Pendiri Pagar Nusa, Gus Maksum

RESENSI BUKU

Judul Resensi : Pendiri Pagar Nusa, Gus Maksum

Oleh : Nala Zakina Zuhaida

 

Identitas Buku :

Judul buku         : Gus Maksum Lirboyo; Pendekar Pagar Nusa

Pengarang         : Ahmad Ali Adhim

Penerbit             : CV. Global Press

Tebal halaman : 110 halaman, 12 × 18 cm

Cover buku       :


Isi Resensi :
 

Gus Maksum atau K.H. Maksum Jauhari adalah kiai yang dikenal dengan penampilan nyentriknya karena berambut gondrong, berjenggot, dan kumis panjang, beliau juga bersarung setinggi lutut, memakai bakiyak, berpakaian seadanya dan tidak makan nasi.

Gus Maksum lahir di Kanorogo, Kediri pada 8 Agustus 1949 yang merupakan anak dari K.H. Abdullah Jauhari. Beliau juga cucu dari K.H. Abdul Karim pendiri Pesantren Lirboyo. Gus Maksum tidak hanya belajar dari ayahnya, tapi juga belajar dari para kiai di Jawa Timur pada masanya. Beliau nyantri lebih dari 20 tahun. Beliau menguasai ilmu pencak silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan.

 

Beliau memiliki banyak karomah dan kesaktian, seperti : rambut beliau tidak mempan dipotong, mulutnya bisa mengeluarkan api, mahir menaklukan jin, mampu melempar sapi seperti melempar sandal, tidak mempan dengan senjata tajam. Beliau juga mampu melompat melayang dari satu tiang ke tiang masjid lainnya.

Bagaimana Sejarah Pagar Nusa?

Sejak zaman dahulu, di lingkungan pesantren NU terdapat banyak aliran pencak silat NU sebagai ormas terbesar di dunia
bernama PAGAR NUSA yang ideologinya jelas, yakni Pancasila dan NKRI harga mati. Gus Maksum sebagai ahlinya pencak silat dimintai untuk menjadi ketua umum dalam pencak silat tersebut atas kesepakatan para kiai di Jawa Timur.

Pagar Nusa merupakan akronim dari Pagar NU dan Bangsa, yang telah dibentuk secara resmi pada tanggal 3 Januari 1986. Pagar Nusa berkomitmen untuk terus mengabdi menjaga negara sesuai kaidah yang menjadi rujukan hubbul wathan minal iman , cinta tanah air sebagian dari iman. Gus Maksum sebagai pentolan NU tidak segan-segan menantang para dukun santet secara terang-terangan. Hal itu dilakukan karena santet menurutnya termasuk kemungkaran yang harus dilawan.

Gus Maksum dikenal sebagai kiai yang memiliki kharisma khusus, menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 21 Januari 2003, beliau dimakamkan di pemakaman keluarga, sebelah barat masjid lama Pesantren Lirboyo. Beliau berpesan “Banyak orang yang ilmunya sedang-sedang saja, tetapi hebat dan manfaat barokahnya karena ditunjangi sifat tawadhu’ dan banyak khidmah thalabul ‘ilmi. Mari meneladani sikap kesatria beliau.

 

Kelebihan :

Buku ini menarik, mencakup banyak informasi yang jarang diketahui oleh banyak orang, bahasanya sederhana dan ringkas.

Kekurangan :

Dalam buku ini, terdapat bab tentang politik yang bahasanya sulit dipahami pembaca.

Kesimpulan :

Secara garis besar, buku ini layak dibaca semua kalangan, baik pelajar maupun pengajar. Harapan kita semua semoga Allah menjadikan kita orang yang pandai mengamalkan serpihan-serpihan hikmah yang terkandung dalam perjalanan tokoh yang ada dalam buku ini.

*Nala Zakina Zuhaida, ( asal Semarang. Umur 18 tahun. Pernah belajar dan nyantri di Kudus selama 3 tahun. Kegiatan saat ini sedang aktif menjadi mahasiswi baru UIN Jakarta )

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *