Peran Tasawuf di Era Millennial

Oleh: Eni Mufidah

Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam

Tasawuf  merupakan  hasil peradaban Islam yang sudah lama ada, namun saat ini mengalami revitalisasi di era modern. Kehadirannya  menjadi bermakna bagi kehidupan yang saat ini penuh dengan kecanggihan dan kemudahan terutama bagi generasi millennial yang mengalami krisis spiritual. Padahal  para generasi muda inilah yang menjadi harapan banyak orang untuk melanjutkan segala yang telah diperjuangkan generasi lama, serta membangun kesejahteraan bagi setiap orang. Dengan bertasawuf seseorang akan selalu memperbaiki kualitas spiritualnya dan akan selalu memperhatikan akhlak atau perilakunya. Siapapun bisa untuk bertasawuf  karena di sinilah jati diri akan terbentuk, ketenangan jiwa juga  akan selalu dirasakan karena kehidupannya  penuh dengan cahaya atau petunjuk-Nya yang menjadikan seseorang bisa lebih percaya diri dalam menjalani kehidupannya terutama bagi generasi muda, bahkan tasawuf juga dapat menjadi solusi  bagi problematika masyarakat modern.

Pendahuluan

Era globalisasi saat ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan modern, dimana segala kebutuhan materialis dapat dengan mudah dipenuhi. Tapi disisi lain juga memberikan berbagai macam problematika dan dampak negative. Oleh karena itu, manusia perlu disirami dan disinari oleh nilai-nilai ajaran Islam yang penjabaran serta penerapannya terdapat dalam ajaran Tasawuf.

Tasawuf merupakan salah satu khazanah intelektual muslim yang kehadirannya saat ini semakin dirasakan, karena problematika akhlak pada masa modern ini sangat memprihatinkan terutama akhlak generasi muda. Praktek hidup yang menyimpang dan penyalahgunaan kesempatan dengan mengambil bentuk perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan orang lain, kian tumbuh subur. Korupsi, kolusi, pencurian, pembunuhan, pemerkosaan dan perampasan hak-hak asasi manusia, semakin banyak terjadi.

Oleh karena itu, dalam hidupnya pemuda harus dibentengi dengan ilmu dan takwa jika tidak dia hanya akan hidup menjadi sampah masyarakat. Maka dari itu jika seseorang sudah berakhlak dan bertasawuf yang baik tentunya ia akan mudah untuk memperoleh ilmu dan ketakwaan serta dapat memperbagus kualitas diri seseorang terutama generasi muda.

 

Pengertian Tasawuf

Ada sejumlah pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli baik dari kalangan para sufi  maupun yang bukan, terhadap kata tasawuf.  Zakaria al-Anshari (852-925 H) mendefinisikan tasawuf sebagai cara untuk mengajarkan bagaimana mensucikan diri, meningkatkan akhlak serta membangun kehidupan jasmani dan rohani untuk mencapai kehidupan yang hakiki. Sedangkan menurut Junaidi Al-Baghdadi (wafat 289 H) tasawuf adalah proses membersihkan hati dari sifat-sifat kemanusiaan, menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi sifat-sifat kerohanian, berpegang teguh pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama berdasarkan keabadiannya, memberikan nasihat kepada sesama, benar-benar menepati janji kepada Allah SWT dan mengikuti syariat ajaran Rasulullah SAW.[1]

Jadi unsur pokok dalam tasawuf adalah mensucikan diri dan tujuan akhirnya adalah kebahagiaan dan keselamatan abadi. Tetapi pada dasarnya tasawuf merupakan implementasi dari ihsan yang berarti beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, apabila tidak mampu yang demikian, maka harus disadari bahwa Allah melihat diri kita, yang demikian itu adalah realitas penghayatan seseorang terhadap agamanya. Sebagaimana dalam hadits Shahih Muslim No. 09

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “Beribadahlah kalian kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, jika kalian tidak bisa melihat-Nya, maka Ketahuilah bahwa Dia melihat kita”.

Tujuan tasawuf adalah berusaha untuk melepaskan diri dari hawa nafsu dan keinginan yang dianggap menyimpang dari ajaran-ajaran agama dan berusaha untuk menyadari kehadiran-Nya dengan harapan agar mendapatkan kebahagiaan yang abadi kelak di akhirat.[2]

 

Peran tasawuf di era modern

Era  modern  ditandai  dengan  berbagai  macam  perubahan dalam masyarakat. Perubahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek), mental manusia, tekhnik dan penggunaannya dalam masyarakat, komunikasi dan transportasi, urbanisasi,  perubahan-perubahan  pertambahan  harapan  dan tuntutan manusia (the rising demands).

Adanya arus modernisasi dan globalisasi menciptakan sebuah sistem yang dapat membebaskan manusia dari belenggu serta keterikatan terhadap ajaran agama, nilai-nilai spiritualitas, adat-istiadat dan sebagainya. karena paradigma ini manusia secara individual merasa berhak atas segalanya dan bebas menentukan nasibnya sendiri secara rasional tanpa ikatan agama maupun norma masyarakat.  Namun karena kehidupan yang semakin kompetitif dan daya saing yang semakin keras akhirnya berdampak pada manusia, sehingga banyak yang mengalami stress dan frustasi yang luar biasa.

Dalam kondisi seperti itu, maka agama merupakan satu tawaran dalam kegersangan dan kehampaan spiritualitas manusia modern.  Kondisi kekinian telah membawa orang jauh dari Tuhannya. Oleh karena itu, jalan untuk membawanya  kembali  adalah  dengan  mengembalikan nilai-nilai spiritual keagamaan, dan caranya adalah dengan bertasawuf.

Manusia akan merasa kehilangan dan kekosongan rohani bila dalam hidupnya hanya mengandalkan ilmu materi saja tanpa mengimbanginya dengan ilmu agama. Hakikat jalan hidup manusia yang dijalani harus berlandaskan pada fitrahnya yaitu jalan menuju kehidupan serta kebahagiaan yang hakiki dengan landasan iman yang kokoh dan kuat, jiwa yang tenang, tentram, serta hidup yang aman menuju kebahagian dunia sampai akhirat.

Tasawuf dalam kehidupan sosial mempunyai pengaruh yang sangat berarti dalam menuntaskan permasalahan dan penyakit sosial yang ada, amalan yang terdapat dalam ajaran tasawuf akan membimbing seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia menjadi manusia yang arif, bijaksana dan profesional dalam kehidupan bermasyarakat. Tasawuf sendiri selain memahami realitas lahiriyah juga mampu memahami realitas batiniyah sehingga seseorang mampu berinteraksi secara harmonis berdasarkan nilai-nilai ajaran agama Islam.[3]

Menurut padangan kaum sufi bahwa rehabilitasi kondisi mental yang tidak baik adalah jika terapinya hanya didasarkan pada aspek lahiriyah saja, untuk itu pada tahap awal dalam tasawuf diharuskan melakukan amalan-amalan rohani dengan tujuan untuk membersihkan jiwa dari nafsu yang tidak baik, serta membersikah diri dari sifat-sifat yang tercela agar dapat mengisi dengan sifat- sifat yang terpuji. Tingkah laku manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsunya hanya berorientasi untuk kesenangan duniawi saja dan hal itu merupakan pembatas yang menghalangi antara manusia dengan Allah. [4]

Perbuatan baik yang sangat penting di isikan kedalam jiwa manusia, seperti : Taubat, khauf (takut) dan raja’ (rasa lapang hati dalam menantikan hal yang diharapkan pada masa yang akan datang yang mungkin terjadi), zuhud, sabra, ridha, serta muraqqabah (mawas diri atau introspeksi diri). Semua hal ini dapat memberikan ketenangan dan ketentraman hidup manusia agar terhindar dari sifat materialistik, individualistik, gejaja stress maupun frustasi.[5]

Dengan adanya bantuan tasawuf, maka ilmu pengetahuan satu dan lainnya tidak akan bertabrakan, karena ia berada dalam satu jalan dan satu tujuan. Tasawuf melatih manusia agar memiliki ketajaman bathin dan kehalusan budi pekerti, sikap bathin dan kehalusan budi yang tajam ini menyebabkan ia akan selalu mengutamakan pertimbangan kemanusiaan pada setiap masalah yang terjadi.

 

Kesimpulan

Tasawuf atau sufisme telah diakui dalam sejarah karena berpengaruh besar atas kehidupan moral dan spiritual Islam sejak zaman dahulu. Oleh karena itu, tasawuf dapat menjadi solusi alternatif terhadap kebutuhan spiritual dan pembinaan manusia modern, karena tasawuf merupakan tradisi yang hidup yang kaya dengan doktrin-doktrin metafisis, kosmologis dan psiko terapi relegius yang dapat menghantarkan kita menuju kesempurnaan dan ketenangan hidup yang hampir hilang atau bahkan tidak pernah dipelajari oleh manusia millenial.

 

Daftar Pustaka

Asmaran (1998)  Pengantar Studi Tasawuf, Bandung: Mizan.

Alishah, Omar (2002)  Tasawuf sebagai Terapi, Bandung: Pustaka Hidayah.

Dewan Redaksi, (1994) Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Islam Baru van Houeve.

Jamil, Muhammad (2004) Cakrawala Tasawuf: Sejarah Pemikiran dan Kontekstualitas, Ciputat: GP Press.

[1] Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam (Jakarta: PT. Ichtiar Islam Baru van Houeve, 1994), hlm: 74.

[2] Muhammad Jamil, Cakrawala Tasawuf: Sejarah Pemikiran dan Kontekstualitas (Ciputat: GP Press, 2004), hlm: 55.

[3] Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf, (Bandung: Mizan, 1998), hlm: 67.

[4] Omar Alishah, Tasawuf sebagai Terapi, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hlm: 151.

[5] Ibid, hlm: 160.

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.