Orang yang Berhak Menerima Zakat Disebut?

Orang yang berhak menerima zakat disebut mustahik. Secara bahasa, zakat itu sendiri berarti tumbuh, berkembang dan berkah. Sedangkan secara istilah zakat merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah dengan cara mengeluarkan sejumlah harta tertentu menurut syariat, dari harta-harta tertentu, dilaksanakan pada waktu tertentu, ditujukan pada orang tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu pula. Merujuk pada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menerangkan bahwa zakat merupakan bagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim dengan syarat telah mencapai syarat yang sudah ditetapkan. Allah Swt memerintahkan kewajiban berzakat dalam Q.S. at-Taubah ayat 60, 71 dan 103.

Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dalam ajaran agama Islam, zakat menjadi pondasi atau pilar agama Islam yang ketiga. Zakat itu sendiri terdiri dari berbagai macam diantaranya zakat fitrah, zakat mal, zakat niaga, zakat penghasilan dan lain sebagainya. Adapun dari sekian banyak zakat tersebut, yang kewajibannya paling ditekankan adalah zakat fitrah. Hal ini dikarenakan zakat fitrah tidak mengharuskan setiap orang mencapai nisab dan menunggu haul. Zakat fitrah ditunaikan ketika bulan Ramadhan atau ketika matahari terbenam pada malam idul fitri.

 

Orang Yang Mengeluarkan Zakat Disebut?

Setiap muslim wajib untuk membayar zakat. Orang yang mengeluarkan zakat dalam Islam disebut dengan muzakki. Zakat menjadi pondasi ketiga seorang muslim setelah syahadat dan sholat. Allah Swt mengabadikan perintah untuk mewajibkan umat muslim berzakat dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 110, yang artinya:

“Dan dirikanlah sholat serta tunaikan zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapatkan pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan”.

 

Orang yang Berhak Menerima Zakat disebut dalam al Quran Surat?

Perlu diketahui bahwasanya dalam ajaran agama Islam, zakat tidak bisa diberikan kepada sembarang orang. Allah Swt mengatur beberapa golongan yang berhak menerima zakat. Adapun orang yang berhak menerima zakat disebut dalam Al-Qur’an surat at-Taubah ayat 60. Ayat tersebut menjelaskan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang masuk pada kategori mustahik zakat.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Dari ayat tersebut, maka dapat dikelompokkan menjadi 8 golongan yang berhak menerima zakat. Berikut ini merupakan penjelasan lebih lanjut dari golongan mustahik zakat:

  1. Fakir

Orang-orang fakir merupakan orang yang menjalani hidupnya dengan kesulitan dan kesengsaraan. Mereka yang termasuk golongan ini adalah orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya karena tidak memiliki harta dan tidak memiliki tenaga untuk bekerja. Kategori fakir juga termasuk pada seseorang yang membutuhkan uang Rp 200.000 rupiah untuk mencukupi kebutuhan hariannya, namun hanya mampu mengumpulkan Rp 50.000 per harinya. Oleh karena itu, orang-orang fakir termasuk pada golongan orang yang berhak menerima zakat. Ia berhak menerima zakat untuk membantunya memenuhi kebutuhan sehari-hari.

  1. Al-Masakin (Miskin)

Terdapat perbedaan antara orang miskin dengan orang fakir. Orang yang termasuk dalam golongan miskin adalah orang yang masih memiliki penghasilan dan pekerjaan tetap, namun dalam keadaan serba kekurangan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dalam Islam, orang miskin juga masuk dalam salah satu mustahiq zakat yang wajib dibantu agar dapat memenuhi kebutuhannya dengan lebih baik.

  1. Al-amilin atau amil zakat

Al-amilin merupakan orang yang bertugas mengumpulkan serta membagikan zakat kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahiq zakat). Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Al-Amilin juga termasuk sebagai mustahiq zakat, sehingga dengan demikian ia berhak menerima pembagian zakat yang sebelumnya telah dipilih terlebih dahulu oleh imam masjid.

Adapun al-amilin itu sendiri memiliki beberapa syarat agar terpilih sebagai badan amil zakat. Diantara syarat-syarat tersebut antara lain adalah merdeka (tercukupi), adil, akil dan baligh, seorang muslim, mampu melihat, seorang laki-laki dan mengerti tentang dasar hukum agama Islam terutama mengenai zakat khususnya.

  1. Mualaf

Mualaf dalam hal ini merujuk pada orang yang baru bersyahadah masuk Islam dan secara keimanan dan takwa belum memiliki kemantapan yang maksimal. Adapun mualaf itu sendiri terbagi atas beberapa bagian. Yakni antara lain, pertama orang yang masuk Islam namun hatinya masih bimbang. Maka dengan demikian ia harus sering-sering diajak ke majelis pengajian, diberikan saran, masukan, serta nasehat-nasehat yang menyejukkan jiwa. Menjadikan mualaf sebagai penerima zakat juga termasuk pada upaya untuk menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lil alamin. Yakni Islam yang ajarannya selalu damai dan menyejukkan serta peduli terhadap sesama. Dengan mengenalkan Islam yang demikian maka dapat menghilangkan keraguan dan kebimbangan hatinya. Kedua, ada pula orang yang secara sadar masuk Islam dengan tujuan agar bisa menerima zakat. Dalam hal ini ia perlu bersungguh-sungguh dalam belajar dan menjauhi larangan. Dan yang ketiga adalah mualaf yang adil dan masih memerlukan bimbingan.

  1. Dzur riqab

Dzur riqab dapat diartikan sebagai hamba sahaya atau budak. Dzur riqab berhak menerima zakat, karena dengan zakat tersebut diharapkan mampu membantunya untuk memerdekakan diri dan menebus uang. Zakat bagi Dzur riqab juga mencakup pembebasan seorang muslim yang ditawan oleh orang-orang jahat, atau membebaskan seorang muslim dari penjara karena tidak mampu membayar denda.

  1. Algharim (orang yang dililit utang)

Algharim merujuk pada orang yang berutang dan tidak sanggup untuk membayar. Karena membayar utang merupakan hal yang wajib bagi mereka yang berutang untuk segera melunasinya. Namun dalam hal ini perlu diingat bahwa Algharim yang berhak menerima zakat adalah mereka yang berutang untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk kebutuhan maksiat.

Hal ini sesuai dengan apa yang disampakain oleh Nabi Muhamamd Saw dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud bahwasanya zakat tidak halal bila diberikan kepada orang kaya, kecuali lima sebab yakni yang berperang di jalan Allah, pengurus sedekah, orang yang berutang atau yang membeli sedekah dengan hartanya, atau orang kaya yang mendapat hadiah dari orang miskin dari hasil sedekah.

  1. Al-mujahidin Fisabilillahi (orang yang berjuang di jalan Allah)

Al-mujahidin Fisabilillahi merupakan orang yang berjuang di jalan Allah (sabilillah), tanpa upah dan imbalan demi membela dan mempertahankan Islam dan kaum muslimin untuk mendapatkan hak beribadah, hak asasi manusia serta memperjuangkan kebebasan beribadah bagi seluruh umat muslim. Mereka kaum Al-mujahidin Fisabilillahi berhak menerima zakat karena seluruh hidupnya sudah didedikasikan untuk kepentingan agama sehingga ia tidak sempat untuk bekerja atau memikirkan keuangan.

  1. Ibnu sabil

Ibnu sabil atau bisa disebut juga musafir yakni orang yang sedang melakukan perjalanan jauh juga berhak untuk menerima zakat. Musafir atau ibnu sabil yang berhak menerima zakat adalah yang melakukan perjalanan jauh untuk menimba ilmu serta mencari ridha Allah Swt.

Demikianlah beberapa golongan yang termasuk pada kategori mustahik zakat. Orang-orang yang berhak menerima zakat hanya tertentu saja. Dengan sampainya zakat pada golongan yang berhak maka tentu saja hal ini mendatangkan kebaikan bagi mereka yang membutuhkan. Agama Islam adalah agama yang baik, setiap ketentuan maupun aturannya, maka dengan demikian kebaikan tentu akan mendatangkan kebaikan bagi manusia serta alam semesta.

Wallahu a’lam bisshawab

 

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *