Puasa Hari Terakhir

Di hari terakhir bulan puasa, aku sahur di warteg dekat rumahku dengan nasi lauk ayam dan aku susul dengan rokok dan kopinya. Sebenarnya mataku masih ingin menikmati tidur, tapi tetap saja aku harus sahur terlebih dahulu agar sama dengan kebanyakan orang. Setelah sahur selesai, aku kembali ke tempat tidurku sambil merasakan begitu menyenangkannya hari terakhir puasa. Artinya aku bisa mengerjakan pekerjaanku seperti biasanya yaitu menyeruput kopi dan menghisap rokok di pagi hari sambil menyambut datangnya sinar matahari.

Pada siang harinya, ketika aku duduk di teras rumah, ada yang membisiki di telinga kiriku. Sudah ditunggu di warteg sebelah, katanya. Aku masih berhasil pura-pura tidak dengar. Tapi dibisikan kedua yang katanya kalau aku pengkhianat, pembohong, dan pembelot, akhirnya aku marah dengan berkata-kata kotor. Setelah semuanya hilang, aku pindah ke kursi ruang tamu dan membantingkan tubuhku di sofa. Tiba-tiba, kamu sudah tidak puasa tapi perut kamu masih lapar, manusia bodoh macam apa kamu? Katanya di telinga kiriku dengan suara lebih keras dari bisikan pertama dan kedua.

Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke warteg dan mengambil menu makanan yang biasa aku ambil. Aku makan dengan penuh rasa marah, kesal, benci, tapi menikmatinya. Seusai aku makan, datanglah anak muda duduk di depanku dengan mata berbinar dan bibir yang kering.

“Ada yang bisa aku bantu, bung?” Kataku tanpa basa-basi.

“Aku lapar, aku pingin makan, tapi aku puasa.”

“Ya udah, apa mau kamu?”

“Aku mau makan, tapi aku puasa.”

“Ya udah kalau begitu kamu nggak usah makan nanti dosa soalnya kamu sedang puasa. Kalau orang yang sedang puasa kemudian makan itu dosa, apalagi sekarang kan udah puasa terakhir.” Aku menasehatinya sambil menghirup rokok yang dari tadi di sela-sela jariku.

“Tapi temen-temenku banyak yang pingin nggak puasa.”

“Suruh ke sini semua temen-temenmu.”

Pemuda itu meninggalkanku dan memanggil teman-temannya untuk diajak ke tempat aku duduk. Ia membawa tiga orang temannya yang usianya juga tidak jauh beda darinya. Tubuhnya sama-sama kurus, rambut tidak tertata, dan wajahnya kusut seperti bajunya.

“Ini teman-temanmu yang kamu maksud tadi?”

Ia mengangguk.

“Jadi gini ya temen-temen,” Kataku, sebelum melanjutkan, aku menyeruput es yang aku pesan tadi, “Yang Namanya puasa itu menahan dari makan dan minum, kalau kamu lapar ya wajar. Tapi kalau kamu diam-diam makan dan nggak puasa itu dosa, soalnya yang namanya puasa itu wajib. Paham?”

Beberapa menit aku menasehati pemuda-pemuda itu, bahkan aku sudah seperti ustad. Dengan bangganya aku berhasil menghasut pemuda-pemuda ke jalan yang benar yaitu tetap bertahan puasa, apalagi kan ini puasa terakhir sebelum besok sudah lebaran. Pemuda-pemuda itu pergi dan meninggalkanku yang masih menikmati es dan rokok sambil merasakan sisa-sisa kemarahanku tadi.

Setelah kurasa cukup—sudah makan, minum, merokok—aku kembali meneruskan puasaku di rumah. Mulai bermalas-malasan dan pura-pura mengantuk di atas sofa ruang tamu. Hari puasa terakhirku lebih menyenangkan dari puasa sebelumnya, karena tinggal menghitung jam sudah sampai di titik kemenangan yakni hari raya lebaran. Selain itu, aku juga sudah merasa senang walaupun puasa terakhirku hanya setengah hari. Tapi aku tetap merasa bahagia karena sebelumnya puasaku cuma satu sampai dua jam. Itu artinya puasaku saat ini lebih lama dari kemarin.

Bukankah setiap hari kebaikan harus bertambah? Seperti kata pepatah, hari sekarang harus lebih baik dari hari kemarin dan hari besok harus lebih baik dari hari sekarang. Dan itu yang sekarang aku upayakan untuk diriku sendiri. Lebih menyenangkannya lagi, aku mampu mencegah orang untuk tidak membatalkan puasanya di hari terakhir bulan puasa. Bukankah memalukan, hari terakhir bulan puasa justru malah tidak puasa.

Sebelum azan maghrib berkumandang, aku mempersiapkan berbuka di meja makanku. Es buah, nasi, sayur, ayam, dan segala macam camilan. Aku beli semua itu tadi sore sekalian ngabuburit. Aku duduk di kursi meja makan sambil memandang makanan yang sudah aku siapkan sendiri. Sangat tidak sabar untuk mencicipinya, sesekali aku menatap jam dinding. Perutku sudah melompat-lompat ingin menerima makanan itu meski tadi siang sudah aku isi dengan menu yang sama.

Mendengar suara azan dari kejauhan, aku segera meraih es buah dan berdoa.

Allohumma laka sumtu…………

Ya Allah, karenaMu aku berpuasa………

Meski di dalam hatiku mengatakan “Meskipun setengah hari.”

Aku mempercepat makanku karena sudah tidak sabar untuk ikut orang-orang ke masjid untuk menyambut malam lebaran. Ramai sekali, perpaduan antara takbiran di beberapa sound dan suara petasan di beberapa jalan dan lapangan. Aku menikmatinya seperti nikmatnya makan siang hari di akhir bulan puasa.

Ketika aku melihat petasan yang sudah mulai dinyalakan, aku bertemu lagi dengan pemuda yang tadi aku beri nasehat.

“Kita ketemu lagi..” Katanya sambil menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.

“Iya.” Jawabku singkat.

“Kamu punya petasan?” Tanyanya.

“Nggak, cuma suka melihat tapi tidak untuk memiliki.”

“Lebaran kali ini ramai ya?” Tanya pemuda itu sambil melihat petasan yang baru saja diluncurkan ke atas dan meledak.

“Iya, tapi masih sama saja yang meramaikan orang-orang yang tidak meramaikan puasa.”

“Yaa biar gantian, orang yang meramaikan bulan puasa biar sekarang mereka beristirahat dan gantian orang yang nggak meramaikan bulan puasa tapi merayakan lebaran.”

“Benar juga kamu.” Aku menyetujui.

“Oh iya, ngomong-ngomong tadi siang kenapa kamu nggak puasa?”

Aku tercengang mendengar pertanyaan pemuda itu. Diam. Mataku menatap sisa-sisa petasan yang sepertinya tinggal sedikit lagi habis. Pemuda itu masih menunggu jawabanku seperti menunggu bis di halte.

“Karena aku pernah baca di buku kalau salah satu syarat puasa itu berakal.” Jawabku singkat, dan pemuda itu gentian tercengang.

 

Magelang, 2021

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *