Reinterpretasi Agama

Agama dalam sejarahnya selalu menjadi perbincangan yang tidak mengenal kata usang, karena pada dasarnya manusia adalah mahluk spiritual yang selalu memiliki keterhubungan dengan yang ilahi. Sebab itu, perbincangan agama selalu menarik dan menggairahkan. Agama sampai hari ini tetap menjadi tema yang seksi untuk dibahas. Mesikupun masih banyak perdebatan disana sini, apakah sesunggunya definisi dari agama itu. Atau perlukah agama di definisikan ?  agama itu bersifat public atau privat, profan atau sakral, eksterior atau interior, personal atau atau institusional, kita bisa menambah deretan pertanyaan itu untuk menundukkan apa sebenarnya agama itu sesungguhnya.

Michael Lambek dalam  A Companion to the Anthropology of Religion (2013) membuat pertanyaan yang lebih menggelitik, apa agama itu bagi antropologi. Sekilas pertanyaan ini sesungguhnya mengandung kesombongan yang nyata. Tetapi ia ingin mengatakan bahwa agama menjadi sesuatu yang seksi karena dengan agama -lah persoalan kemanusaiaan itu tampak semakin nyata. Selama ini diakui atau tidak agama itu seperti panggung yang menampilkan berbagai macam tragedy, konflik, kekerasan, kemiskinan, dominasi, perpecahan, kerumitan-kerumitan yang manusia di dalamnya melihat semua adegan itu.

Konflik yang tidak pernah reda sampai sekarang misalnya antara hindu dengan islam di India, sunni dan syiah yang telah berlangsung selama ratusan tahun, antara protestan dengan katolik, tragedy WTC di Amerika, ISIS yang baru saja menggemparkan dunia, para pengantin bom bunuh diri dan masih banyak sekali sederet masalah yang tidak bisa disebutkan semua dalam tulisan ini. Sebab itu, antropologi punya ketertarikan melihat bagaimana realitas kehidupan sehari-hari orang yang menjalani praktek keagamaan.

Clifford Greetz dalam The Interpretation of Culture (1973) mendefinisikan agama sebagai “ Sebuah sistem simbol-simbol yang bertindak untuk menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat, meresap, dan tahan lama dalam diri manusia, dengan cara merumuskan konsepsi-konsepsi mengenai suatu tatanan umum eksistensi, dan membungkus konsepsi-konsepsi ini dengan pancaran faktualitas , sehingga suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak secara unik dan realistis.” Dari definisi ini kita bisa melihat bahwa Agama bagi Greetz adalah sebuah sistem kebudayaan bukan sebagai sistem teologis. Sebagai sebuah kebudayaan yang diyakini oleh berbagai macam kelompok maka hal itu menjadi pedoman bagi kelompok itu untuk melakukan interpretasi atas lingkungannya. Dari interpretasi maka berimplikasi terhadap Tindakan sehari-hari masyarakat tersebut.

Dalam agama symbol menjadi sesuatu yang penting, hampir seluruh ritus dalam agama itu tidak bisa lepas dari sebuah symbol. Masjid, Gereja, Sinagog itu adalah symbol sakralitas agama. Al-Qur’an, Injil, Weda itu juga symbol. Dan fungis agama dalam konteks masyarakat sangat penting dan mendasar, karena agama mampu untuk mengatur dan mengendalikan sistem sosial di masyarakat, sehingga pada gilirannya agama menjadi inti kebudayaan dari masyarakat. Karena itu agama juga mampu menjadi sumber inspirasi dan kekuatan untuk menggerakkan masyarakat, terutama masyarakat kita di Indonesia yang mengaanggap agama sebagai sesuatu yang penting.

Secara antroplogis maka agama tidak bisa di definisikan, tetapi yang dilihat kemudian adalah praktik orang-orang menjalankan agamanya. Manifestasi dari keyakinanya Bergama. Hal ini bisa menjadi kritik sosial yang menarik jika saja masih banyak orang yang mengaku beragama tetapi kehidupan sehari-harinya masih suka melakukan eksploitasi, korupsi, dominasi, penindasan, diskriminasi, dan sederat keburukan yang lain sehingga orang yang mangaku beragama itu patut di curigai, apakah yang salah agamanya atau orang yang beragama ?

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *