Peran Santri Masa Kini di Era Globalisasi Teknologi

Peran Santri Masa Kini di Era Globalisasi Teknologi - dawuh guru

Oleh: Abdul Majid Ramdhani

Pada era masyarakat maya, ada masa yang bersifat sementara dan terbagi menjadi dua tingkatan, antara lain; masyarakat struktural dan masyarakat kultural. Perkembangan teknologi gawai semakin pesat dan serba cepat di era globalisasi.

Sehingga proses sebuah interaksi sosial tak lagi mengandalkan cara bersosialisasi dengan bertatap muka. Karena telah beralih ke aplikasi obrolan online yang beragam manfaatnya.

Perkembangan informasi dan komunikasi dalam skala massal di era digital telah merubah tatanan sosial masyarakat dari masyarakat lokal menuju masyarakat global. Kondisi ini disebut Cyber Society. Pada era kita sekarang masyarakat terkena dampak dari kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi. Sehingga situasi tersebut sulit diatasi, sebagaimana penyebaran pemberitaan di televisi dan informasi tertentu di ranah sosial media. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya ‘filterisasi informasi’  berupa opini, esai atau berbasis fakta juga hoaks.

Santri di zaman now, mesti multitasking dalam menentukan sebuah gagasan atau ide konten yang bernuansa syiar edukasi yang berbasis nilai Islami.

Hal ini sangat mempengaruhi sajian konten di laman sosial media. Santri harus membudayakan, “Thinking Before Posting”,  menjadi semacam anti-virus sebelum memposting atau menayangkan informasi di sosial media. Hal inilah yang semestinya menjadi konsentrasi bagi kalangan santri di era kekinian. Santri zaman now tidak boleh mengatakan, “Zaman Now, I don’t Know”. Karena santri haruslah berani mengambil peran penting di saat sosial media sudah genting seperti sekarang ini.

Karena sesiapa saja di sosial media dapat menebarkan potensi kebencian dan menyebabkan perpecahan ukhuwah islamiyyah.

Ada pun mekanisme teori komunikasi yang perlu diterapkan pada penggunaan sosial media. Ketika individu ingin memposting sebuah tulisan, atau sekedar memberikan informasi aktivitasnya sehari-hari. Teori yang bisa diterapkan adalah Teori Khalayak, yang disusun berdasarkan tradisi psikologi sosial. Salah satu komunikasi massa yang memiliki perhatian khusus pada khalayak disebut teori “Uses and Gratifications” yang berarti Penggunaan Media dan Pemenuhan Kebutuhan sesuai kapasitas kebutuhan khalayak.

Kerangka pemikiran dalam pendekatan uses and gratifications menurut Katz dan Blumer (1974) antara lain; selalu ada kondisi sosial psikologis dalam diri seseorang. Kondisi inilah yang menimbulkan kebutuhan seseorang terhadap informasi tertentu. Dalam pola penggunaan media selalu membutuhkan pemenuhan dan memiliki konsekuensi lain. Karena jika seseorang mengharapkan informasi tertentu, selalu didasari kebutuhan terhadap informasi tertentu.

Tak dapat dipungkiri teknologi merupakan kekuatan yang turut berperan di dalam globalisasi sosial media dan media massa. Teknologi memberikan dorongan kuat terhadap pesatnya peradaban keilmuan di era kekinian. Beberapa fenomena di ranah sosial media acap-kali menjadi sesuatu yang heboh atau viral. Meskipun belum tentu produk-produk dari buah kreativitas yang viral itu memiliki nilai pengaruh sosial yang berfaedah bagi masyarakat maya. Bukan hanya sebatas untuk mengejar eksistensi diri semata, apalagi sensasi.

“Anak muda haruslah berani melawan arah dalam mencipta sebuah karya, tak mudah cengeng, apalagi galau hanya karena persoalan atau masalah remeh-temeh”

Ranah sosial media merupakan wadah untuk menyebarluaskan kebaikan melalui konten-konten yang berfaedah. Jadi tidak hanya sebatas viral, atau dengan kata lain ada pengaruh kesalehan sosial dan spiritual. Sehingga meminimalisir terjadinya kesenjangan sosial di ranah digital. Karena memang interaksi sosial di masa kini memang melalui ranah visual. Beberapa kegiatan aktivitas sosial pun tetap dapat terselenggara dengan baik, sekali pun tak bertatap muka.

Kemajuan digitalisasi merubah mekanisme dalam proses berkreativitas dan berkarya. Pola penggunaan media massa memang membutuhkan mekanisme yang jelas, sebagaimana rumitnya memproduksi sebuah berita dalam sebuah organisasi media. Karena media massa merupakan simbol dari suatu sistem pemberitaan, yang ada di masyarakat. Sehingga mesti ada regulasi dalam proses produksi dan distribusi sebuah konten berita, agar tatanan masyarakat digital di era kekinian tidak lagi dipengaruhi oleh berbagai gejala sosial dalam proses berinteraksi yang bisa saja kandungan informasi tersebut adalah hoax.

Maka disinilah santri turut mengambil peran dan bersedia berkontribusi dalam mendorong globalisasi dan kemajuan teknologi, dengan berlomba-lomba menghasilkan produk-produk konten Islami yang bernuansa tradisi khas kalangan pesantren. “Karena sosial media-mu itulah wadah-mu untuk berdakwah.”

Tangerang Selatan, 11 November 2021

Abdul Majid Ramdhani, panggil saja Ramdhani. Lahir di Jakarta, 05 Mei 1989. Penulis memiliki nama pena, Ramdhani Sastra Negara. Penulis suka sekali segala aliran musik bergenre rock dan gemar minum kopi. Kebetulan, penulis adalah lulusan Program Studi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) Tahun 2016 di Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta (STAIINDO JAKARTA). Bagi diri penulis, “Menulis bisa menjadikanmu lebih romantis dan humanis.”

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *