Pendekatan Psikologi Teori Trans-Personal: Kekuatan Pembacaan Ayat Kursi

dawuh guru

Oleh: Zahratun Naemah*

Secara etimologi, transpersonal berakar dari kata trans dan personal, trans artinya di atas (beyond, over) dan personal adalah diri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa psikologi transpersonal membahas dan mengkaji pengalaman di luar atau batas diri, seperti halnya pengalaman-pengalaman spiritual.8 Dalam kajian psikologi transpersonal disebutkan bahwa potensi tertinggi dari individu terdapat pada dunia spiritual yang bersifat nonfisik. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman, seperti kemampuan melihat masa depan, extrasensory perception (ESP), pengalaman mistik, perkembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi, dan berbagai macam kajian yang bersifat metafisik.

Dari pemaparan di atas maka dapat dipahami bahwa psikologi transpersonal lebih menitikberatkan pada aspek-aspek spiritual seperti pengalaman batin dari serangkaian tradisi sakral atau transedental dalam diri manusia yaitu kejadian yang tidak diterima oleh akal manusia yang bernuansa supranatural. Maka hal inilah yang membedakan psikologi transpersonal dengan konsep psikologi humanistik yang dipelopori oleh Abraham Maslow. Hakim Tirmidzi salah seorang sufi klasik abad ke-3 Hijriyah menjelaskan bahwa pengalaman spiritual haruslah berdasarkan pada tiga hal, yaitu: pertama, al-haqq: syariat yang terkait dengan ilmu halal dan haram atau disebut fiqh. Kedua, al-‘adl, merujuk pada ilmu hikmah atau tasawuf. Jika pertama berada pada wilayah dzahir, maka al-‘adl berada pada wilayah batin atau disebut pengetahuan hati (‘ilm alqalb). Ketiga, as-sidiq, merujuk pada kerja intelektual yang benar. Ini memiliki karakteristik keseimbangan pikiran terdalam, perkataan, dan perbuatan. Ini berarti transendentalitas pengalaman spiritual adalah pengalaman yang didasarkan pada religiusitas yang menuntut pengamalan syariat dari aspek anggota badan, hati, dan intelektual.

Maka dapat dijelaskan dari uraian di atas, pengalaman spiritual dalam pandangan Islam seharusnya meliputi tiga aspek yaitu aspek pertama terkait antara baik dan buruk berdasarkan syariat Islam, aspek kedua yaitu adanya i’tibar yang bisa diambil hikmahnya dari kejadian pengalaman spiritual tersebut, aspek ketiga yaitu adanya pembenaran dari hati nurani sesuai dengan syariat Islam.

Ayat kursi tidak lain adalah surat Al- Baqarah ayat 255 yang dimulai dengan pemberitahuan yang menyatakan keesaan Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dialah yang hidup kekal abadi, Dialah yang terus menerus mengurus seluruh makhluk-Nya. Ayat kursi juga memiliki keutamaan yang cukup banyak dan luar biasa. Mulai dari kedudukan ayat kursi sebagai pemimpin ayat Al- Qur’an, hingga perlindungan dari jin dan syetan. Dari kedudukan ayat kursi tersebut kita dapat mengetahui betapa banyak keutamaan ayat kursi,dengan izin Allah ayat kursi menjadi do’a perlindungan diri kepada Allah, karena Allah adalah sebaik- baiknya pelindung.

Ayat kursi diyakini sebagai salah satu ayat Al- Qur’an yang dapat digunakan ketika seseorang mengalami gangguan dalam dirinya yang bersifat mistik. Salah satu contoh nyata yaitu saat kita sedang tertidur lelap, terkadang secara tiba- tiba kita merasa tubuh begitu berat serasa tertindih benda- benda berat, mulutpun tidak bisa berbicara, ada kalanya kita melihat makhluk yang begitu besardan mengerikan. Terjadinya hal demikian diyakini bahwa adanya makhluk halus yang sedang mengganggu kita, dengan dibacakannya ayat kursi secara perlahan sesuatu yang terasa berat dari tubuh mulai hilang.

Dalam kajian psikologi transpersonal, konsepnya adalah seseorang yang merasa sangat yakin dan khusyu’ membacakan ayat kursi dan menyadari bahwa dengan dibacakannya ayat kursi syetan yang mengganggu kita akan ketakutan dan perlahan akan hilang, serta merasa bahwa Allah sebaik- baiknya pelindung. Dalam kondisi tersebut, kita telah memasuki konsep psikologi transpersonal karena telah mengalami hal- hal spiritual yang hanya bisa dirasakan oleh kita sendiri yaitu timbulnya rasa kagum terhadap ayat kursi yang telah dijadikan perantara oleh Allah untuk melindungi kita agar terhindar dari gangguan syetan, sehingga kita semakin yakin unuk membacanya agar selalu dilindungi oleh Allah karena Allah sebaik- baiknya pelindung.

Adapun dampak dari pengalaman spiritual tersebut, yang mungkin sebagian dari kita pernah mengalaminya, dapat diungkapkan bahwa terdapat kekaguman dalam diri terhadap ayat- ayat suci Al- Qur’an sehingga terciptanya ketenangan jiwa yang dapat dirasakan ketika membacakan ayat kursi, dapat merasakan bahwa kehadiran Allah, keterlibatan Allah dalam segala aspek kehidupan membuat kita lebih berhati- hati dalam menjalankan hidup.

*Zahratun Naemah (Mahasiswa PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *