Rahmah el-Yunusiah: Ulama Pembaharu pendidikan Islam bagi Perempuan

Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan dituntut dari diri saya… Jika Kakanda bisa kenapa saya, adiknya, tidak bisa. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa.”

Rahmah el-Yunusiah adalah hak perempuan, perjuangan kesetaraan gender, dan pembaharu pendidikan Islam bagi kaumnya. Jika mempertimbangkan stereotip  ‘ulama’ yang dipahami Muslim Indonesia dengan mengacu pada mereka yang berjenis kelamin laki-laki, Rahma el-Yunusiah mungkin terlihat sebagai sosok ulama yang tidak banyak dikenal. Namun demikian, Cora Vreede dan De stuers melihat ketokohan Rahma sebagai salah satu ulama perempuan terkemuka ke dalam dua sisi. Pertama, seperti Ki Hadjar Dewantara, Rahma adalah tokoh pembaharu pendidikan yang tampil atas inisiatif pribadi. Kedua, ia ditempatkan sejajar dengan tokoh gerakan perempuan yaitu—Kartini dengan surat-suratnya dan Dewi Sartika dengan sekolahnya.

Menempatkan Rahmah pada posisi demikian bukanlah tanpa alasan. Rahmah el-Yunusiah telah berhasil merealisasikan gagasan tentang pendidikan Islam sebagai basis pembentukan masyarakat muslim yang menghargai martabat kaum perempuan. Selama 46 Tahun di bawah kepemimpinannya, Madrasah Diniyah li al-Banat telah berkembang demikian pesat. Ia telah mendirikan lembaga pendidikan al-Qur’an, Menjesal School untuk kaum ibu yang belum bisa baca tulis, Freubel School, Junior School, hingga Diniyah School Putri secara berjenjang. Kemudian pada tahun 1937 ia mendirikan program Kulliyat al-Mu’allimat al-Islamiyah untuk mendidik calon guru. Selanjutnya pada tahun 1967 didirikan Fakultas Tarbiyah dan Dakwah untuk tingkat perguruan tinggi.

Tumbuh di Pusat Gerakan Islam dan Sosial-Politik Padang Panjang

            Rahmah tumbuh di Kota Kabupaten cabang tertua Surau Burhanuddin Ulakan, yaitu Padang Panjang. Kota tersebut dikenal sebagi pusat gerakan Islam dan sosial politik masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau saat Rahmah masih kecil, mengalami perkembangan sosial keagamaan yang sangat intensif. Hal tersebut disebabkan oleh intensifnya kontak antara putera daerah dengan masyarakat Timur Tengah yang membawa doktrin Islam ortodoks dan pembaharuan. Pada awal abad ke-20 kontak tersebut kemudian diperluas hingga ke Mesir sebagai pusat pembaharuan Islam dan berkembangnya ide nasionalisme. Iklim itulah yang kemudian menginspirasi putera daerah pada ideologi yang didasarkan pada slogan “Islam dan Nasionalisme.” Selain gelombang pembaharuan Islam, Rahmah juga menyaksikan putera Minangkabau yang banyak berkiprah pada pergerakan nasional.

Di lingkungan keluarga, Rahmah dibesarkan sebagai puteri seorang ulama besar yang menjabat sebagai kadi di negeri Pandai Sikat, Padang Panjang. Rahmah adalah anak bungsu dari lima bersaudara yang lahir dari pasangan Rafi’ah dan Muhammad Yunus bin Imanuddin. Dia lahir pada Jumat 20 Desember 1900. Secara genetis ia berasal dari suku Sikumbang dengan kepala suku bergelar Datuk Bagindo Ma (ha) rajo. Ayah Rahmah adalah seorang ahli falak dan pemimpin tarekat Naqsabandiyah yang memiliki banyak pengikut. Ditinjau dari latar belakangnya, Rahma berasal dari keluarga taat beragama yang turut dalam pembaharuan Islam di Sumatera Barat.

Zaenuddin Labay adalah kakak sulung Rahmah el-Yunusiah yang juga seorang guru baginya. Zaenuddin adalah seorang ulama besar yang dikenal sebagai tokoh pembaharu sistem pendidikan Islam model surau (1915). Oleh sebab itu, meski tidak memperoleh pendidikan formal yang memadai, kemampuan Rahma dalam baca tulis Arab dan Latin diperoleh melalui bimbingan kakaknya. Kecerdasan Rahmah mendorong dirinya mampu berpikir kritis. Ketika ia merasa tidak puas dengan sistem koedukasi pada surau kakaknya—yang kurang memberikan penjelasan secara terbuka kepada siswi putri mengenai persoalan khusus perempuan—ia memperdalam pada ayah Buya Hamka yaitu Haji Rasul.

Lingkungan keluarga dan sosial banyak membentuk kepribadian Rahmah. Perpindahan Haji Rasul ke kampungnya di Sungai Batang, Maninjau, menjadi salah satu pendorong Rahmah terus memperjuangkan akses pendidikannya. Di Maninjau, Rahmah melanjutkan pelajara agamanya kepada Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, Syekh Abdul Latif Rasyidi, Syekh Mohammad Jamil Jambek, dan Syekh Daud Rasyidi. Semangat belajarnya tidak surut hingga dia berhasil mewujudkan cita-citanya memberikan pendidikan untuk kaum perempuan melalui Diniyah School Putri.

Menjadi Pembaharu Pendidikan Islam

Keterlibatan perempuan pada sektor domestik saja pada masa itu membuat Rahmah melakukan perlawan melalui pembaharuan pendidikan Islam. Rahmah melihat bahwa ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki disebabkan oleh tidak adanya kesempatan belajar yang sama. Hal tersebut ia rasakan ketika belajar di Diniyah School menggunakan sistem koedukasi yang tidak memberikan penjelasan agama secara mendalam tentang persoalan yang berkaitan dengan keperempuanan. Guru laki-laki tidak tuntas dalam mengupas peran perempuan dalam pelajaran agama, padahal menurutnya perempuan mempunyai persoalan yang kompleks dan rumit.

Pada kurun yang kurang-lebih sama, di  India muncul kalangan elite yang memperjuangkan perbaikan sosial. Sejarawan Partha Chatterjee mencatat bahwa peran rakyat dalam nasionalisme sangat signifikan tapi cenderung diabaikan. Kaum elite tersebut membagi dunia menjadi; “ruang luar” yang berakaitan dengan dimensi material, publik, negara, dan ekonomi, serta “ruang dalam” meliputi spiritual, pribadi, keluarga, pendidikan, dan kebudayaan. Ruang luar dikendalikan oleh pemerintah kolonial dengan teknologi dan pengetahuan mereka sedangkan ruang dalam dikuasai oleh pribumi dengan kebijakan dan perasaan mereka. Kedaulatan “ruang dalam” inilah oleh Chatterjee disebut sebagai basis nasionalisme India sebelum melakukan perlawanan terhadap penguasa kolonial.

Kesejahteraan rakyat terutama di bidang pendidikan yang diperjuangkan oleh tokoh perempuan seperti Kartini, Rahmah, Dewi Sartika, Maria Walanda, dan simpul-simpul gerakan tersebut kiranya termasuk “ruang dalam” yang dibicarakan oleh Chatterjee. Pekerjaan merawat “ruang dalam” itu terutama ada di tangan perempuan sebab perempuan sebagai pembawa peradaban. Dari pangkuan perempuanlah orang pertama kali belajar, merasa, berpikir, dan berbicara. Kemudian bagaimana kaum ibu pribumi bisa mendidik anak-anak mereka jika mereka sendiri tidak terdidik? Atas dasar tersebut, pada 1 November 1923 Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Li al-Banat sebagai pendidikan khusus kaum perempuan yang diajarkan oleh perempuan itu sendiri. Murid angkatan pertama Madrasah Diniyah Li al-Banat terdiri atas kaum ibu muda yang berjumlah 71 orang. Pada saat itu proses belajar berlangsung menggunakan sistem khalaqah hingga berkembang menjadi sistem pendidikan modern yang mengintregasikan pengajaran ilmu-ilmu agama dan ilmu umum.

Dalam perjalanannya mengembangkan pendidikan kaum perempuan, Rahmah menghadapi kondisi politik pada waktu itu. Pada 1932, pemerintah kolonial memberlakukan ‘Ordonansi Sekolah Liar’ di Sumatera Barat sebagaimana juga menjadi permasalahan Ki Hadjar Dewantara pada saat itu. Di Padang Panjang, Rahmah menjadi ketua panitia penolak Ordonansi Sekolah Liar serta panitia penolak Ordonansi Kawin Tercatat di Bukittinggi. Dengan demikian, pemerintah terus memantau perkembangan sekolah yang didirikan Rahmah meskipun ia tidak tergabung dalam dunia politik.

Rahmah memilih sikap independen dan nonkooperatif dalam menjalankan sistem pendidikannya. Ia menolak bekerjasama dengan Belanda terutama dalam hal pemberian subsidi. Menurutnya, pemberian subdsidi akan membuat dirinya terikat dan memengaruhi pengelolaan program pendidikannya. Rahmah juga menentang Rasuna Said, sahabat perjuangannya, perihal gerakan politik. Rahmah tidak ingin menempatkan Madrasah Diniyah Li al-Banat di bawah naungan partai politik pada saat itu yang justru membahayakan kelangsungan sekolah.

Dengan memegang prinsip independen, pengembangan sekolah didasarkan atas kekuatan sendiri. Pada 1926 Rahmah mengembangkan Manjesal School untuk memberantas buta aksara yang diikuti oleh 125 perempuan dewasa. Selanjutnya, pada 1934 ia mendirikan Taman Kanak-Kanan (Freubel School). Rahmah juga merintis program pendidikan tingkat Perguruan Tinggi sejak Tahun 1964. Karya besar Rahmah di bidang pendidikan ini beriringan dengan perkembangan pendidikan di Minangkabau.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *