RELASI ANTARA KESULTANAN ACEH DENGAN KESULTANAN TURKI USMANI

Hubungan yang terjalin di antara Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Turki Usmani sangat langka terjadi dan sangat menarik untuk dilakukan pengkajian, bila kita menengok kepada letak dua kesultanan tersebut, posisi mereka saling berjauhan satu sama lain yaitu Kesultanan Turki Usmani berada di daerah dataran Benua Eropa bagian tengah, sedangkan Kesultanan Aceh Darussalam berada di daerah dataran pinggiran dari benua Asia Tenggara, dan yang perlu kita ketahui juga, pada sekitar abad yang ke-16 sampai dengan pada abad yang ke-19 masih belum terdapat alat transportasi laut yang cukup mendukung. Walaupun seperti itu, hubungan kerjasama di antara dua kesultanan tersebut telah berlangsung selama kurang lebih 400 tahun yang lalu.

Sebelum terjalinnya hubungan kerjasama di antara negara Indonesia dengan negara Turki seperti yang terjadi pada masa sekarang ini, sejarah pernah merekam dengan baik bahwasanya pada zaman dahulu salah satu dari kesultanan yang berada di bumi nusantara dan pada saat itu diwakili oleh Kesultanan Aceh Darussalam pernah menjalin hubungan dan kerjasama dengan Kesultanan Turki Usmani. Dan bahkan hingga saat ini sebagian masyarakat yang berdomisili di Provinsi Aceh Darussalam masih memperingati dan merayakan hari di mana terjalinnya atas hubungan dan kerjasama di antara Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Turki Usmani. Kegiatan tersebut pernah dilaksanakan di kompleks pemakaman Tgk yang terletak di desa Bitai, Banda Aceh.

Kesultanan Aceh Darussalam mulai muncul di permukaan bumi nusantara sekitar abad yang ke-16 menggantikan kesultanan sebelumnya yaitu Kesultanan Samudra Pasai. Kesultanan Aceh Darussalam untuk pertama kalinya dipimpin oleh seorang sultan yang bernama Ali Mughayat Syah, pada waktu itu, Kesultanan Aceh Darussalam mulai menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di daratan Sumatera. Kesultanan Aceh Darussalam mulai memperluas jangkauan wilayahnya ketika masa pemerintahan Sultan Alauddin Al-Kahhar. Untuk memajukan perekonomian Kesultanan Aceh Darussalam tersebut, mereka berusaha untuk dapat menaklukkan wilayah perairan di Selat Malaka yang pada saat itu menjelma sebagai salah satu rute perdagangan rempah-rempah yang bertaraf internasional. Dikarenakan usaha mereka tersebut Kesultanan Aceh Darussalam harus berhadapan dengan kekuatan Kesultanan Johor dan juga bangsa Portugis yang pada saat itu menguasai Selat Malaka.

Munculnya berbagai alasan untuk melakukan perselisihan di antara Kesultanan Aceh Darussalam dengan bangsa Portugis bukan hanya didasari soal yang berkaitan dengan bidang perpolitikan, mereka juga bersaing baik itu di dalam bidang perekonomian sampai dengan bidang keagamaan yang menjadi alasan permusuhan di antara Kesultanan Aceh Darussalam dengan bangsa Portugis, bukan hanya persoalan dalam memperebutkan wilayah perairan yang terletak di selat Malaka, namun juga pada saat itu, di wilayah perairan Samudera Hindia kapal-kapal dagang yang dimiliki oleh Kesultanan Aceh Darussalam yang sedang melakukan pelayaran untuk sampai ke daerah timur tengah juga menjadi sasaran dari penyerangan yang dilakukan oleh kapal-kapal armada laut bangsa Portugis.

Tekanan yang diberikan oleh bangsa Portugis berhasil menimbulkan rasa kerugian yang dialami oleh Kesultanan Aceh Darussalam, langkah selanjutnya yang diambil oleh Kesultanan Aceh Darussalam adalah mulai mengirimkan utusan atau duta besar menuju Kesultanan Turki Usmani, utusan atau duta besar tersebut memiliki tugas untuk meminta bantuan dalam bidang kemiliteran untuk menghadapi bangsa Portugis. Kemudian pada tahun 1547 tercatat bahwasanya ketika Kesultanan Turki Usmani sedang dipimpin oleh Sultan Suleiman I, utusan atau duta besar Kesultanan Aceh Darussalam telah berhasil sampai ke kota Istanbul. Utusan atau duta besar tersebut memohon bantuan dalam bidang kemiliteran baik itu bantuan armada laut dan juga bantuan meriam yang akan digunakan Kesultanan Aceh Darussalam untuk melawan tekanan yang dilakukan oleh bangsa Portugis. Bantuan-bantuan yang diminta oleh utusan atau duta besar Kesultanan Aceh Darussalam selanjutnya dituruti oleh Sultan Suleiman I, hal tersebut dikarenakan Sultan Suleiman I juga merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan perlindungan terhadap kapal-kapal orang-orang muslim dari serangan armada laut bangsa Portugis.

Bermula dari terjadinya peristiwa tersebut, hubungan kerjasama di antara Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Turki Usmani pada abad yang ke-16 mulai terjalin dan berlangsung secara terus menerus sampai kepada masa kepemimpinan Sultan Selim II. Kebijakan yang dilakukan oleh beliau hampir sama dengan sultan-sultan sebelumnya, yaitu Sultan Selim II pernah mengirimkan bantuan kepada Kesultanan Aceh Darussalam dalam bidang kemiliteran seperti pasukan artileri, kapal, dan juga berbagai alat-alat persenjataan yang sangat dibutuhkan oleh Kesultanan Aceh Darussalam dalam menghadapi bangsa Portugis, untuk membantu Kesultanan Aceh Darussalam, Kesultanan Turki Usmani pernah berencana untuk mengirimkan sebuah ekspedisi yang dikomandoi oleh laksamana yang berasal dari Kesultanan Turki Usmani sendiri yaitu Laksamana Kurtoglu Hizir Reis menuju Kesultanan Aceh Darussalam. Pada perkembangannya ekspedisi tersebut mengalami kegagalan dikarenakan ekspedisi tersebut ditugaskan untuk menyelesaikan pemberontakan yang terjadi di tanah Yaman, sedangkan bantuan yang berupa alat persenjataan dan sekaligus teknisi militer yang dikirimkan oleh Kesultanan Turki Usmani berhasil sampai ke Kesultanan Aceh Darussalam dengan selamat.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan catatan dari bangsa Portugis yang dilakukan sekitar tahun 1582, dalam catatan tersebut disebutkan bahwasanya Kesultanan Aceh Darussalam pada setiap tahun memberangkatkan utusan atau duta besar dengan membawa berbagai cinderamata seperti batu mulia, rempah-rempah, emas, dan parfum yang diperuntukkan kepada sultan dari Kesultanan Turki Usmani. Kemudian Kesultanan Aceh Darussalam juga membangun hubungan perdagangan rempah-rempah dengan dengan berbagai wilayah di daerah timur tengah, untuk membalas pemberian Kesultanan Aceh Darussalam, Kesultanan Turki Usmani memberikan bantuan dalam bidang kemiliteran yaitu berbagai alat-alat persenjataan, pemberian perlindungan terhadap wilayah Kesultanan Aceh Darussalam, serta mengirimkan tenaga ahli dalam dunia kemiliteran. Dari terjadinya hubungan tersebut Kesultanan Aceh Darussalam menjadi salah satu wilayah persekutuan dari Kesultanan Turki Usmani yang bertahan sampai dengan abad yang ke-18.

Hubungan kerjasama yang terjadi di antara Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Turki Usmani sangat menarik untuk dibahas, padahal apabila kita lihat dari letak kedua kesultanan tersebut secara wilayah sangat berjauhan, yang menjadikan menarik adalah semangat dari melakukan hubungan dan kerjasama itu sendiri, di mana baik dari Kesultanan Aceh Darussalam dan juga Kesultanan Turki Usmani memiliki semangat yang sama yaitu rasa menjadi saudara didasarkan atas semangat keagamaan.

DAFTAR PUSTAKA
.

Aizid, Rizem. 2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Yogyakarta: Diva Press.

Hurgronje, Snouck. 1985. Aceh di Mata Kolonialis. Jakarta: Yayasan Soko Guru.

Lombard, Deniys. 2006. Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Jakarta: kepustakaan Populer Gramedia.

Muhammad Ash-Shallabi, Ali. 2017. Sejarah Daulah Utsmaniyah faktor-faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya. Jakarta: Ummul Qura.

TENTANG PENULIS.

Penulis merupakan mahasiswa yang sedang menempuh jenjang pendidikan S1 jurusan ilmu sejarah di universitas Negeri Malang

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *