Penyebab Kemunduran  dan Cara Memajukan Umat Islam dalam Perspektif Muhammad Abduh

Oleh: Eni Mufidah

(Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam)

Muhammad Abdu termasuk salah satu pembaharu agama dan sosial di Mesir pada abad ke-20 yang mana pengaruhnya sangat besar bagi perkembangan islam. Beliau juga memiliki pemikiran dalam banyak bidang lainnya seperti filsafat dan teologi yang rasional. Ia termasuk pemikir islam yang sukses dalam dalam membuka pintu ijtihad untuk menyesuaikan islam dengan tuntutan zaman modern.

Dalam dunia islam beliau terkenal dengan pembaharuannya di bidang keagamaan, Dialah yang menyerukan agar umat islam kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beliau juga terkenal dengan pembaharuannya di bidang pergerakan (politik), bersama dengan Jalaluddin al-Afghani ia menerbitkan majalah al’urwatul wutsqa di Paris yang mana makalah-makalah tersebut menghembuskan semangat nasionalisme pada rakyat mesir dan dunia islam.

Selain dikenal sebagai pembaharu di bidang agama dan pergerakan (politik) , beliau juga dikenal sebagai pembaharu di bidang pendidikan islam. Beliau pernah menjabat sebagai rektor universitas Al-Azar di Cairo Mesir. Corak pemikiran pendidikan Muhammad Abdu berdasarkan pada pemikiran teologi rasional, filsafat, dan sejarah. Dengan dasar dan corak pemikirannya tersebut, beliau dapat mengemukakan gagasan dan pemikiran dengan cara yang segar dan sesuai dengan perkebangan zaman pada waktu itu.

  1. Riwayat Hidup Muhhamad Abduh

Syekh Muhammad Abduh nama lengkapnya adalah Muhammad Abduh Hasan Khairullah. Dilahirkan  di desa Mahallat Nasr, Syibrakhit, Provinsi Buhairah Mesir. Ayahnya bernama Abduh Hasan Khairullah, berasal dari Turki yang telah lama tinggal di Mesir. Ibunya menurut riwayat berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya sampai ke suku bangsa Umar ibn al-Khattab. Muhammad Abduh lahir dan menjadi dewasa dalam lingkungan desa di bawah asuhan orang tua yang tak ada hubungannya dengan didikan sekolah, tetapi mempunyai jiwa agama yang teguh. Beliau dikirim oleh ayahnya ke Tanta untuk belajar agama di masjid Syekh Ahmad pada tahun 1862.[1]

Setelah menikah, ia dididik oleh Syekh Darwisy Khadr yang telah mengubah jalan hidup Abduh yang tadinya enggan menuntut ilmu menjadi orang yang suka akan buku-buku dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1866, ia meneruskan studinya ke al-Azhar. Di tempat inilah ia bertemu dengan jamaluddin al-Afghani. Kepadanyalah Muhammad Abduh berguru. Ia mulai belajar filsafat kepada Jamaluddin Al-Afghani, demikian juga politik.

Lulus dari al-Azhar, ia kemudian menjadi pengajar di lembaga itu. Ilmu-ilmu yang diajarkannya adalah logika, teologi dan filsafat. Selain di al-Azhar, ia juga mengajar di Darul Ulum, ia memegang mata pelajaran sejarah dan buku yang dipakainya adalah Mukaddimah Ibn Khaldun. Di rumahnya, ia mengajarkan etika dengan memakai buku Tahzibul Akhlaq karya filosof Ibn Maskawih.

Dari ilmu-ilmu yang diajarkannya, terlihat bahwa pengetahuannya tidak terbatas hanya pada ilmu keagamaan, tetapi teologi, filsafat, logika, dan sejarah Eropa, yang diperolehnya melalui bacaan-bacaan di luar universitas itu, terutama di bawah bimbingan Jamalludin al-Afghani. Di masa itu ia telah menulis karangan-karangan untuk harian al-Ahram yang pada waktu itu baru saja didirikan. Tulisannya mencakup bidang-bidang ilmu pengetahuan, sastra Arab, politik, agama, dan sebagainya.

Baca Juga:   Kasyafnya Seorang Kyai Perihal Akan Merdekanya Bumi Pertiwi

Atas pengaruh Jamaluddin al-Afghani, Abduh juga terlibat dalam kegiatan politik. Pada waktu pemerintah Inggris dan Prancis mulai turut campur dalam pemerintahan Mesir, Afghani melakukan perlawanan. Ia bangkitkan semangat cinta tanah air rakyat Mesir. Kemudian ia bentuk Partai Nasional Mesir.

Karena tidak disukai penguasa Mesir, Afghani diusir dari Mesir pada tahun 1879. Abduh dijatuhi tahanan kota di luar Kairo, tetapi berkat usaha Perdana Menteri Riad Pasya, setahun kemudian ia kembali ke kairo dan tidak lama kemudian diangkat menjadi pemimpin redaksi al-Waqa’i al-Mishriyah, semacam koran negara.

Kehausan Abduh akan ilmu pengetahuan mendorongnya untuk selalu memperluas cakrawala pengetahuannya. Pada usia 44 tahun, ia mempelajari bahasa Prancis untuk mempelajari pengetahuan yang berkembang di Barat. Bahasa itu dapat ia kuasai dengaan baik. Ia melihat bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan Barat, seseorang perlu mengetahui bahasa yang berpengaruh di Eropa. Bahkan ia mengatakan bahwa orang yang tidak mengetahui salah satu bahasa Eropa di zaman modern ini tidaklah bisa disebut ulama.

Setelah mempelajari bahasa Prancis, ia banyak membaca buku-buku Prancis dalam filsafat, sosiologi, pendidikan, ilmu jiwa, etika, matematika, ilmu alam, sejarah, dan pemikiran-pemikiran para orientalis tentang islam.[2] Pada tahun 1884, ia bersama Afghani mendirikan majalah al-Urwatul Wutsqa walaupun umurnya tidak lama. Di tahun 1899 ia diangkat menjadi mufti Mesir sampai wafatnya tahun 1905.

 

  1. Pemikiran Muhammad Abduh Mengenai Kemunduran dan Cara Untuk Memajukan Umat Islam

Muhammad ‘Abduh berpandangan bahwa penyakit yang melanda negara-negara Islam adalah adanya kerancuan pemikiran agama di kalangan umat Islam sebagai konsekuensi datangnya peradaban Barat dan adanya tuntutan dunia Islam modern. Selama beberapa abad di masa silam, kaum Muslimin telah menghadapi kemunduran dan sebagai hasilnya mereka tidak mendapatkan dirinya sebagai siap sedia untuk menghadapi situasi yang kritis ini. [3]

Beliau berpendapat bahwa sebab yang membawa kemunduran umat Islam adalah bukan karena ajaran Islam itu sendiri, melainkan adanya sikap jumud di tubuh umat Islam. Jumud yaitu keadaan membeku/statis, sehingga umat tidak mau menerima peubahan, yang dengannya membawa bibit kepada kemunduran umat saat ini. ia menerangkan bahwa sikap jumud dibawa ke tubuh Islam oleh orang-orang yang bukan Arab, yang merampas puncak kekuasaan politik di dunia Islam. Mereka juga membawa faham animisme, tidak mementingkan pemakaian akal, jahil dan tidak kenal ilmu pengetahuan. Rakyat harus dibutakan dalam hal ilmu pengetahuan agar tetap bodoh dan tunduk pada pemerintah.[4]

Baca Juga:   Huruf Arab Pegon yang Kembali Mengudara di atas Budaya Millenial

Keadaan ini seperti ini, menurutnya, adalah bid’ah. Masuknya bid’ah ke dalam tubuh Islam-lah yang membawa umat lepas dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Untuk menyelesaikan masalah ini, ‘Abduh, sebagaimana Abdul Wahhab, berusaha mengembalikan umat seperti pada masa salaf, yaitu di zaman sahabat dan ulama-ulama besar. Namun, yang membedakan faham ‘Abduh dengan Abdul Wahhab adalah umat tidak cukup hanya kembali kepada ajaran-ajaran asli itu saja, tetapi ajaran-ajaran itu juga mesti disesuaikan dengan keadaan modern sekarang ini.

 

  1. Gagasan Teologi Muhammad Abduh

Ada dua persoalan pokok yang menjadi fokus pemikiran Abduh, yakni :

1)      Membebaskan akal pikiran dari belenggu-belenggu taqlid yang menghambat perkembangan pengetahuan agama sebagaimana hak salaf al-ummah (ulama sebelum abad ke-3 Hijrah), sebelum timbulnya perpecahan , yaitu memahami langsung dari sumber pokoknya Al-Qur’an.

2)       Memperbaiki gaya bahasa Arab, baik digunakan dalan percakapan resmi di kantor-kantor pemerintah maupun dalam tulisan-tulisan media massa.

Dua persoalan pokok yang menjadi fokus pemikiran Abduh muncul ketika ia meratapi perkembangan umat islam pada masanya. Yang mana pada saat itu kondisi umat islam digambarkan sebagai suatu masyarakat yang beku, kaku, menutup rapat-rapat pintu ijtihad, mengabaikan peranan akal dalam memahami syariat Allah atau men-istinbat-kan para hukum-hukum karena mereka telah merasa cukup dengan hasil karya  para pendahulunya.

Muhammad Abduh memberi kekuatan yang lebih tinggi pada akal dari pada Mu’tazilah. Menurut Abduh , akal dapat hal-hal berikut ini antara lain :

  • Tuhan dan sifat-sifatnya.
  • Keberadaan hidup di akhirat.
  • Kebahagiaan jiwa di akhirat bergantung pada mengenal Tuhan dan berbuat baik, sedangkan kesengsaraannya bergantung pada tidak mengenal Tuhan dan berbuat jahat.
  • Kewajiban manusia mengenal Tuhan.
  • Kewajiban manusia berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.
  • Hukum-hukum mengenai kewajiban itu.

Abduh berpendapat bahwa antara akal dan wahyu tidak ada pertentangan, keduanya dapat disesuaikan. Kalau antara wahyu dan akal bertentangan maka ada dua kemungkinan.

  • Wahyu sudah diubah sehingga sudah tidak sesuai dengan akal.
  • Kesalahan dalam menggunakan penalaran.

Pemikiran semacam ini sangat dibutuhkan untuk menjelaskan bahwa islam adalah agama yang umatnya bebas berfikir secara rasional sehingga mendapatkan ilmu pengetahuan dan teori-teori ilmiah untuk kepentingan hidupnya, sebagaimana yang telah dimiliki oleh bangsa barat saat itu, dimana dengan ilmu pengetahuan mereka menjadi kreatif, dinamis dalam hidupnya.

Dengan memperhatikan pandangan Muhammad Abduh tentang peranan akal, dapat diketahui pula bahwa wahyu dalam teologi Abduh mempunyai dua fungsi pokok. Fungsi pokok pertama timbul dari keyakinan bahwa jiwa manusia akan terus ada dan kekal sesudah tubuh mati. Keyakinan akan adanya hidup kedua setelah hidup pertama ini bukan hasil dari pemikiran yang sesat dari akal dan bukan pula suatu khayalan, karena umat manusia sepakat bahwa jiwa akan tetap hidup sesudah ia meninggalkan tubuh. Fungsi kedua, wahyu mempunyai kaitan yang erat dengan sifat dasar manusia sebagai makhluk social. Untuk mengatur manusia dengan baik, dikirimlah nabi ke permukaan bumi untuk mengatur hidupnya di dunia dan untuk dapat mengetahui keadaan hidupnya di akhirat nanti.  Dengan demikian wahyu menolong akal untuk mengetahui alam akhirat dan keadaan hidup manusia disana. Sekalipun semua itu sulit bagi akal untuk memahaminya, tetapi akal dapat menerima adanya hal-hal itu.

Baca Juga:   Klasemen F1 2019 Usai Bottas Menangi GP Australia

Menurut kepercayaannya, pada eksistensi Tuhan yang didasarkan akal. Wahyu yang di bawa Nabi tidak mungkin bertentangan degan akal. Apabila ternyata antara keduanya terdapat pertentangan, menurutnya terdapat penyimpangan dalam tataran interpretasi sehingga di perlukan  interpretasi lain yang mendorong pada penyesuaian. [5]

 

Penutup :

Berdasarkan uraian pada pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa :

Pertama, Muhammad Abduh dapat di kategorikan sebagai ulama yang intelek atau ulama modern yang berupaya ingin memajukan dengan mengembalikan kembali kejayaan umat islam agar siap menghadapi tantangan zaman, dengan cara menijau kembali pemahaman ajaran islam agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Kedua, disamping memiliki perhatian terhadap masalah ummat dan teologi, Muhammad Abduh juga memiliki perhatian yang besar dalam dunia pendidikan.

Ketiga, menurut Muhammad Abduh alasan kemunduran umat adalah karena paham jumud dan keyakinan yang salah mengenai qada dan qadar, dan untuk membebaskan umat islam dari kemunduran inilah Abduh menggagaskan untuk memfungsikan akal dan wahyu untuk membebaskan diri dari taklid yang berlebihan.

Keempat, pandangan Abduh mengenai teologi bahwasanya manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan dirinya dalam berbuat. Ia berhak atas dirinya sendiri, dia (manusia) akan memperoleh pahala bila memilih menjadi baik, dan akan mendapat siksa bila ia memilih perbuatan buruk. Baginya, wahyu dan akal tidaklah bertentangan, fungsi wahyu disini adalah untuk menjelaskan hal-hal yang sulit di terima oleh akal.

 

Daftar Pustaka

Didin Saefuddin (2003), Pemikiran Modern dan Post Modern, Jakarta: PT Grasindo.

Harun Nasution (1975), Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan,  Jakarta: PT. Bulan Bintang.

Murtadha Muthahhari (2005), Gerakan Islam Abad XX, Jakarta: Beunebi Cipta.

Prof. Dr. Harun Nasution (2005), Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.

 

[1] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, ( Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1975),  hlm. 49-50.

[2] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Post Modern, (Jakarta: PT Grasindo, 2003),  hlm. 19-21.

[3]  Murtadha Muthahhari, Gerakan Islam Abad XX, (Jakarta: Beunebi Cipta, 2005), hlm. 67.

[4] Ibid, hlm: 68

[5] Prof. Dr. Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, (Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, 2005)

, hlm : 24.

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.