Modernitas Alazhi dan Kenangan Tentang Muslimah Uyghur

Oleh: Damhuri Muhammad

Di sebuah mini market di kota Paris, seorang perempuan bercadar sedang berbelanja. Setelah mendapatkan barang-barang kebutuhan, ia segera membawa keranjang belanja ke kasir guna membayar. Kebetulan kasir yang dituju adalah perempuan keturunan Arab berbusana modern, dan tidak menutup aurat. Si kasir menatap perempuan bercadar itu dengan pandangan sinis dan terasa melecehkan. Tak lama berselang, ia mulai menghitung nilai barang-barang belanjaan si perempuan bercadar, lantas melemparkannya secara kasar ke atas meja.

Namun, perempuan bercadar tak terpengaruh oleh provokasi kasir. Ia tetap tenang, bahkan tampak begitu tenang, hingga si kasir semakin geram dan tak dapat lagi menguasai dirinya. “Kita punya banyak masalah di Prancis dan cadar kamu itu salah satu masalahnya. Di sini kita berbisnis, bukan untuk pamer agama maupun sejarah. Kalau kamu mau menjalani agama atau mengenakan cadar, pulanglah ke sana, ke negerimu dan jalani agamamu sesukamu!”

Seketika perempuan bercadar berhenti memasukkan barang belanjaannya ke dalam keranjang. Lekas ia membuka cadar, lalu dengan tajam memandang si kasir. Raut muka di balik cadar itu ternyata wajah perempuan kulit putih dengan sepasang mata yang  biru. Tegas ia  berkata; “Aku perempuan Prancis tulen. Begitu pula ibu-bapak dan kakekku. Ini Islamku, dan ini negeriku. Kalian telah menjual agama kalian, dan kami membelinya…”

Kisah ringkas ini saya peroleh dari sejawat-sejawat di linimasa media sosial, utamanya mereka yang gemar berdiskusi tentang kebebasan beragama, toleransi, dan pluralisme.  Kasir cantik yang sudah terlanjur menepuk air di dulang–basah muka sendiri¾segera mengingatkan saya pada petaka dan nestapa seorang perempuan, dalam novel Alazhi Perawan Xinjiang (2012) karya Nuthayla Anwar. Alazhi, demikian pengarang menamainya. Muslimah etnis Uyghur, kota Kashgar, provinsi XinJiang, Cina. Betapa tidak? Begitu terkelupas dari kekolotan, alih-alih modernitas membebaskannya, justru berbalik menjadi tirani dalam hidupnya. Sebagaimana Gulina dan Aisah–dua adik perempuan Alazhi–yang lebih dahulu menerabas adat khas Uyghur, Alazhi terombang-ambing dalam bimbang; kembali ke pangkuan Ana (ibu) dan Dada (ayah) di Kashgar atau bertahan dalam hingar-bingar gaya hidup metropolitan kota besar Guangzhou, yang jangankan membuat ia makin terhormat, malah menyebabkan ia terpelanting sebagai pribadi yang hina-dina.

Selepas keberangkatan Gulina  dan Aisha ke Guangzhou, dengan segenap tipu-daya di malam buta, Alazhi sudah melihat betapa terlukanya ibunya, betapa merasa gagalnya Damullah Musha (ayahnya)–bukan saja sebagai ulama panutan umat, tapi juga sebagai ayah yang selayaknya tidak membuat anak-anak perempuannya merasa ditindas oleh berbagai aturan dan norma-norma kolot keluarga. Namun, demi “menjadi modern” putri sulung Hanipa-Musha, Alazhi, sekali lagi melanggar pantang, menerabas tabu; lari dari rumah, menuju Guangzhou, dengan segenap impian besar yang menantinya. Tapi setelah beralih-rupa menjadi Lian Ting (nama Mandarin Alazhi), membuka kerudung, mengenakan rok mini, dan segenap atribut perempuan modern, Alazhi tak sungguh bisa bertelanjang. Semoderen-moderennya manajer restoran itu, identitas, cara berpikir, bahkan cara berjalannya tetap saja khas Alazhi, muslimah Kashgar yang tumbuh besar di bawah asuhan Ana dan Dada. Tak ada yang sungguh berubah dari Gulina, Aisha, apalagi Alazhi, selain busana.  Apalah arti busana modern dan segala rupa gaya hidup kota besar, bila saban hari yang terbayang di benak Alazhi dan adik-adiknya adalah kenangan bersama keluarga. Setiap detak perubahan yang mereka tempuh, tetap saja parameternya adalah alam kultural yang secara turun temurun telah membesarkan mereka.

Banyak yang berteori bahwa penetrasi atau bahkan “genosida kebudayaan” sebagaimana dialami oleh peradaban Islam Andalusia (Spanyol) abad pertengahan, dapat meniadakan sebuah konstruksi kebudayaan hingga ke akar-akarnya. Namun, dalam kerja kesusastraan, teori itu tampaknya tidak bekerja. Mata sastra melihat kebudayaan sebagai jejak-jejak pikiran yang dari kurun ke kurun telah menjadi pakaian dalam keseharian, bukan sebagai produk-produk yang bisa dijual, dimodifikasi, apalagi diproduksi secara massif. Bagaimana cara menghancurkan pikiran yang telah mengejawantah dalam laku dan tabiat keseharian? Sastrawan Mesir, Radwa Ashour, dalam Tsulatsiyah Gharnathah (2003) memetakannnya secara utuh. Koleksi kitab di perpustakaan Granada boleh saja dibakar, sekolah-sekolah muslim Spanyol bolehlah dirobohkan, bahkan ratusan masjid disulap menjadi katedral, namun pikiran yang telah menjadi tarekat dalam hidup mereka tak bisa dimusnahkan. Granada dengan segenap jejak kejayaan pikiran tetap bertahan dalam memori kolektif, terus menggeliat, dan menyebarluaskan pengaruhnya di dunia. Ini pula yang terjadi pada kearifan lokal etnis Uyghur. Betapapun orang-orang dari etnis Han bersiasat guna membersihkan mereka dari Xinjiang, sekali lagi, pikiran tak bisa ditaklukkan oleh senjata.

Maka, tengoklah para jamaah pangajian Damulah Musha, yang digambarkan penulis, begitu tenang menyambut berbagai propaganda murahan, intrik-intrik politik, penguasaan lapangan pekerjaan hingga kuasa tertinggi. Tengoklah pula betapa dalamnya rasa bersalahnya Hanipa pada suami yang sangat dihormatinya, setelah ia membiarkan Alazhi berangkat ke Urumqi tanpa pengawasan sama sekali, lebih berdosa lagi ketika ternyata kepergian putri sulungnya itu bukan sesaat, melainkan untuk selama-lamanya. Bandingkan dengan penyesalan Nenek Melon, yang  sangat dicintai suaminya. Rela laki-laki itu meninggalkan pekerjaannya di Nanjing, demi Wu Mingzhu (nama Mandarin nenek Melon) yang tinggal di Kashgar sebagai peneliti. Bertahun-tahun ia mengurus Wu, memasak, mencuci baju, menyiapkan segala keperluannya. Namun, di ujung riwayatnya, laki-laki itu pamit pulang ke Nanjing lantaran kanker yang dideritanya. Berkali-kali ia berkabar perihal sakit pada Wu, istri tercintanya, tapi Wu tak kunjung datang menjenguknya, hingga suatu pagi Wu menerima kabar kematiannya. Peristiwa ini menjadi penyesalan si Nenek Melon seumur-umur. Lalu mana yang lebih manusiawi sesungguhnya? Hanipa yang lantaran rasa hormatnya pada Musha bahkan hampir memberhalakan lelaki itu, dan ia mengaku bahagia, atau si Nenek Melon, sahabat tua Alazhi, yang konon telah meraih kebebasan sebagai perempuan, tapi dilanda penyesalan seumur hidup? Mana yang lebih modern? Hanipa atau Wu Mingzhu?

Dari novel setebal 438 halaman itu, saya dapat menyelami  sebesar apa sebenarnya kebencian terhadap komunitas muslim Uyghur yang akhirnya memuncak dalam kerusuhan Juli 2009, sebagaimana telah menggemparkan masyarakat muslim dunia. Di sana saya temukan pula karakter kuat Ishmaili, pemilik Xinyue Moslem Restaurant, orang asli Uyghur tapi menggunakan nama mandarin; Wang. Di satu sisi Wang benci setengah mati pada tatanan kultural Xinjiang yang membesarkannya, namun di sisi lain, ia tetap mempertahankan restoran miliknya sebagai restoran muslim Xinjiang. Kemunafikan dan kebencian yang membuat Alazhi semakin merasa berdosa pada tanah kelahirannya. Betapa tidak? Wang disebut-sebut sebagai salah satu donatur yang membiayai propaganda-propaganda penggusuran rumah milik keluarga muslim Kashgar. Ia bekerja untuk Wang, sementara juragannya itu membiayai operasi penindasan terhadap keluarga dan saudara-saudaranya  di kampung halaman.

Huru-hara antara etnis Muslim Uyghur dan etnis pendatang Han akhirnya merenggut nyawa  Upur Rahman, sahabat karib Damullah Musha, orang yang sangat dihormati Alazhi. Juga Mammet Hassan, laki-laki yang pernah melamar Alazhi, namun ia menolak, hingga akhirnya ia mempersunting Gulimaina, saudara sepupu Alazhi. Konon, Mammet memilih Guli, karena gadis itu mirip dengan Alazhi. Dan, yang paling membuat Alazhi menyesal adalah kematian ayahnya, yang hanya bisa ia dengar kabarnya dari Guangzhou. Ana sampai memohon-mohon meminta kepulangannya saat Musha sakit keras, namun Alazhi tak kunjung tiba. Maka, di sepanjang usia, perawan Xinjiang itu bakal karam dalam penyesalan, sebagaimana penyesalan laten yang dialami Nenek Melon, yang konon telah menjadi perempuan “bebas” dan “modern” itu. Gulina, Aisha, dan Alazhi barangkali memang sudah terbebas dari perangkap kekolotan, dan terlahir sebagai manusia-manusia baru di negeri orang, namun kerinduan pada ibu dan ayah yang sudah terluka, rasanya akan menjelma darah di setiap pembuluh dalam tubuh mereka…

 

Damhuri Muhammad

Kolumnis

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *