intelektual, keluasan pergaulan, kekayaan pengalaman, dan keluhuran akhlak lebih diutamakan untuk dapat berkiprah dan diterima di tengah-tengah masyarakat yang plural. Karena Allah SWT tak hanya memandang penampilan dhohir (luar) seseorang saja.

Namun Dzat Yang Maha Suci ini juga melihat bagaimana kejernihan hati kita, yang tercermin dengan akhlakul karimah dari tutur kata, dan sikap kita. Dan pada hakikatnya pakaian yang terbaik bukan pada bagus atau mahalnya, namun terletak pada pakaian ketaqwaan-Nya kepada Allah dan kasih sayangnya kepada sesama makhluk-lah yang membuat manusia tersebut begitu berharga di sisi Tuhan dan seluruh makhluk-Nya. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26)

*Abid Muaffan (Santri Backpacker Nusantara)

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *