Revitalisasi Misi Besar Islam dalam Al-Quran dan Hadits

Sebagai muslim, sudah menjadi pengetahuan yang umum bahwa kita diciptakan untuk menjadi khalifah fil-ardh. Menjadi pemimpin dari seluruh makhluk ciptaan Allah yang lain. Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, tentunya kita harus memiliki misi dalam hidup. Ternyata, Allah sudah mencanangkannya dalam al-Quran untuk kita pelajari, agar tak salah arah saat menjalankan amanah kepemimpinan tersebut. Misi ini adalah formula untuk ‘memperkenalkan’ agar Islam menjadi rahmatan lil alamiin. Agar Islam menjadi kebahagiaan bagi seluruh alam, bukan menjadi stimulus rasa takut karena embel-embel teroris yang beberapa waktu lalu sempat disematkan oleh para haters.

Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo, guru besar UIN Maliki Malang, dalam bukunya yang berjudul ‘Membangun Peradaban dari Pojok Tradisi’, menjabarkan bahwa sebenarnya Islam memiliki misi yang hendaknya kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Misi-misi ini merupakan rumusan pelajaran yang terkandung dalam al-Quran dan Hadits Rasulullah saw. Jika kita dapat menjalankan misi tersebut dengan baik, maka tak heran, beliau berkesimpulan bahwa Islam akan mampu kembali berjaya di masa yang akan datang.

Misi Islam tersebut secara kaffah dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Islam mengajarkan pemeluknya harus kaya akan ilmu. Masih ingat surat yang menjadi wahyu saat pertama kali diturunkan? Bukan, bukan surat al-Fatihah, melainkan surat al-Alaq ayat pertama. Yang berbunyi, “Iqra’ bismi robbika-lladzii kholaq“. Yang berarti “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Allah menganjurkan kita untuk rajin membaca. Membaca untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Membaca disini tak melulu diartikan membaca buku, tapi membaca dengan seluruh panca indera kita yang telah diciptakan oleh Allah swt. Membaca berarti mengobservasi, mensurvey. Membaca juga bisa berarti mewawancara, meriset, meneliti. Jika seseorang sudah mahir membaca, panca inderanya terasah dengan baik, maka akan tumbuh kesadaran untuk bangkit dan bergerak. Kalau seseorang sudah bergerak, maka akan tumbuh semangat perjuangan, jika sudah dimikian, kemenangan pun akan mampu diraih. Membaca adalah pintu, bahkan kunci utama segala keberhasilan hidup ini.

Allah juga berjanji akan mengangkat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat lebih tinggi (QS. Al-Mujadilah:11). Sebagai contoh, kita biasanya belajar kepada orang-orang yang sukses. Orang sukses biasanya memiliki banyak pengalaman gagal dalam hidupnya. Sepanjang rentang waktu kegagalan tersebut, mereka berproses untuk belajar, terus membaca, terus mencoba, menabung trial dan error. Namun mereka menjadikan kegagalan itu sebagai data riset, untuk dianalisis dan dievaluasi sehingga kemudian berhasil mengambil peluang selanjutnya di masa depan. Contoh lain, kita pun banyak belajar dari guru-guru kita. Para Kiai kita. Tak akan seseorang menjadi guru, jikalau tak menghabiskan waktu lama untuk belajar sehingga bisa mengamalkan ilmunya dengan sebaik mungkin. KH Masykur Abdul Mu’id, LML berpesan, “Kamu boleh jadi apa saja, namun jangan tinggalkan dirimu sebagai guru!”. Maknanya, dalam level sukses manapun, hendaknya setiap orang mengamalkan ilmunya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Karena melalui pendidikan pula, kita dapat mengubah sebuah bangsa menjadi lebih maju dan beradab.

  1. Islam membangun pribadi unggul. Pribadi unggul maksudnya ber-akhlakul karimah. Setelah berilmu, diharapkan seorang muslim memiliki pribadi yang luhur, yang baik, jujur dan adil. Sejak kecil, kita dikenalkan sifat-sifat Rasulullah saw, seperti Fathanah (cerdas atau pandai), Shiddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), dan Tabligh (menyampaikan). Maka hendaknya, sifat-sifat Rasul inilah yang kita contoh, kita pelajari, dan lakukan untuk menjadi sebaik-baik pemimpin. Sedangkan, apa yang banyak kita temukan di zaman sekarang, segalanya sudah jauh berbeda. Ada saja pemimpin yang tidak amanah, tak jujur, malah berani melakukan korupsi. Padahal, ketika seorang pemimpin sudah berani melakukan korupsi, sudah hilang denyut takutnya atas pembalasan Allah swt. Bahkan bisa jadi sudah hilang kepercayaannya kepada Allah swt. Jika sudah demikian, hati-hati, muslimnya hanya sebatas status dalam KTP.
  2. Islam membangun tatanan sosial yang setara dan berkeadilan. Konon disebutkan bahwa pada zaman jahiliyah, sebelum Islam datang. Bangsa Arab tinggal berkubu-kubu. Kubu yang kuat berhak menindas yang lemah. Kubu yang lemah pasrah saja menjadi budak dan diperjual belikan. Tak jarang ada pembunuhan dan pembantaian terhadap mereka. Namun datangnya Islam mengubah kebiasaan tersebut, karena Islam mengajarkan bahwa setiap orang di mata Allah itu sama. Allah tidak memandang seseorang melalui rupa dan hartanya, melainkan amalnya.
  3. Islam memberikan tuntunan ritual untuk memperkaya spiritual. Dimensi spiritual ini sangat penting untuk mencapai ketenangan dan kesejahteraan hidup setiap manusia. Melalui ritual shalat, dzikir, zakat, puasa, dan haji, setiap muslim mampu mengasah kecerdasan emosi dan spiritualnya. Misalnya saja puasa, kita dituntut tidak hanya menahan haus dan lapar, namun juga menahan hawa nafsu dan marah. Selain itu, tujuan kita dianjurkan puasa adalah agar kita mampu merasakan bagaimana menjadi fakir miskin yang untuk mencukupi kebutuhan perutnya sehari-hari saja kesulitan.

Kita juga diperintahkan untuk berzakat kepada orang-orang yang membutuhkan, agar mereka bisa merasakan kebahagiaan yang sama sebagaimana yang kita rasakan ketika hari raya tiba. Ritual-ritual tersebut selain berdampak positif bagi tingkat kedewasaan spiritual kita, juga menciptakan tatanan sosial yang setara dan berkeadilan sebagaimana yang telah dijabarkan sebelumnya.

  1. Islam mengedepankan amal shalih. Amal berarti bekerja. Shalih berarti luhur, benar, tepat, sesuai. Dalam al-Quran, kita diperintahkan untuk selalu beramal shalih. Maksudnya bekerja secara benar, secara profesional, tidak setengah-setengah dan sesuai bidangnya. Tak heran jika ada pepatah, “The right man in the right place“. Pekerjaan harus ditangani dengan profesional. Jadi apapun dan dimanapun, seseorang hendaknya melakukan pekerjaannya dengan benar. Dalam sebuah hadits pun dinyatakan bahwa jika sebuah pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya (HR. Bukhari: 6015). Jika sudah ditangani secara profesional, maka tunggulah keberhasilannya.

Kelima misi Islam di atas saling berkesinambungan antara satu dengan lainnya. Hal ini melatih kita menjadi seorang hamba yang shalih. Tak hanya shalih secara ritual, namun juga shalih secara spiritual dan shalih intelektual. Pada zaman dahulu, banyak tokoh besar muslim menjadi penemu di bidang ilmu pengetahuan umum dan kontemporer. Aljabar misalnya, penemu dalam bidang Matematika. Ada pula Alfarabi, penemu dalam bidang ilmu musik dan psikologi. Karya mereka sangat bermanfaat dan digunakan di seluruh penjuru negeri hingga saat ini. Prof Imam menambahkan, jika seseorang sudah shalih, maka dia bisa meraih predikat insan kamila.

Semoga melalui tulisan ini, kita mampu menjalankan amanah sebagai khalifah dengan lebih baik dan sebaik mungkin.

Wallahu a’lam.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *