Relevansi Neo Modernisme Pendidikan Pesantren dalam perspektif Gus Dur

Relevansi Neo Modernisme Pendidikan Pesantren dalam perspektif Gus Dur - dawuh guru

Oleh: Dzika Fajar alfian Ramadhani

Gagasan neo modernisme mulai berkembang pada tahun abad 18 an sampai masih eksis hingga saat ini. Gagasan semacam ini selalu menjadi wacana yang sangat menarik untuk dibahas. Pasalnya gagasan neo modernisme seakan menjadi pengantar Pendidikan. Lebih tepatnya sebagai pemacu dalam pengembangan Pendidikan yang lebih efisien dan komprehensif.

Pemikiran tentang perkembangan di era modern turut diimbangi dengan memadukan antara modernisasi atau setidaknya ada gerakan pembaharuan dalam islam. Gus Dur memiliki pemikiran bahwa kaum islam tradisionalis tidak jumud dan stagnan. Bagaimana kemajuan islam itu bisa berhasil atau lebih spesifik dalam bidang Pendidikan, ya setidaknya diimbangi dengan mengikuti  arus perkembangan zaman.

Oleh karena itu pemikiran neo modernisme dalam kacamata Gus Dur bisa menjadi alternatif dalam perjalanan Pendidikan pesantren. Dalam proses Pendidikan pesantren modern khususnya. Sehingga Pendidikan Islam berbasis modern menjadi investasi jangka Panjang. Selain itu banyak sekali keuntungangan baik material hingga spiritual. Harapannya Pesantren dapat mencetak generasi yang dapat menyeimbangkan antara intelektualitas dan emosional serta didukung oleh pengalaman spiritualitas religious yang didapatkan di bangku pesantren.

Sejak ada dan berdirinya Lembaga pendidikan pesantren. Sistem yang terdapat di pesantren termarjinalkan dan seolah dipandang sebelah mata. Seiring dengan perkembangan zaman dan sebagai jawaban atas tantangan zaman, pesantren mulai menemukan eksistensinya di mata masyarakat. Pasalnya sikap adaptif terhadap tantangan zaman menjadi solusi yang efektif dalam merebut eksistensi sistem Pendidikan pesantren tanpa mengurangi nilai-nilai tradisionalitas yang telah dimiliki.

Jalan Pemikiran Gus Dur

Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur adalah salah satu tokoh ulama yang Masyhur di kancah Internasional. Beliau adalah tokoh yang sangat karismatik dan mempunyai jalan pemikiran yang sangat tidak bisa ditebak. Disamping karismatik beliau adalah Tokoh kiai yang sangat kontroversial. Bisa dilihat pada saat Gus Dur menjadi presiden. Langkah langkah pergerakan yang belum ada sebelumnya. Artinya keberanian yang sangat besar yang dimiliki oleh sosok Gus Dur sebagai strategi untuk mengubah tatanan sosial yang belum benar.

Baca Juga:   Kiai Kiai Khos di Belakang Gus Dur

Jika ditelisik lebih dalam, sikap Gus Dur tersebut sudah ada sejak beliau masih muda. Katakanlah mulai pada tahun 1970 an. Memang beliau memiliki latar belakang pesantren yang pada umumnya masih tradisionalis. Berangkat dari latar belakangnya tersebut, beliau mulai memiliki misi di usianya yang masih muda. Yaitu ingin mengenalkan nilai-nilai dan sistem yang ada di pesantren sebagai Langkah dinamisasi dan menunjukan bahwa Pendidikan pesantren adalah Pendidikan yang relevan di era modern.

Seiring dengan berjalanya waktu, Gus Dur berkembang dengan mengembangkan konsep Ahlussunnah Wal Jama’ah. Konsep ini adalah konsep inti sebagai pegangan dan pijakan kaum islam tradisionalis yang ada di Indonesia. oleh karena itu dengan mendorong kaum intelektual untuk menyongsong konsep baru dalam memperbarui konsep aswaja. Karena Aswaja sangat mengedepankan ilmu pengetahuan dan sosial dalam bermasyarakat. Hal penting dalam pembaharuan konsep aswaja adalah setiap individu memiliki kedudukan yang sama dan setiap individu berhak atas hak asasi manusia.

Dari keinginan untuk memperbarui konsep aswaja tersebut sehingga Gus Dur di stigmasi oleh masyarakat bahwa pemikiran tersebut terlalu liberal dan seakan menghilangkan nilai-nilai tradisionalitas. Disamping sosok Gus Dur adalah seorang yang sangat nasionalis dan sangat mengedepankan perdamaian dan toleransi dengan tidak mengklasifikasikan suku dan etnis sebagaimana seperti gagasan yang disebutkan “setiap individu memiliki kedudukan yang sama”.

Selain gagasan tentang Pendidikan islam berbasis pembebasan, Gus Dur juga memperhatikan Pendidikan yang Multikultural. Melihat sosio kultural di dalam pesantren yang sangat heterogen. Pendekatan multikultural adalah Langkah sebagai pendorong menciptakan tatanan sosial masyarakat yang dapat mendorong perubahan. Selain itu juga dapat mengembangkan sikap toleransi tanpa mempermasalahkan perbedaan ras,budaya Bahasa dan gender sebagai wujud persatuan.

Baca Juga:   Pemikiran Filsafat Sejarah Oswald Spengler

Relevansi Pemikiran Gus Dur dalam Pendidikan Modern

Sebagai tokoh yang populis dalam memimpin, beliau memiliki pengaruh besar dalam perubahan tatanan sosial. Didukung dengan pemikiran-pemikiran yang diusung sebagai pendorong Gerakan perubahan tatanan sosial. Sumbangsih pemikiran beliau memberikan dorongan yang cukup khususnya dalam perubahan Pendidikan. Sehingga kemudian banyak muncul Lembaga-lembaga Pendidikan berbasis modern

Transformasi Pendidikan setelah era KH. Abdurrahman Wahid sangat pesat. Perspektif yang diusung dinilai cocok dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia. lantas apakah komposisi dan strategi yang relevan dalam perkembangan Pendidikan islam yang ada di Indonesia? jawabanya adalah penyampaian dengan cara yang damai dalam mendorong perubahan.

Lihat saja pendekatan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang sangat pluralis dan persuasif. Dengan mengedepankan ilmu pengetahuan dalam konsep Aswaja. Seperti halnya wali songo yang dapat mengkombinasikan antara budaya dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam berdakwah. Seperti gagasan yang juga pernah ditanamkan gus dur adalah pribumisasi islam. Dengan pendekatan persuasif yang digagas  memberikan Langkah yang efektif dalam berstrategi.

Setiap individu memiliki hak yang sama, jika dikaitkan dengan Pendidikan islam di Indonesia bisa dikatakan relevan karena pada saat ini gagasan beliau terealisasikan dalam program merdeka belajar. Artinya setiap individu juga memiliki kemerdekaan yang keinginan serta kemampuan yang berbeda-beda. Bahkan kurikulum yang digagas oleh Kemendikbud Ristek yang terbaru dalam jenjang SLTA adalah kemerdekaan yang seluas luasnya dalam belajar dengan tidak membatasi kemampuan yang ingin didalami setiap individu.

Neo Modernisme adalah gagasan yang relevan sebagai respon atas perkembangan Pendidikan sampai saat ini. Menurut Gus Dur akulturasi antara sistem Pendidikan modern dan tradisional adalah perpaduan yang paling tepat jika melihat tatanan sosial masyarakat Indonesia. tentu bentuk akulturasi gagasan Gus Dur adalah bentuk percampuran sesuai Batasan-batasan dengan tidak melupakan nilai-nilai mendasar ajaran islam.

Baca Juga:   Tasawuf Hasan al-Basri

Biodata Penulis

Nama : Dzika Fajar alfian Ramadhani

Tempat Tanggal Lahir : Blora 15 November 2002

Hobi yang saya punya mungkin sedikit berbeda dengan orang lain, karena orang lain banyak mempunyai hobi olahraga, namun tidak dengan saya. Saya memiliki hobi Membaca, Ngopi dan merokok.

Pengalaman Organisasi : bergabung dengan PAC IPNU Kemantren Gondokusuman Kota Yogyakarta dan turut bergabung dengan PMII Komisariat Veteran Yogyakarta. Ikut serta bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa SIKAP.

Pengalaman Pendidikan : turut mengajar di Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.