Resep dari Gus Muwaffiq: Agar Punya Keturunan Hebat

Oleh: Ali Adhim

Banyak hal yang bisa dipelajari dari riwayat kehidupan para ulama kita. Bukan hanya sebagai sebuah cerita, lebih dari itu semua, perjalanan seorang ahli ilmu adalah sebuah teladan bagi para generasi penerus. Dari berbagai masalah dan kejadian yang telah dialami oleh para ahli ilmu, kita bisa mengambil pelajaran dan solusi untuk diterapkan dalam kehidupan kita saat ini. Ide-ide serta semangat para ulama selalu penting untuk kita ambil demi menyulutkan api perjuangan di hati kita masing-masing.

Salah satu ulama hebat pengubah dunia Islam dalam ranah pendidikan adalah Imam al-Ghazali. Melalui berbagai karyanya umat Islam akhirnya bisa kembali tampil di depan dunia setelah sekian lama terpuruk oleh berbagai macam masalah internal terutama masalah keilmuan. Maka tidak berlebihan ketika wajah muslimin sedang carut-marut, saat ini kita sangat membutuhkan lahirnya kembali generasi sekaliber beliau untuk merombak ulang wajah peradaban Islam yang kian hari kian tenggelam dibawah bayang-bayang bangsa barat. Dan semoga, dari keturunan kitalah orang hebat tersebut kelak akan hadir kembali.

Bagaimana mengawali lahirnya seorang hebat? Apakah harus kaya untuk memfasilitasi anak kita? Atau harus selalu berusaha memberikan sekolah mahal dengan biaya melangit untuk pendidikan mereka? Dari mana semua itu diawali? Jawaban dari itu semua akan kita dapatkan ketika sejenak kita menengok sosok orang besar di balik Imam al-Ghazali yaitu ayahanda beliau.

Ayah Imam al-Ghazali adalah seorang fakir yang sholeh. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya sebagai pembuat pakaian kulit. Sang Ayah, suka mengunjungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka. Saat di majelis itu, sang ayah kerap menangis dan berdoa agar diberikan anak yang faqih dan ahli memberi nasihat (Imam al-Ghazali, Pengobar Semangat Berilmu oleh M. Anwar Djaelani)

Sekilas nampak sangat sederhana sekali beliau ini. Bukan seorang yang kaya, hanya seorang sholeh bukan ahli ilmu. Namun beliau memiliki setidaknya tiga sifat yang patut kita renungi dalam-dalam. Yang pertama adalah menjaga diri dari rizki yang tidak halal, kedua mencintai majelis ilmu, dan ketiga berdoa dengan sungguh-sungguh demi anaknya. Hanya tiga saja dan mari kita bahas satu-persatu.

Ayah adalah seorang tulang punggung, pencari rizki bagi keluaganya. Namun dalam mencari rizki tersebut, di sekitar kita masih terlihat para Ayah yang terkadang putus asa dalam usahanya. Terkadang karena kebutuhan yang banyak dan mahal, usaha mencari rizki tidak lagi melihat dalam koridor agama. Mana yang halal dan haram seakan sama ketika tuntutan harian harus dipenuhi saat itu juga. Berjalan di jalan syubhat, tersandung riba perbankan, apalagi terjebak dalam transaksi yang diharamkan agama dan lain-lain. Sejenak, ingatlah bahwa Ayah Imam al Ghazali hanya seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba). Bukan orang yang kaya bergaji besar, namun hanya berusaha di jalan yang halal.

Seolah hari ini Ayah yang berhasil adalah mereka yang membawa keluarganya kedalam kekayaan, sebaliknya Ayah “Gagal” adalah yang pulang dengan sedikit rupiah di kantongnya. Tak bisa dipungkiri bahwa semua orang ingin memiliki keturunan yang baik. Baik dalam arti dikaruniai kesehatan jasmani, kecerdasan fikiran, dan kebaikan lainnya. Untuk mendapatkan itu, KH Ahmad Muwafiq memiliki tip khusus.

Menurut Gus Muwafiq kunci memiliki keturunan yang baik adalah memperlakukan istri dengan baik. Dengan memperlakukan istri dengan baik maka sang istri akan merasa bahagia, dan kebahagiaan itu akan berdampak positif pada anak.

Bagaimanapun, kata Gus Muwafiq, suasana hati seorang ibu sangat berpengaruh pada suasana hati sang anak, dan dengan modal kesenangan itu sang ibu akan lebih semangat menemani dan mendidik anak.

Ketika seorang ibu hatinya tenang, maka ibu akan mengeksplorasi bagaimana mendidik anak yang hebat. Anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibu, maka hati inu harus riang gembira, tenang dan tidak terbebani masalah-masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab suami.

Dalam Islam sebagaimana terdapat dalam Alquran surat Al Hujarat :

“Hai manusia, sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah maha mengetahui, maha teliti.”[1]

Ayat di atas menjelaskan posisi wanita adalah pendamping laki-laki. Kodrat wanita dalam islam bukan bawahan atau pun atasan yang bisa diperlakukan sekehendak hati atau dituruti layaknya boss. Namun wanita adalah teman hidup yang sejajar.  Pada akir ayat Allah menegaskan bahwa orang yang mulia di sisi Allah, tergantung dari tingkatan iman dalam islam atau ketaqwaannya pada Alla.

Gus Muwafiq mempunyai pendapat bahwa tanggung jawab seoran ibu begitu besar. Untuk melahirkan generasi penerus seorang ibu harus melewati fase yang tidak sederhana dan bahkan berbahaya karena bisa terancam kehilangan nyawa.

Yang sudah dilakukan oleh perempuan untuk mencetak generasi penerus kita bukan perkara sepele. Hamil 9 bulan, melahirkan sambil bertaruh nyawa, menyusui dua tahun. Mendampingi anak 24 jam sehari tanpa lelah.

Menurut Ahmad Rozali, Gus Muwafiq lalu membandingkan kekuatan seorang ibu dan ayah dalam menggendong anak. Sederhana saja; ibu menggendong 2-3 jam kuat-kuat saja, sementara bapak menggendong anak 5 menit sudah pegel-pegel.[2] Dengan begitu, seakan-akan Gus Muwafiq ingin menunjukkan bahwa kenapa kedekatan anak lebih pada ibu daripada dengan ayah?

Sekalilagi marilah kita mengingat nasehat Gus Muwafiq di atas, resep agar mempunyai keturunan kuncinya adalah adalah memperlakukan istri dengan baik. Dengan memperlakukan istri dengan baik maka sang istri akan merasa bahagia, dan kebahagiaan itu akan berdampak positif pada anak.

[1] (QS : Al Hujarat, ayat 13)

[2] Ahmad Rozali dalam http://www.nu.or.id/post/read/101318/gus-muwafiq-mau-punya-keturunan-hebat-jangan-sakiti-perempuan, diakses 5 Maret 2019

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.