SELAMAT JALAN SYUHADA NANGGALA-402

Sebelum dimulainya perkuliahan Intelijen Kompetitif di Sekolah Kajian Strategis dan Global, UI (Universitas Indonesia) dosen Mata Kuliah Intelijen Kompetitif, Dr Achmad Sanusi, MSFA, CFRA. mengajak kami berdiskusi mengenai misi KRI Nanggala-402 dan para crew-nya di hari pertama kabar tenggelamnya KRI Nanggala-402 buatan negeri Panser, Jerman.

Salah satu rekan kami yang berasal dari TNI Angkatan Laut menceritakan kesedihannya akan nasib rekan-rekannya yang menjadi crew dari kapal selam yang hilang kontak pada pukul 3.00 setelah menyampaikan ijin menyelam pada kedalaman 13 meter (21/4/2021). Sambil menitikkan air mata, dia meminta doa kepada teman teman sekelas, berharap semoga Allah memberikan keselamatan dan mengumpulkan kembali mereka bersama keluarga tercinta.

Suasana kelas seketika haru. Semua terdiam. Membayangkan 53 putra-putra terbaik bangsa yang dikomandoi oleh Letkol Laut (P) Heri Oktavian dan 3 personel Arsenal bersama ABK dan crew-nya yang melakukan latihan penembakan senjata strategis TNI AL 2021 yakni latihan tembak torpedo kepala perang di laut Bali.

Pasca hilang kontak (21/4) sejak 03.46 WITA hingga 04.46 WITA, saat jadwal penembakan, pemanggilan terus dilakukan kepada KRI Nanggala-402 tapi tidak ada respons sama sekali bahkan Periskop Nanggala-402 tidak terlihat di samping komunikasi juga tidak bisa terjalin sehingga TNI AL menerbangkan Helikopter untuk melakukan deteksi visual KRI Nanggala-402 namun hasilnya nihil.

Pencarian besar-besaran pada Nanggala-402 pun dilakukan, sebanyak 21 KRI telah dikerahkan ke lokasi hilang kontak. Bahkan kapal selam baru yang dibuat oleh PT PAL Indonesia, KRI Alugoro-405 juga turut dikerahkan, disamping pencarian juga dibantu oleh aset-aset negara-negara sahabat; MV Swift Rescue milik Angkatan Laut Singapura (RSN), Australia mengerahkan dua armada kapalnya yakni HMAS Ballarat (FFH 155) dan HMAS Sirius (O 266). Ada pula satu kapal dari India yang turut membantu, dan terakhir adalah Poseidon Submarine, kapal selam mutakhir milik Amerika Serikat.

Di hari keempat pencarian KRI Nanggala-402, kabar memilukan disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono yang mengatakan bahwa KRI Nanggala-402 sudah ditemukan oleh KRI Rigel yang menggunakan multibeam echo sounder disekitar pencarian kedalaman 800 meter dengan kondisi terbelah tiga bagian dan semua awak yang berada di manifest kapal tersebut telah gugur.

Membayangkan perwira-perwira muda yang ditunggu oleh anak, istri, ayah, ibu, atau keluarga mereka ternyata telah gugur dalam misi mulia; melakukan latihan untuk menjaga kedaulatan maritim negeri pertiwi ini membuat hati remuk redam. Namun, saya mencoba berimajenasi bahwa mungkin di seberang sana ada sebuah pelabuhan yang menanti mereka.

Kapal itu berlabuh sempurna dan para perwira itu turun dengan hati bahagia. Di belakang pelabuhan itu ada sebuah kota dan para penduduk menyambut suka cita. Tak ada rasa sesak lagi di sana. Tak ada rasa sakit. Tak ada duka. Tak ada sesal pula. Sesampai di dermaga, dengan pelan para perwira itu berbisik, “Tuhan, jagalah mereka yang aku cintai di seberang lautan sana! Anakku, istriku, ayah ibuku, dan handai taulanku. Karea Engkau adalah sebaik-baiknya Penjaga, Ya Rahman ya Rahim! Sungguh cintamu lebih besar dari apapun di dunia ini dan ijinkanlah mereka kembali keharibaan-Mu dengan damai dan bahagia.”

Ya ibu Puji Susanti tidak keliru, orang yang gugur dalam bertugas pada negara insyaallah syahid. Maka mereka sebenar-benarnya telah “pulang”. “Pulang” sebagai syuhada di bulan suci ini kepada pemilik cinta yang cintanya tak tertanggungkan.

Syahidnya para prajurit itu selain dalam rangka membela negara juga karena tenggelam. Sebagaimana hadis Nabi: Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan pahala kepadanya sesuai dengan niatnya. Apa yang kalian ketahui tentang mati Syahid?!” Mereka berkata, “Berperang di jalan Allah yang Maha Perkasa” Rasulullah Saw bersabda: “Mati syahid ada tujuh macam selain berperang di jalan Allah Maha Perkasa: Orang yang mati karena wabah pes adalah syahid, orang yang mati karena sakit (dalam) perut (nya) adalah syahid, orang yang mati tenggelam adalah syahid, orang yang mati tertimpa benda keras adalah syahid, orang yang mati karena penyakit lepra adalah syahid, orang yang mati terbakar adalah syahid dan seorang wanita yang mati karena hamil adalah syahidah” (HR. Abu Dawud).

Berdasarkan hadis diatas, para fuqaha di antaranya Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Wahbah Zuhaili menyebut ada tiga jenis mati syahid. Pertama, mati syahid di dunia, namun bukan di akhirat. Artinya, seseorang mati di medan perang untuk mendapatkan dunia bukan untuk menegakkan agama Allah SWT. Kedua, mati syahid yang tidak dihitung di dunia tetapi di akhirat. Keadaan ini dicontohkan dengan mati karena tenggelam, kejatuhan benda yang rubuh, dan mati karena kecelakaan (tertabrak).

Kalau menurut hadis diatas para crew Nanggala-402 inshallah masuk pada kategori gugur karena tenggelam yang artinya mereka beroleh kesyahidan akhirat. Akhirnya tidak ada yang pantas untuk kita lakukan selain ikhlas dan tabah sampai akhir! Walau hati sedih, walau air mata mengalir, walau lisan menangis namun hati hendaklah selalu mengucapkan apa yang membuat Allah ridha. Selamat Jalan para Syuhada Nanggala-402, kembalilah kepangkuanNya dengan bahagia karena sesungguhnya Tuhan mencintai kalian melebihi yang kalian perlu! *

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *