Salaman Inside Offside: Melacak Akar Sejarah Tradisi Salim Wolak-Walik Ala Santri

Oleh: Ning Nisaul Kamilah

Pernah lihat orang salaman dengan cara mencium punggung tangan dan telapak tangan dibolak balik?

Dulu, saya sempat berpikir apa salaman model begitu tidak too much, alias berlebihan? Masak salaman kok inside offside? Apa tidak cukup salaman dengan mencium punggung tangan saja?

Setelah menelaah lebih jauh, budaya salaman itu ternyata sudah mendunia sejak jaman dahulu kala sehingga menjadi sebuah tradisi. Salaman dipercaya sebagai ekspresi keakraban juga ritual perkenalan antarmanusia.

Sejarawan asal Jerman Walter Burkert berpendapat bahwa jabat tangan awalnya merupakan cara menyampaikan niat damai. Dengan mengulurkan tangan kosong, orang akan saling mengetahui bahwa yang di depannya tak memegang senjata.

Evan Andrews dalam tulisan berjudul “The History of The Handshake” mengungkap, sejarah awal salaman tampak pada relief abad IX sebelum Masehi. Pada relief itu, Raja Assyria Shalmaneser III (859-827 SM) berjabat tangan dengan penguasa Babylonia untuk meneguhkan aliansi.

Jejak lain salaman juga ditemukan pada abad IV dan V SM. Dalam seni penguburan Yunani itu terlihat gambar orang yang sudah meninggal bersalaman dengan anggota keluarganya. Relief itu menandakan perpisahan.

Bagi orang Romawi kuno, salaman dianggap sebagai simbol kesetiaan, persahabatan, dan kepercayaan. Gambar jabat tangan yang menyimbolkan kepercayaan dan kesetiaan itu bisa ditemukan dalam jejak koin Romawi kuno.

Nah, konteks salaman di dunia santri cenderung diartikan sebagai salim, alias salaman tapi dengan cara membungkukkan badan lalu mencium tangan. Sebagaimana diketahui bahwa Al-Adab Fauqol Ilmi yang artinya adab itu letaknya di atas ilmu. Maka salaman ala santri dengan mencium tangan bolak balik juga bagian dari Al Adab serta penghormatan kepada ulama sebagai warotsatul anbiya’.

Bahkan, Allah sendiri menghargai para ulama sebagaimana termaktub dalam Al-Quran Surat Fathir ayat 28.

“Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadanya hanyalah para ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.( QS. Fathir:28 )

Dari para Kiai, ustadz, transmisi keilmuan dan syariat Allah yang disampaikan Nabi Muhammad bisa sampai kepada kita, manusia akhir jaman. Oleh karena itu, santri santri sering sekali melakukan cium tangan dengan cara membolak balik tangan kiainya atau ustadznya.

Cium tangan bolak balik, offside inside, kadang dicurigai beberapa firqoh islam  sebagian bentuk pengkultusan bahkan sampai ke bentuk penyembahan. Padahal dalam bersalaman wolak walik mengandung dua makna.

Pertama, ketika mencium punggung tangan orang yang sholeh, maka konteksnya taadduban. Bertatakrama. Bersopan santun. Sedang yang kedua, ketika mencium bagian telapak tangan, maka konteksnya adalah tabarrukan. Mengharap keberkahan.

Jadi, yang sudah terbiasa salaman bolak balik, baik kepada kiainya, ustadznya, orang tuanya, niatkan dua hal di atas. Taadduban dan tabarrukan. Perkara orang yang disalimi mau atau tidak, ya kita musti tau juga kebiasaan beliaunya. Ada yang seperti Syekh Ramadhan Al buty yang menolak dicium tangannya, maka ya jangan memaksa. Ada yang seperti Habib Umar bin Hafidz yang bersedia disalimi bolak balik, ya kita salaman.

Selamat merawat tradisi.

Nisaul Kamilah, Founder Halaqoh 1001 Aksara.

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.