Nabi Tak Punya Kebiasaan Mengkafirkan Orang Lain

Oleh: Ali Adhim

Kehidupan di era revolusi industri 4.0 dengan segala dinamikanya, ternyatan tidak sebanding dengan menyurutnya perkembangan kelompok atau individu yang dengan mudah mengkafirkan orang lain, ada apa dengan fenomena ini? fenomena ini setidaknya perlu adanya kajian mendalam, sebab bagaimanapun juga vonis kekafiran memberi dampak yang cukup serius bagi individu atau kelompok yang tervonis.

Dari segi bahasa, kafir mengandung arti: menutupi. Malam disebut “kafir” karena ia menutupi siang atau menutupi atau menutupi benda-benda dengan kegelapannya. Awan juga disebut “kafir” karena ia menutupi matahari. Demikian pula petani yang terkadang juga disebut “kafir” karena ia menutupi benih dengan tanah.[1]

Secara istilahi (terminologi islam), para ulama tidak sepakat dalam menetapkan batasan kafir sebagaimana berbeda pendapat dengan batasan iman. Kalau iman diartikan “pembenaran” (al-tasdiq) terhadap Rasulullah SAW. berikut ajaran-ajaran yang dibawanya, maka kafir diartikan dengan “pendustaan” (altakdhib) terhadap ajaran-ajaran beliau. Inilah batasan yang paling umum dan sering terpakai dalam buku-buku akidah.[2] Dari definisi di atas, kiranya bisa ditarik benang merah bahwa orang kafir ialah orang yang mengingkari ajaran Islam yang seharusnya dia imani.

Bagaimana dengan fenomena takfiri atau mengkafirkan orang lain? Salah satu ciri seorang yang ahli agama dan punya bekal agama yang kuat, ia tidak mudah mengkafirkan serta menyesatkan orang lain. Pendapat itu dikatakan Gus Muwafiq saat berkunjung ke Pesantren Tebuireng.

Mengapa demikian? Sebab Gus Muwafiq punya banyak referensi keagamaan yang memberikan pilihan pendapat-pendapat baru. Kemudian Gus Muwafiq melanjutkan, KH Hasyim Asy’ari itu hafal kutubussittah (6 kitab hadits), sehingga dalam bersikap lebih bijak dan luwes. Rasulullah juga tak mudah mengkafirkan. Kelompok yang mudah mengkafirkan dan menyesatkan kelompok lain bukan umat Nabi. Karena orang Yahudi dan Nasrani masih disebut ahli kitab. Menurut Gus Muwafiq, hal ini termasuk dalam teori sosiologi dari Rasulallah.

Gus Muwafiq mengatakan, ahli agama yang punya keilmuan luas itu seperti ibu rumah tangga yang kreatif dan pintar masak. Ibu rumah tangga tersebut setiap hari memasak makanan yang berbeda dan baru. Sehingga tidak membosankan dan kaku. Kemudian Gus Muwafiq melanjutkan, kalau ibu rumah tangga kreatif dan pintar masak pasti enak. Tidak membosankan. Tapi perempuan sekarang kurang peka. Semua diambil alih mesin. Istri jarang nyuci baju suami. Sehingga istri sekarang kurang faham suaminya. Jarang mencium bau keringat suaminya. Sama seperti orang yang belajar agama ke google.

Menurut Gus Muwafiq, kebanyakan orang Indonesia sekarang ingin belajar ke Rasulallah langsung. Tapi tidak melalui jalur ulama. Akhirnya karena jarak zaman dan keilmuan yang jauh antara umat sekarang dengan Rasulullah, maka bukan pencerahan agama yang mereka dapat tapi malah jadi lebay dalam beragama.

Mungkin, hal ini dikarenakan banyaknya ustadz-ustadz bermunculan yang mudah mengkafir-kafirkan, sebagaimana syiir yang dikarang oleh Gus Nizar, “Seneng Ngafirke Marang Liyane.” Mengetahui fenomena seperti sekarang ini, Gus Muwafiq mengatakan bahwa kita ini generasinya para ulama, makanya jangan paksakan untuk berlagak seperti sahabat. Tidak sampai akal kita.

Ia menambahkan, salah satu sifat Nabi Muhammad yaitu Al-Amin (jujur). Hal ini membuat ia mudah diterima dalam berbagai lapisan masyarakat. Padahal saat Rasulullah diutus, ia harus berhadapan dengan kekuatan kaum Yahudi, Nasrani dan Arab yang sudah mapan.

Yahudi punya Taurat sehingga hidupnya umatnya sudah tertata. Sedangkan orang Arab ahli bahasa dan syair. Sementara itu, Rasulallah tidak bisa baca tulis. Orang Nasrani juga banyak menjadi orang kaya dan terpandang, dan Nabi berhasil mengalahkan semua golongan dan Islam pun jaya.[3]

[1] Harifuddin Cawidu, Konsep Kufr dalam Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hlm, 7. Lihat, Raghib Asfahani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, edisi M.S. Kaylani (Mesir: Mustafa alBabi al-Halabi, t.t.), hlm, 433-435.

[2] Ibid

[3] Syarif Abdurahman, dalam http://www.nu.or.id/post/read/101638/gus-muwafiq-mudah-mengkafirkan-orang-lain-bukan-kebiasaan-nabi, diakses 6 Maret 2019.

Share:

Dawuh Guru

Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.