PENGELOLAAN HARTA ANAK YATIM

Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan tentang keutamaan menyantuni anak yatim. Al-Qur’an secara tegasmengatakan anak yatm adalah sosok yang harus dikasihi, dipelihara dan diperhatikan. Dalam sebuah hadits Rosululloh bersabda “saya dan orang yang mengasuh atau memelihara anak yatim akan berada di surga begini,” kemudian beliau mengisyaratkan degan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggangkannya sedikit.” (HR. Bukhori, Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad dari Sahl bin Sa’d). Bahkan salah satu amalan yang sangat dianjurkan saat tanggal 10 muharrom adalah menyantuni anak yatim.

Alhamdulillah saat ini sudah banyak umat muslim yang mulai memperhatikan anak yatim baik secara individu maupun kelompok. Munculnya banyak panti asuhan dan yayasan penyantun anak yatim sangat membantu terjaminnya kehidupan anak yatim.Bahkan menjelang hari raya dan hari ‘Asyuro semua umat muslim berbondong-bondong menghimpun dana untuk menyantuni anak yatim.Hal ini patut dibanggakan karena semakin banyak yang peduli dengan kehidupan anak yatim. Bahkan di daerah saya, santunan yang diterima 1 anak yatim bisa menembus angka juta saat hari raya ataupun hari ‘asyuro.

Tapi yang menjadi perhatian saya adalah sudahkah anak yatim tersebut dan keluarganya memahami pengelolaan harta anak yatim tersebut?

Pengelolaan harta anak yatim harus sangat hati-hati. Dalam surat Al-Isra’ ayat 34 Alloh berfirman “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai dia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggung jawaban”

Dari beberapa yang saya amati, ada 3 kelompok sikap tentang pengelolaan harta anak yatim, Pertama; Orang yang awam dan tidak mengetahui bahwa harta anak yatim itu haram dimakan sehingga mereka dengan tanpa beban ikut menikmati harta anak yatim. Mereka beranggapan karena mereka yang bertanggung jawab atas kehidupan anak yatim tersebut, maka mereka merasa ikut punya hak untuk menikmatinya. Kedua; Orang yang sangat hati-hati terhadap harta anak yatim tapi kurang bijaksana. Karena menganggap bahwa harta anak yatim adalah hak penuh bagi si anak, maka orang tersebut memberikan kekuasaan secara penuh tentang penggunaan harta tersebut kepada si anak karena takut memakan harta anak yatim tanpa sengaja. Mereka memberikan kebebasan kepada anak dalam penggunaannya bahkan diberikan kekuasaan untuk memegangnya sendiri tanpa diberikan edukasi pemanfaatan yang benar. Hal ini tentu sangat tidak mendidik anak tersebut. Mereka lupa bahwa anak yatim itu masih belum dewasa dan masih membutuhkan bimbingan dari kita. Karena kurang bijaksananya kita, anak-anak yatim bisa menjadi sosok yang manja dan konsumtif. Mereka jadi anak yang semaunya sendiri. Yang ketiga adalah orang yang sangat hati-hati terhadap harta anak yatim dengan memikirkan masa depan si anak. Orang ketiga ini mentasharrufkan harta anak yatim dengan bijaksana sesuai dengan kebutuhan si anak, bukan sesuai dengan keinginan anak.
Saya hanya ingin menyampaikan bahwa tuntunan menyantuni anak yatim bukan hanya dalam bentuk materi saja. Tetapi yang perlu kita cermati dalam hal menyantuni anak yatim adalah menghadirkan peran dan fungsi ayah dalam kehidupannya. Tapi juga bukan berarti sang ibu harus menikah lagi lho ya. Seperti emak saya yang luar biasa, ditinggal bapak dengan 6 anak yang masih sangat kecil dan membutuhkan sosok ayah. Di situlah emak menggantikan posisi bapak. Apakah ayah hanya berperan dalam memberikan nafkah? Tentu tidak khan. Lebih dari itu, perhatian dan tanggung jawab ayah tentang pendidikan tauhid, fiqih dan akhlaq anak. Itulah yang mereka butuhkan
Semoga yang diberi amanah anak yatim diberi kekuatan oleh Alloh untuk mengemban amanah dengan sebaik-baiknya. Semoga Alloh memuliakan anak-anak yatim sebagaimana Alloh memuliakan Rosululloh yang juga seorang yatim.. Aamiiin..

 

Biodata Penulis

Nama : Siti Lailatus Syarifah

(Guru SMP dan Ibu dari 3 putra yang sholih)

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *